News
Travel

Cairo, Alexandria, dan Peradaban yang Tak Pernah Selesai

Catatan Eka Sastra dari Tepi Nil, Mesir*

Pesawat dari Jakarta menurunkan saya di Cairo setelah perjalanan yang terasa seperti melipat separuh bumi. Sepanjang penerbangan saya membayangkan sebuah kota tua yang anggun dan hening, kota yang ribuan tahun duduk di kursi kehormatan sejarah dunia.

Orang Mesir sendiri menyebut negerinya Ummu ad-Dunya, ibu dari dunia. Saya kira, seorang ibu tentu tenang. Bayangan itu hanya bertahan sampai pintu bandara.

Cairo menyambut saya dengan klakson. Bukan satu, bukan dua, melainkan paduan suara yang tak pernah selesai. Mobil-mobil merapat nyaris tanpa jarak, saling memotong, saling menyalip, berebut sejengkal aspal. 

Di beberapa persimpangan, garis antara keteraturan dan kekacauan seperti sudah lama dihapus. Klakson di sini bukan tanda marah. Ia adalah bahasa: sapaan, peringatan, tawar-menawar, kadang sekadar cara mengatakan, “Saya ada.”

Rahmat, mahasiswa pascasarjana Al-Azhar dan anggota PPI Mesir yang menjemput saya, hanya tersenyum melihat wajah saya. “Biasa, Pak. Begini Cairo,” katanya ringan. Kemacetan, klakson, kendaraan yang saling menyelip, bahkan adu mulut kecil di jalan. Semuanya bagian dari napas kota ini.

Belakangan saya sadar, mungkin itulah pelajaran pertama yang Cairo berikan kepada setiap pendatang: jangan terburu-buru menghakimi sesuatu dari permukaannya. Kota ini tidak meminta dipahami dalam satu pandang. Ia meminta kita tinggal sebentar lebih lama.

Nil yang Tenang

Kontras itu baru terasa utuh ketika saya tiba di tepi Sungai Nil. Cairo boleh riuh. Nil tidak ikut-ikutan. Ia mengalir dengan iramanya sendiri, seperti orang tua yang sudah terlalu banyak melihat untuk bisa dibuat terkejut.

Lampu-lampu kota jatuh ke permukaan air dan pecah menjadi ribuan kepingan cahaya. Perahu-perahu bergerak perlahan, seolah tak peduli pada jutaan manusia yang bergegas di sekelilingnya.



Di hadapan sungai itu, saya mengerti mengapa Herodotus, lebih dari dua ribu tahun lalu, menyebut Mesir sebagai hadiah dari Nil. Dari airnya tumbuh ladang, lalu kota, lalu pasar, lalu negara, lalu salah satu peradaban tertua yang pernah dibangun manusia.

Dinasti berganti. Kekuasaan datang dan pergi. Nil tetap mengalir.

Perasaan tentang panjangnya waktu itu makin menekan dada ketika saya berdiri di Giza. Piramida yang selama ini hanya saya kenal dari buku pelajaran dan lembar foto tiba-tiba menjulang di depan mata—lebih besar daripada semua gambar yang pernah saya lihat, lebih sunyi daripada semua cerita yang pernah saya dengar.

Saya tak lagi memandangnya sekadar sebagai keajaiban arsitektur. Saya melihatnya sebagai kisah tentang manusia, dan tentang kekuasaan.

Rupanya manusia sejak dulu menyimpan kerinduan yang sama: tidak ingin dilupakan. Para Firaun menumpuk batu demi batu untuk menantang kematian. Tetapi pada akhirnya mereka pun pergi. Yang tinggal hanyalah batu-batunya, diam, dikelilingi turis yang sibuk berswafoto.

Di situlah Giza menyodorkan sebuah paradoks yang sulit saya lupakan: monumen yang dibangun untuk memamerkan kebesaran kekuasaan justru menjadi pengingat paling abadi betapa sementaranya kekuasaan itu. Batu yang ingin menahan waktu, pada akhirnya, hanya berhasil mengajarkan kita tentang waktu.

