UNHAS.TV - Di layar Unhas TV, seorang mahasiswa Teknik Industri menjawab pertanyaan dengan tenang. Kalimatnya tidak meledak-ledak. Ia bicara pelan, runtut, kadang seperti sedang menimbang tiap kata. Namun di balik nada datar itu, ada lintasan yang tidak biasa.
Muhammad Adib Akram Mapparaga Mukhlis, mahasiswa Universitas Hasanuddin yang akrab disapa Adib, menempuh kuliah sarjana hanya dalam tiga tahun empat bulan.
Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,9. Saat toga sarjana belum lama dikenakan, sebagian kelas magisternya justru sudah ia jalani lebih dulu.
Di kampus, jalur semacam itu disebut fast track. Di Fakultas Teknik Unhas, Adib menjadi orang pertama yang menapaki rute percepatan dari S1 ke S2. Ia masuk kelas magister ketika statusnya secara administratif masih mahasiswa sarjana.
Semester tujuh di jenjang S1 berubah menjadi pintu masuk ke ruang akademik yang lebih sunyi, lebih mandiri, dan lebih dekat ke riset. Bagi sebagian mahasiswa, itu mungkin terdengar nekat. Bagi Adib, itu terlihat seperti kelanjutan dari kebiasaan lama yakni mengambil kesempatan sebelum pintu tertutup.
Pilihan itu tidak datang tiba-tiba. Minatnya pada dunia teknik muncul jauh sebelum ia mengenal bangku kuliah. Ia mengaku sudah tertarik sejak SMP dan SMA. Mula-mula ia melirik teknik mesin. Kegemarannya menonton tayangan produksi, otomotif, dan teknologi membentuk arah itu.
Di rumah, ia akrab dengan tontonan yang memperlihatkan proses kerja mesin dan alur produksi. Ketika tiba saat memilih jurusan, ia mengerucutkan pilihan pada Teknik Industri.
Bahkan, ia hanya memasang satu pilihan. Saat jalur SN gagal, ia mengulang strategi yang sama di jalur berikutnya. Satu jurusan, satu kampus, satu sasaran: Teknik Industri Universitas Hasanuddin.
Sikap keras kepala itu bertemu dukungan keluarga yang justru datang dari latar yang berbeda. Kedua orang tuanya berasal dari rumpun sosial humaniora. Namun minat Adib pada teknologi sudah terbaca sejak kecil.
Di rumah, pilihan itu tidak diperdebatkan panjang. Orang tua memberi ruang. Di situlah salah satu dasar jalan akademiknya terbentuk: minat pribadi yang konsisten, ditopang lingkungan yang tidak menghalangi.
Ketika masuk Teknik Industri, ia tidak mengalami kejutan besar. Citra Fakultas Teknik yang keras, padat tugas, dan menuntut daya tahan sudah ia dengar jauh hari.
Realitas kuliah, kata dia, kurang lebih sesuai dengan bayangan itu. Tidak ada romantika berlebihan. Tidak ada drama penyesuaian yang dibesar-besarkan. Ia masuk dengan asumsi terburuk, lalu menjalani hari-hari kuliah dengan kesadaran bahwa dunia teknik memang meminta disiplin lebih.
Barangkali itu pula yang membuatnya cepat akrab dengan watak Teknik Industri. Ia menyebut jurusan itu sebagai ilmu “gado-gado”. Di sana, mahasiswa tidak hanya belajar keteknikan. Mereka juga bersentuhan dengan manajemen, hukum, lingkungan, pemrograman, mekanikal, elektrikal, bahkan unsur biologi.
Bagi orang luar, keragaman itu bisa tampak kabur. Namun bagi Adib, justru di situlah inti Teknik Industri. Ia melihat jurusan itu sebagai ruang yang menghubungkan banyak bidang agar sebuah sistem dapat berjalan lebih optimal dari banyak sisi.
Pandangan semacam itu selaras dengan jalur fast track yang kemudian ia pilih. Program percepatan S1 ke S2 di Unhas masih relatif baru.
Di Fakultas Teknik, Adib adalah pelopor pertama. Untuk masuk ke jalur ini, mahasiswa harus memenuhi syarat. Pendaftaran dilakukan pada akhir semester enam. Indeks prestasi harus minimal 3,5.
Mahasiswa juga wajib mengikuti syarat masuk seperti jenjang magister reguler, termasuk tes kemampuan akademik (TPA) dan kemampuan bahasa Inggris (TOEFL).
Setelah dinyatakan lolos, mahasiswa mulai mengambil mata kuliah magister pada semester tujuh, saat studi sarjananya sendiri belum selesai.
Mengapa terburu-buru? Jawaban Adib tidak terdengar ambisius dalam pengertian dangkal. Ia tidak sedang memburu gelar demi simbol. Motif utamanya justru sederhana, ada kesempatan, dan ia ingin memakainya.
Selain itu, ia merasa perlu membuka jalur bagi adik tingkat yang kelak ingin menempuh rute serupa. Sejak lama ia terbiasa memberi mentoring, membagi informasi, dan membantu junior.
Jalur fast track bagi dirinya bukan hanya jalan pribadi, tetapi juga penanda bahwa pintu itu bisa dilewati orang lain setelahnya.
Tetap saja, percepatan tidak identik dengan kemudahan. Memasuki jenjang S2 berarti memasuki kultur akademik yang berbeda. Di sana, kuliah formal justru tidak mendominasi. Jalur riset menuntut kemandirian. Mahasiswa harus lebih siap membaca, meneliti, dan menulis.
Beban publikasi muncul lebih dini. Di saat studi S1 belum benar-benar ditutup, kewajiban akademik jenjang magister sudah menunggu. Di titik ini, fast track menguji lebih dari sekadar kecerdasan. Ia menguji daya tahan, manajemen waktu, dan kejelasan orientasi.
Tidak Cocok untuk Semua Orang
>> Baca Selanjutnya
Muhammad Adib Akram Mapparaga Mukhlis - dari Gagal SNBT ke Jalur Fast Track S1-S2 di Unhas. (Unhas TV)








