MANCHESTER, UNHAS.TV - Manchester United kembali gagal memaksimalkan peluang meraih poin penuh di Liga Inggris. Bermain imbang 2-2 melawan Burnley di Turf Moor, United melanjutkan tren buruk dengan kembali kehilangan poin melawan tim papan bawah.
Hasil ini membuat tekanan terhadap manajer sementara Darren Fletcher yang menggantikan Ruben Amorim kian menguat. Sementara suporter secara terbuka menyerukan kembalinya Ole Gunnar Solskjaer.
Laga di Turf Moor menjadi malam yang tidak ramah bagi United. Kurang dari sepuluh menit pertandingan berjalan, dari tribun tamu terdengar nyanyian “Oh What A Night” yang diubah liriknya menjadi seruan nama Solskjaer.
Chant itu menggema sepanjang laga, mencerminkan kerinduan suporter terhadap stabilitas yang tak kunjung hadir sejak kepergian Ruben Amorim.
Hasil imbang ini menandai pertandingan ketiga beruntun United gagal menang melawan tim yang berada di zona lima terbawah klasemen.
Bagi Burnley, ini baru kali ketujuh mereka terhindar dari kekalahan sepanjang musim. Bagi United, sebaliknya, mereka kembali berperan sebagai “dermawan” bagi klub yang sedang berjuang keluar dari papan bawah.
Kegagalan meraih tiga poin terasa semakin menyakitkan karena pada malam yang sama Chelsea tumbang dari Fulham. Alih-alih memangkas jarak, United justru disalip Brentford dan terlempar ke posisi keenam klasemen.
Di kursi direktur, Chief Executive United Omar Berrada dan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox menyaksikan langsung laga ini, dengan sorot kamera berkali-kali menangkap ekspresi muram keduanya.
Fletcher, yang melanjutkan warisan tak populer Amorim, kembali disorot karena sejumlah keputusan taktis. Ia tidak sepenuhnya meninggalkan skema 3-4-2-1, dengan United bertahan menggunakan tiga bek namun membangun serangan dengan empat bek.
Fleksibilitas itu sempat memberi harapan, tetapi tak cukup mencegah United kembali kebobolan lebih dulu, untuk kedua laga beruntun.
Burnley membuka keunggulan pada menit ke-13 lewat gol bunuh diri Ayden Heaven. Berusaha memotong umpan silang Bashir Humphreys, Heaven salah mengatur posisi tubuhnya sehingga bola justru melambung masuk ke pojok jauh gawang.

Statistik pertandingan Burnley vs Manchester United
Di pinggir lapangan, Fletcher berdiri terpaku, sementara asisten pelatih Travis Binnion tampak memberi bisikan singkat kepada sang pemain muda. Di tribun direktur, Berrada dan Wilcox terlihat menunduk, menyembunyikan wajah di balik mantel musim dingin.
United baru mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-24 melalui sundulan Benjamin Sesko yang dengan mudah diamankan kiper Burnley, Martin Dubravka. Momen itu memicu periode dominasi selama hampir 20 menit.
Bruno Fernandes, yang kembali setelah absen lebih dari dua pekan, mengirim tendangan bebas cerdik ke tiang jauh. Casemiro menyambut dengan sundulan, bola disambar Matheus Cunha, namun Humphreys melakukan sapuan krusial di garis gawang.
Gol Lisandro Martinez dari situasi sepak pojok dianulir wasit Stuart Attwell. Martinez dinilai melanggar Kyle Walker di tengah kemelut.
Walker terjatuh meski kontak terlihat minimal, namun Premier League Match Centre kemudian menegaskan keputusan itu sebagai “pelanggaran yang jelas”.
Menjelang jeda, United terus menekan. Sesko tampak frustrasi ketika tembakannya melemah dari umpan terobosan Patrick Dorgu.
Namun beberapa menit berselang, ia lebih sigap menyambut umpan silang Casemiro yang memaksa Dubravka melakukan penyelamatan gemilang.
Dorgu sendiri hampir menyamakan skor, tetapi sepakan lob-nya disapu secara spektakuler oleh Maxime Esteve tepat di garis gawang.
Dominasi United akhirnya berbuah pada menit ke-50. Fernandes mengirim umpan terobosan tajam yang diselesaikan Sesko dengan dingin, mengakhiri paceklik gol sembilan pertandingan.
Lima menit kemudian, Fernandes hampir membawa United unggul setelah menerima umpan terukur dari Martinez, namun setengah volinya menghantam tiang.
Gol kedua United terasa tak terelakkan dan benar-benar datang melalui Sesko. Menerima umpan silang presisi dari Dorgu, penyerang yang dibeli dengan nilai £73,62 juta itu melepaskan voli akrobatik yang tak mampu dibendung Dubravka. Namun keunggulan itu bertahan singkat.
Burnley menyamakan kedudukan pada menit ke-66 lewat Jaidon Anthony, yang masuk sebagai pemain pengganti. Tendangannya dari luar kotak penalti meluncur keras dan akurat, bahkan dinilai sebagian pengamat lebih impresif daripada gol kedua Sesko.
Keputusan Fletcher mengganti Fernandes pada menit ke-60 terbukti mahal. Hanya lima menit setelah sang kapten keluar, Burnley mencetak gol penyeimbang melalui tembakan pertama mereka yang tepat sasaran di babak kedua.
Fletcher juga menuai perhatian karena menurunkan Shea Lacey, bukan putranya Jack Fletcher, pada pergantian terakhir. Ironisnya, semenit kemudian Lacey hampir menjadi pahlawan ketika sepakan kirinya menghantam mistar gawang.
Di luar lapangan, ketidakpuasan suporter juga diarahkan kepada pemilik minoritas Sir Jim Ratcliffe. Sebuah spanduk bertuliskan “Jim can’t fix this” dibentangkan di sektor tamu.
Dalam kontestasi popularitas yang dipantik manajemen Ineos, nama Solskjaer terdengar paling nyaring, disusul Michael Carrick, dan terakhir Fletcher—meski nyanyian “Darren Fletcher, football genius” terdengar lebih sarkastik daripada pujian.
Hasil imbang ini menambah daftar pekerjaan rumah United. Dengan performa yang tak kunjung stabil dan suara-suara ketidakpercayaan dari tribun, masa depan Fletcher tampak semakin singkat. Sementara itu, bayang-bayang Solskjaer kian besar, menggema dari Turf Moor hingga Old Trafford. (*)
Pelatih sementara Manchester United (MU) Darren Fletcher berjalan bersama Lisandro Martinez usai MU ditahan Burnley 2-2, Rabu (7/1/2026) malam. (the sun)