Alexandria dan Laut yang Membuka Dunia

Dari Cairo, perjalanan membawa saya ke utara, ke Alexandria. Udaranya berubah. Jika Cairo terasa seperti kota yang terus bertumpuk di atas dirinya sendiri—lapis demi lapis, zaman demi zaman—maka Alexandria justru membuka dada ke arah Mediterania. Laut membuat kota ini bernapas lebih lega.



Alexandria pernah menjadi salah satu mercusuar intelektual dunia kuno, secara harfiah maupun kiasan. Kapal-kapal dan manusia datang dari segala penjuru Mediterania, membawa barang dagangan, bahasa, agama, dan gagasan. Tetapi jujur saja, kenangan paling lekat yang saya bawa dari Alexandria jauh lebih sederhana dari semua itu: saya makan ikan.

Kami singgah di Kadoura. Ikan dan hasil laut tersaji di meja, masih mengepul, beraroma bakaran dan garam. Setelah perjalanan panjang, ada kebahagiaan yang sukar diterjemahkan ke dalam kata-kata: duduk, makan tanpa terburu-buru, dan menikmati kota asing bersama orang-orang yang menemani perjalanan.

Barangkali memang begitu cara sebuah kota yang asing perlahan berubah menjadi akrab—lewat meja makan, lewat suapan yang tidak tergesa, lewat tawa yang tidak perlu diterjemahkan.

Di tengah suapan itulah mata saya tertumbuk pada sebuah sudut yang mengingatkan saya pada Ketika Cinta Bertasbih. Saya tersenyum sendiri. Tiba-tiba Alexandria terasa begitu dekat dengan Indonesia.

Bagi para sejarawan, Alexandria adalah Alexander Agung, dunia Helenistik, mercusuar Pharos, dan perpustakaan legendaris yang terbakar dalam ingatan dunia. Tetapi bagi banyak orang Indonesia, terutama generasi yang tumbuh bersama novel dan film Ketika Cinta Bertasbih, Alexandria menyimpan kenangan yang lain.

Ia adalah kota mahasiswa. Kota tempat anak-anak muda Indonesia belajar, bekerja paruh waktu, bersahabat, jatuh cinta, menghitung sisa uang di akhir bulan, memasak bersama di dapur sempit, dan diam-diam menangisi rindu pada rumah.

Saya membayangkan mereka datang dari pesantren dan kampung-kampung yang jauh, membawa beberapa potong pakaian, sedikit uang, dan cita-cita yang jauh lebih besar daripada isi koper mereka.

Nama mereka tidak tercatat dalam buku sejarah. Tetapi justru merekalah yang membuat hubungan Indonesia dan Mesir terasa hangat dan manusiawi. Negara membangun hubungan diplomatik. Manusia membangun persaudaraan.

Rahmat dan Mereka yang Pergi Mencari Ilmu

Pikiran itu mengantar saya kembali kepada Rahmat. Anak muda yang tersenyum tenang di tengah kegaduhan bandara Cairo itu, saya sadari kemudian, sedang melanjutkan sebuah perjalanan yang jauh lebih tua dari dirinya.

Selama beberapa generasi, anak-anak muda Nusantara berlayar ke Mesir untuk menuntut ilmu. Jauh sebelum ada pesawat, WhatsApp, dan panggilan video, mereka sudah meninggalkan rumah menuju pusat-pusat ilmu di Timur Tengah.

Perjalanan ditempuh berbulan-bulan, mengarungi samudra yang tak selalu ramah. Sebagian mungkin berangkat tanpa tahu kapan, atau apakah, mereka akan pulang.

Tetapi mereka tetap pergi. Sebab mereka yakin ilmu layak dikejar sejauh apa pun.

Kami di Sulawesi Selatan mengenal semangat itu dengan sangat akrab. Orang Bugis-Makassar menyebutnya sompe’: merantau, meninggalkan kampung bukan untuk melupakannya, melainkan agar suatu hari bisa pulang dengan membawa sesuatu yang lebih berharga. Di Cairo, saya melihat semangat yang sama menyala di mata anak-anak muda Indonesia.

