MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Perempatan Jalan Perintis Kemerdekaan VII, di samping Perumahan Trika Mahkota Indah, Makassar, mulai dipadati pedagang takjil dan pembeli.
Di antara deretan lapak itu, Kedai Anindita menjadi salah satu yang ramai diserbu warga. Menu andalannya bukan hanya kue-kue tradisional, melainkan juga nasi kebuli, nasi bukhori, dan ayam panggang yang dijual dengan harga terjangkau.
Lapak milik Rina Rachman itu buka sejak sekitar pukul empat sore selama Ramadan. Dari meja jualannya, aroma nasi berbumbu dan ayam panggang bercampur dengan deretan jajanan ringan yang disusun rapat.
Pembeli datang silih berganti, sebagian mencari kudapan manis untuk takjil, sebagian lain langsung mengincar menu utama untuk santapan berbuka.
“Kalau ini ayam panggang dan nasi kebuli dan nasi bukhori,” kata Rina Rachman saat ditemui Unhas TV di kedainya, Kamis (12/3/2026).
Di Kedai Anindita, pilihan menu disusun untuk menjangkau pembeli dengan kebutuhan berbeda. Untuk takjil ringan, tersedia aneka kue seperti panada, risol mayo, risol sayur, martabak mini, donat, lumpia, dadar gulung, hingga putri ayu.
Harga yang ditawarkan relatif murah. Rina menjual sebagian besar kue dengan harga Rp 5 ribu untuk empat buah.
Khusus risol mayo, harganya sedikit berbeda. “Kalau kue yang risol mayo itu 5 ribu 3 karena pakai sosis dan mayonaise, kalau yang lainnya 5 ribu 4,” ujar Rina. Ia menambahkan, ada pula risol cokelat seharga Rp 2 ribu per buah, meski pada hari itu stoknya belum tersedia.
Namun, yang paling mencolok dari lapak itu adalah menu utama berbuka. Nasi kebuli dan nasi bukhori dijual mulai Rp 25 ribu per porsi.
Dalam satu porsi, pembeli mendapatkan seperempat ekor ayam panggang yang disajikan bersama nasi berbumbu.
Untuk nasi bukhori, Rina menambahkan campuran kismis sebagai pembeda rasa dan tampilan. “Ayam sendiri 1 ekor 60 ribu. Pakai nasi itu 1/4 ekor itu 25 ribu per 1 porsi,” kata dia.
Menu berat semacam ini membuat Kedai Anindita berbeda dari banyak lapak takjil lain yang umumnya hanya menjual minuman segar atau jajanan ringan.
Di tengah kebiasaan warga mencari hidangan praktis menjelang magrib, nasi kebuli dan ayam panggang menjadi alternatif yang cukup diminati karena bisa langsung menjadi santapan utama di meja berbuka.
Menurut Rina, usaha kuenya sebenarnya sudah berjalan sekitar satu tahun di dalam kawasan Perumahan Trika. Adapun penjualan ayam panggang, nasi kebuli, dan nasi bukhori baru ia mulai sekitar sebulan terakhir.
Ramadan tahun ini juga menjadi kali pertama ia berjualan di titik tersebut, bukan lagi hanya melayani pesanan dari dalam kompleks. “Kalau kue sudah ada setahunan sedangkan ayam sudah ada sebulan,” tuturnya.
Perpindahan lokasi berjualan itu rupanya membawa pengaruh pada jumlah pembeli. Rina mengaku penjualan di titik baru ini lebih ramai dibandingkan saat ia berjualan di dalam perumahan. Keramaian Ramadan menjadi momentum yang memperluas pasar bagi usaha kuliner rumahan miliknya.
Kehadiran Kedai Anindita menambah pilihan menu berbuka bagi warga di sekitar Perintis Kemerdekaan.
Dengan kombinasi kue tradisional, nasi kebuli, nasi bukhori, dan ayam panggang berharga terjangkau, lapak ini menjawab dua kebutuhan sekaligus yakni takjil untuk membatalkan puasa dan hidangan utama untuk mengisi perut setelah seharian menahan lapar.
Di tengah maraknya lapak musiman sepanjang Ramadan, Kedai Anindita memperlihatkan bahwa daya tarik pembeli tak selalu lahir dari kemasan besar. Kadang, cukup dari seporsi nasi berbumbu hangat, ayam panggang yang gurih, dan harga yang masih masuk akal bagi warga kota.
(Venny Septiani Semuel / Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
NASI KEBULI - Kedai Anindita milik Rina Rachman di samping Perumahan Trika Mahkota Indah, Jl Perintis Kemerdekaan VII, Makassar, menjadi salah satu yang ramai diserbu warga, Jumat (13/3/2026). Menu andalannya bukan hanya kue-kue tradisional, melainkan juga nasi kebuli, nasi bukhori, dan ayam panggang. (Unhas TV / Achmad Ghiffary)
, psikiater dari FK Unhas-300x169.webp)







