Sport

El Clasico Gila di Jeddah, Raphinha Antar Barcelona Angkat Piala

Raphinha merayakan gol penentuan yang dicetaknya ke gawang Real Madrid dalam laga final Piala Super Spanyol, di King Abdulazis, Jeddah, Arab Saudi, Senin (12/1/2026) dini hari. Raphina menjadi sebagai pahlawan Barcelona. (Credit EPA)

JEDDAH, UNHAS.TV - Di bawah langit Saudi Arabia yang berkilau lampu Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, pada Senin (12/1/2026) dini hari, Barcelona dan Real Madrid kembali menghidupkan salah satu rivalitas paling abadi dalam sepak bola.

Kali ini, bukan hanya gengsi yang dipertaruhkan, melainkan juga trofi pertama musim ini yakni Piala Super Spanyol.

Lima gol tercipta, emosi tumpah ruah, dan satu gol “aneh” dari Raphinha menjadi penentu. Barcelona menang 3-2. Trofi pun terbang ke Catalonia.

Laga belum genap setengah jam ketika tensi sudah mengeras. Barcelona tampil agresif, menekan sejak awal, seolah ingin menegaskan era baru di bawah Hansi Flick.

Dan Raphinha membuka skor pada menit ke-36, memanfaatkan ruang di sisi kanan pertahanan Madrid.

Gol itu membuat Barcelona unggul hingga menit ke-45. Namun, sepak bola klasik sekelas El Clasico jarang berjalan lurus.

Tiga gol tercipta hanya dalam waktu tambahan babak pertama—sebuah periode yang terasa seperti pertandingan tersendiri.

Vinicius Jr lebih dulu menyamakan kedudukan lewat aksi solo brilian di menit kedua injury time. Ia menusuk dari sisi kiri, melewati penjagaan, lalu menuntaskan peluang dengan dingin.

Tapi Barcelona kembali unggul tak lama kemudian melalui Robert Lewandowski, striker yang tetap menjadi jangkar ketenangan di tengah badai.

Jelang babak pertama berakhir, Real Madrid menolak masuk ruang ganti dengan kepala tertunduk. Gonzalo Garcia mencetak gol balasan di detik-detik terakhir babak pertama.

Skor 2-2 menutup 45 menit babak pertama yang nyaris tak memberi waktu bernapas bagi siapa pun, baik pemain, pelatih, maupun penonton.

Babak kedua dimulai dengan ritme sedikit lebih terkendali, meski peluang tetap silih berganti berdatangan.

Vinicius dan Raphinha sama-sama nyaris mencetak gol kedua mereka. Thibaut Courtois dipaksa bekerja keras, meski sempat terlihat nyaman ketika tembakan Lamine Yamal mengarah tepat ke pelukannya.

Momen penentuan datang dengan cara yang tak lazim. Raphinha kembali menjadi pusat cerita. Melepaskan tembakan yang tampak biasa saja, bola justru mengenai pemain bertahan Madrid, memantul tinggi, berputar aneh di udara, dan jatuh ke dalam gawang.

Courtois sudah terlanjur bergerak, mati langkah, refleksnya tak lagi berarti. Gol itu terasa ganjil, nyaris absurd, tapi sah. Barcelona unggul 3-2. Raphinha merayakannya dengan ekspresi lega—malam itu adalah miliknya.

Tropi Pertama Rashford

Di bangku cadangan, Marcus Rashford masuk pada sepuluh menit terakhir. Bagi Rashford, ini adalah ironi yang manis, trofi pertamanya bersama Barcelona diraih pada hari yang sama ketika klub induknya, Manchester United, tersingkir dari Piala FA.

Pemain pinjaman asal Inggris itu tampil disiplin, membantu menjaga keunggulan, dan memberi sinyal bahwa masa depannya di Camp Nou bisa lebih panjang dari sekadar musim pinjaman.

Drama belum usai. Frenkie de Jong diganjar kartu merah langsung di masa injury time setelah tekel keras terhadap Kylian Mbappe yang tampil sebagai pemain pengganti.

Protes keras tak mengubah keputusan wasit. Barcelona harus bertahan dengan sepuluh pemain di lima menit terakhir, periode yang terasa jauh lebih lama dari hitungan jam.

Madrid nyaris memaksakan perpanjangan waktu. Alvaro Carreras mendapat peluang emas, tapi tembakannya tepat ke arah Joan Garcia.

Raul Asencio juga menyia-nyiakan kesempatan dari umpan Mbappe. Kepala-kepala tertunduk, tangan-tangan di pinggang—Madrid tahu malam itu bukan milik mereka.

Sementara itu, Rashford sempat lolos sendirian ke depan gawang Madrid, namun memilih menembak ketimbang mengulur waktu di sudut lapangan. Bola pun melebar tipis. 

Peluit akhir berbunyi. Barcelona merayakan gelar. Trofi pertama di bawah Hansi Flick pada musim ini, akhirnya masuk lemari.

Lebih dari sekadar piala, kemenangan ini adalah pernyataan. Barcelona kini memimpin La Liga dengan selisih empat poin atas Madrid, masih bertahan di Copa del Rey dan Liga Champions, dan tampak menemukan kembali identitasnya: agresif, muda, dan percaya diri.

Sedangkan bagi Real Madrid, perjalanan pulang terasa panjang. Tanpa trofi, tanpa alasan, hanya menyisakan refleksi.

Di Saudi Arabia, El Clasico kembali membuktikan satu hal bahwa tak peduli tempatnya, drama selalu menemukan jalannya sendiri. Dan kali ini, Barcelona yang tertawa terakhir. (*)