Hari ini, generasi baru melanjutkan jejak itu. Mereka datang membawa laptop dan telepon pintar. Mereka bisa menelepon ibunya setiap malam. Tetapi pertanyaan yang mereka pikul barangkali tak banyak berbeda dengan pertanyaan para pendahulunya: apa yang akan kupelajari di sini, dan apa yang akan kubawa pulang untuk negeriku?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar gelar di belakang nama. Sebab perjalanan mencari ilmu, pada akhirnya, tidak diukur dari seberapa jauh seseorang pergi, melainkan dari seberapa dalam ia berubah ketika pulang. Ilmu yang tidak pulang hanyalah pengetahuan. Ilmu yang pulang menjadi warisan.

Kota Tua dan Kehidupan Sehari-hari

Malam membawa saya masuk ke jantung Islamic Cairo. Menara-menara masjid tua menusuk langit di antara pasar, toko, rumah, dan lorong-lorong sempit yang berkelok seperti kalimat panjang tanpa titik.

Saya jatuh hati pada satu kenyataan sederhana: masa lalu di sini tidak dikurung di balik kaca museum. Di masjid yang usianya ratusan tahun, orang masih bersujud.

Di luar pintunya, pedagang masih berteriak menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian. Aroma roti dan kopi bercampur dengan debu. Hidup terus berdenyut, tidak peduli seberapa tua batu yang dipijaknya.

Dan mungkin, di situlah peradaban sesungguhnya bersemayam. Bukan hanya di istana dan monumen.



Peradaban hidup lewat guru yang sabar mengajar, mahasiswa yang tekun belajar, pedagang yang jujur bekerja, ibu yang menyiapkan makanan sebelum subuh, orang kaya yang mewakafkan hartanya, dan orang-orang biasa yang setiap hari berikhtiar agar esok sedikit lebih baik daripada hari ini.

Kita sering menghafal nama raja. Padahal peradaban dibangun oleh jutaan manusia yang namanya tak pernah masuk buku sejarah.

Kembali kepada Nil

Malam terakhir, saya kembali ke tepi Nil. Cairo masih riuh. Klakson masih bersahut-sahutan. Perahu masih bergerak pelan di atas air yang sama.

Beberapa hari di Mesir terasa seperti berjalan kaki melintasi ribuan tahun: dari piramida ke Alexandria, dari Mediterania ke lorong-lorong Islamic Cairo, dari kisah para Firaun sampai kisah seorang mahasiswa Indonesia bernama Rahmat.

Saya datang mencari peradaban tua. Ternyata yang saya temukan jauh lebih sederhana, dan jauh lebih dalam: manusia.

Manusia membangun piramida karena ingin dikenang. Manusia mengarungi laut untuk berdagang. Manusia meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Manusia jatuh cinta. Manusia merindukan rumah. Dan pada akhirnya, manusia pergi.

Sungai terus mengalir.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Mesir. Kita tidak bisa memilih berapa panjang umur kita. Kita juga tidak bisa menjamin nama kita akan dikenang.

Tetapi selama waktu masih dipinjamkan, kita selalu bisa memilih: apa yang kita bangun, ilmu apa yang kita bagikan, siapa yang kita tolong, dan kebaikan apa yang kita tinggalkan.

Saya teringat lagi hari pertama tiba di Cairo. Klakson, kemacetan, mobil yang saling memotong, dan Rahmat yang tersenyum seolah berkata: beginilah Cairo.

Sekarang saya mulai mengerti. Cairo memang tidak bisa dipahami dari permukaan. Kita harus tinggal sedikit lebih lama, berjalan sedikit lebih jauh, dan menatap wajah-wajah manusia yang hidup di balik sejarahnya.

Peradaban tidak pernah selesai. Ia hanya berpindah tangan—dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu meja makan ke meja makan yang lain, dari satu pertanyaan yang dibawa pergi ke satu jawaban yang dibawa pulang.

Firaun telah pergi. Alexander telah pergi. Para sultan telah pergi. Suatu hari, kita pun akan pergi. Tetapi Nil akan terus mengalir.

Dan mungkin, tugas manusia memang bukan untuk hidup selamanya. Cukuplah kita meninggalkan sesuatu yang baik, sebelum waktu kita ikut mengalir pergi. Bukan monumen yang menantang langit. Cukup jejak yang membuat orang lain, suatu hari nanti, bisa berjalan lebih tegak.


*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Unhas.