
Muhammad Adib Akram Mapparaga Mukhlis - dari Gagal SNBT ke Jalur Fast Track S1-S2 di Unhas. (Unhas TV)
Adib tidak menutup-nutupi bahwa jalur ini tidak cocok untuk semua orang. Menurut dia, fast track lebih sesuai bagi mahasiswa yang memang memiliki minat pada riset dan bidang akademik.
Banyak mahasiswa memilih bekerja lebih dulu setelah S1, lalu kembali menempuh S2 dengan bekal pengalaman kerja. Pilihan itu sah. Bahkan dalam beberapa jalur karier, langkah itu lebih strategis.
Fast track, kata Adib, jelas mempercepat gelar. Namun soal percepatan karier, jawabannya tergantung tujuan. Bagi yang mengejar karier akademik, menjadi dosen, atau peneliti, jalur ini memberi keunggulan waktu.
Bagi yang hendak masuk jalur manajemen trainee atau posisi yang mencari lulusan S1 segar, percepatan ke S2 belum tentu menguntungkan.
Di luar fast track, nama Adib menguat lewat jalur prestasi. Pada 2024, ia terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Teknik Unhas. Setahun kemudian, ia naik menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas.
Namun ia menolak memaknai capaian itu sebagai tujuan utama. Gelar mapres, bagi dia, bukan sesuatu yang dikejar sejak awal. Yang ia kejar adalah pengalaman, prestasi nyata, relasi, kompetisi, proyek, pengabdian, pendanaan, dan ruang tumbuh. Gelar formal datang belakangan, setelah jejak aktivitas itu cukup panjang.
Pandangan ini penting karena menunjukkan cara kerja prestasi di kampus. Ia jarang lahir dari satu lompatan besar. Ia dibangun oleh akumulasi langkah kecil yang terus diulang. Adib mengaku kegagalannya dalam lomba dan pendanaan mungkin lebih banyak daripada keberhasilannya.
Namun dari sanalah ia menarik satu rumus sederhana: kalau tidak ikut, peluangnya nol. Kalau ikut, sekecil apa pun, peluang tetap ada. Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi dalam kultur mahasiswa yang kerap lumpuh oleh rasa ragu, ia seperti tamparan kecil yang masuk akal.
Adib juga menekankan pentingnya mentor dan teman. Prestasi, dalam ceritanya, bukan proyek individual murni. Ia dibentuk oleh senior yang membimbing, lingkungan yang mendorong, dan jejaring yang memberi contoh.
Setelah berada di posisi mapres, ia merasa tanggung jawabnya justru bertambah. Ia harus menjaga nama baik fakultas dan universitas.
Ia juga merasa perlu membantu mahasiswa lain, baik dalam urusan akademik maupun administratif. Di sini, prestasi bukan lagi medali pribadi, melainkan posisi sosial yang membawa beban teladan.
Dimensi itu semakin tampak ketika ia mengikuti program internasional. Pada 2025, ia lolos summer program di Universiti Brunei Darussalam dan program lain di Malaysia.
Di Brunei, ia bertemu mahasiswa dari berbagai negara ASEAN dalam tema yang berkaitan dengan biodiversitas dan lingkungan. Ia membawa pengalaman tentang keterlibatannya pada isu lingkungan di Indonesia.
Tetapi yang lebih berkesan justru apa yang ia bawa pulang: pandangan baru tentang negara kecil yang makmur, masyarakat yang lebih tenang, dan relasi lintas negara yang terus terjaga setelah program usai.
Di Malaysia, pengalamannya berbeda. Program itu menggabungkan teknik dan budaya. Bagi Adib, kombinasi itu terasa dekat dengan dirinya. Ia datang dari dunia engineering, sementara latar keluarganya lekat dengan kebudayaan.
Di sana, ia melihat bagaimana teknologi, manufaktur, dan kebudayaan dapat dibicarakan dalam satu ruang yang sama. Pengalaman semacam itu memperluas cakrawala seorang mahasiswa teknik yang sebelumnya lebih banyak bergerak dari Makassar, Sulawesi, lalu Jawa.
Ia juga mengikuti Indonesia Leaders program yang menghimpun mahasiswa berprestasi dari berbagai daerah, termasuk warga negara Indonesia yang kuliah di luar negeri. Di sanalah ia belajar lagi satu hal mendasar: kepemimpinan dimulai dari diri sendiri.
Sebelum memimpin kelompok atau perubahan, seseorang harus bisa mengatur dirinya. Dalam program itu ia terlibat dalam proyek personal dan kelompok. Jejaringnya meluas. Cara pandangnya terhadap dunia juga ikut bergerak.
Kini Adib menyebut dua cita-cita yang ingin ia kejar: dosen dan pengusaha. Dalam jangka pendek, ia ingin menuntaskan S2 dan mengembangkan keterampilan yang ia miliki. Dalam jangka panjang, ia ingin berada di wilayah akademik sekaligus dunia usaha.
Dua arah itu tampak berbeda, tetapi jika melihat cara ia menempuh kuliah, prestasi, riset, dan jejaring, keduanya justru saling menjelaskan.
Dari seluruh ceritanya, satu pesan yang paling menonjol bukan soal kecerdasan, bukan pula soal bakat. Pesannya lebih keras dan lebih sederhana yakni jangan takut mencoba. Gagal bukan akhir. Yang benar-benar menutup jalan justru keputusan untuk tidak melangkah.
Bagi kampus yang ingin melahirkan lebih banyak mahasiswa aktif, kalimat itu mungkin terdengar klise. Namun pada sosok seperti Adib, ia menjadi masuk akal. Sebab ia tidak lahir dari slogan, melainkan dari jejak yang sudah dijalani.
(Zahra Tsabita Sucheng /Unhas TV)
-300x169.webp)




-300x174.webp)


