SIDRAP,UNHAS.TV- Kelurahan Lancirang di Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang, yang selama ini dikenal sebagai wilayah religius dengan denyut kehidupan masyarakat yang berpusat di masjid dan sekolah dasar, menjadi ruang tumbuh sebuah ikhtiar kecil yang menyentuh akar pendidikan dan keagamaan.
Melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin, mahasiswa Program Studi Sastra Arab menghadirkan bahasa Arab bukan sebagai teks yang jauh, melainkan sebagai bahasa hidup yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Program bertajuk Arabic Fun Learning dan pelabelan kosakata bahasa Arab di masjid digagas oleh Nurul Aprilia dengan pendampingan DPK Dr. Hasan Basri, S.KM., serta didukung rekan satu posko KKN, yakni Fauzan, Naura, Ulfa, Angel, dan Annur.
.webp)
Mahasiswa KKN Tematik Inovasi Daerah Gelombang 115 Program Studi Sastra Arab Universitas Hasanuddin berfoto bersama siswa sekolah dasar di Kelurahan Lancirang usai pelaksanaan Arabic Fun Learning, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran bahasa Arab yang ramah, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak-anak.
Inisiatif ini dirancang selaras dengan visi keilmuan Prodi Sastra Arab Universitas Hasanuddin yang dalam beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan pengabdian berbasis literasi bahasa, budaya, dan kemanusiaan, seiring penguatan jejaring akademik nasional dan internasional.
Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap bahasa Arab—baik dalam diplomasi, ekonomi halal, kajian keislaman, migrasi tenaga kerja, hingga hubungan internasional—bahasa Arab tetap menjadi kompetensi strategis yang relevan bagi generasi muda Indonesia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa sekolah dasar di Kelurahan Lancirang belum memperoleh pengenalan bahasa Arab sejak dini, bahkan di sejumlah sekolah bahasa tersebut sama sekali belum pernah diajarkan secara formal.
Menjawab kondisi itu, Arabic Fun Learning diterapkan dengan pendekatan menyenangkan, interaktif, dan berbasis pengalaman langsung, di mana anak-anak diajak mengenal kosakata bahasa Arab melalui benda-benda yang mereka lihat, sentuh, dan gunakan setiap hari.
Pembelajaran yang melibatkan gerak, nyanyian, dan permainan sederhana ini membuat bahasa Arab tidak lagi terasa asing, melainkan hadir sebagai bagian dari dunia anak-anak yang penuh rasa ingin tahu.

Suasana kebersamaan mahasiswa KKN Program Studi Sastra Arab Universitas Hasanuddin bersama siswa Kelurahan Lancirang tergambar dalam sesi pembelajaran interaktif yang menempatkan bahasa Arab sebagai pengalaman belajar yang hangat, inklusif, dan membangun rasa percaya diri anak-anak.
Kegiatan Arabic Fun Learning dilaksanakan di empat sekolah dasar di Kelurahan Lancirang, yakni UPT SDN 1 Lancirang pada 8 Januari, UPT SDN 6 Lancirang pada 9 Januari, MIA 132 Lancirang pada 13 Januari, dan UPT SDN 2 Lancirang pada 20 Januari 2026.
Sejak pertemuan pertama, antusiasme siswa terlihat jelas, terutama ketika mereka untuk pertama kalinya menyadari bahwa tulisan Arab yang selama ini identik dengan Al-Qur’an juga merupakan bahasa yang dapat dipelajari dan digunakan untuk menyebut benda-benda sederhana.
Sebuah momen polos terjadi ketika seorang siswa bertanya apakah tulisan kosakata di papan tulis merupakan bagian dari Al-Qur’an, yang secara jujur memperlihatkan betapa terbatasnya ruang perjumpaan anak-anak dengan bahasa Arab di luar konteks ibadah.
Untuk menjaga suasana belajar tetap cair dan menggembirakan, pembelajaran diselingi permainan Give One Get One serta lagu gerak mengenal nama-nama jari dalam bahasa Arab, yang mendorong keberanian dan kepercayaan diri anak-anak.
Seorang siswa mengungkapkan kegembiraannya karena belajar bahasa Arab terasa seperti bermain bersama teman-teman, bukan seperti pelajaran yang menakutkan.
Program ini kemudian diperluas ke lingkungan masjid melalui pelabelan kosakata bahasa Arab dan bahasa Indonesia pada benda-benda di Masjid Annur dan Masjid Babul Rezki pada 17 Januari 2026.
Pintu, jendela, mimbar, sajadah, dan tempat wudu dilabeli dengan kosakata Arab, menjadikan masjid sebagai ruang ibadah yang sekaligus berfungsi sebagai media edukasi yang hidup.
Dukungan para pengurus dan panitia pembangunan masjid menjadi kekuatan tersendiri, karena proses belajar berlangsung secara alami tanpa kesan menggurui.

Senyum dan rasa ingin tahu terpancar dari para siswa sekolah dasar di Kelurahan Lancirang saat bahasa Arab diperkenalkan sebagai bagian dari dunia mereka sendiri melalui pendampingan mahasiswa KKN Program Studi Sastra Arab Universitas Hasanuddin.
Anak-anak membaca label dengan rasa ingin tahu, sementara orang dewasa menyerap pengetahuan baru tanpa merasa sedang diajar di ruang kelas.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses dua arah yang menumbuhkan empati, kesadaran sosial, dan kepekaan budaya.
Kehadiran Prodi Sastra Arab Universitas Hasanuddin di Kelurahan Lancirang tidak hanya mengimplementasikan keilmuan akademik, tetapi juga menjembatani bahasa Arab sebagai sarana pemanusiaan, dialog, dan pembelajaran lintas generasi.
Meski sederhana, Arabic Fun Learning dan pelabelan kosakata di masjid telah menumbuhkan minat belajar, menciptakan suasana edukatif yang ramah, serta membuka jalan agar bahasa Arab hadir lebih dekat dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Harapannya, praktik baik ini dapat direplikasi di wilayah lain, sehingga bahasa Arab tidak lagi dipersepsikan sebagai bahasa yang jauh dan sulit, melainkan sebagai bagian dari pengetahuan global yang memperkuat kemanusiaan dan peradaban.(*)
Dari ruang kelas sederhana di Kelurahan Lancirang, mahasiswa KKN Program Studi Sastra Arab Universitas Hasanuddin mengguncang cara pandang lama tentang bahasa Arab dengan menghadirkannya sebagai bahasa hidup yang ceria, inklusif, dan membangkitkan mimpi besar anak-anak menuju dunia global.
-300x225.webp)







