
BALIKKAN SKOR - Inter Milan sukses membalikkan skor dari tertinggal 0-2 atas Como, kemudian berbalik menang dengan skor 3-2 di babak semifinal Coppa Italia, di Stadion San Siro, Italia, Rabu (22/4/2026). (ca yahoo.sports)
Laga itu sekaligus menjadi panggung paling lengkap Calhanoglu bersama Inter. Ia terlibat langsung dalam ketiga gol, untuk pertama kalinya dalam satu pertandingan, dan mencetak gol sundulan pertamanya untuk klub itu.
Penampilan semacam itu datang pada saat yang tepat, ketika Inter sedang menumpuk mimpi: mengunci scudetto dan menambah satu trofi domestik lagi.
Kemenangan ini juga menegaskan relasi istimewa Inter dengan Coppa Italia. Mereka kini bersiap menjalani final ke-16, dengan koleksi sembilan gelar di ajang tersebut.
Dalam sejarah kompetisi, hanya Roma dan Juventus yang lebih sering mencapai partai puncak. Sejak era 2000-an, hanya Juventus pula yang melakukannya lebih sering daripada Inter. Artinya, ketika turnamen ini memasuki pekan-pekan akhir, Inter hampir selalu tahu cara bertahan hidup.
Pelatih Cristian Chivu melihat kelolosan ini sebagai buah dari daya tahan timnya. Ia menilai Inter memang harus bekerja keras untuk menaklukkan Como, salah satu tim dengan organisasi bertahan terbaik di Italia musim ini.
“Kami menempatkan diri kami dalam posisi untuk bermimpi,” kata Chivu kepada Sport Mediaset seperti dikutip Football Italia.
Target itu, kata dia, jelas: gelar Liga Italia dan Coppa Italia. Ia juga memuji daya juang para pemainnya yang kembali mampu membalikkan keadaan dari tertinggal 0-2 melawan lawan yang sama untuk kedua kalinya dalam 10 hari terakhir.
Sebab sebelumnya, dalam pertemuan Serie A, Inter juga sempat tertinggal dua gol sebelum menang 4-3 atas Como. Ada pola yang mengeras dari dua pertandingan itu: Como mampu melukai Inter, tapi belum cukup matang untuk menyelesaikannya.
Fabregas pun punya alasan untuk menyesali hasil ini. Timnya sebenarnya sempat berada di ambang malam bersejarah.
Mereka menciptakan sejumlah peluang jernih, termasuk sundulan Marc Oliver Kempf yang membentur mistar dan peluang satu lawan satu Assane Diao sesaat setelah Inter mencetak gol pertama.
Andaikan peluang itu menjadi gol ketiga, arah pertandingan mungkin berubah. “Kami masih kurang sesuatu,” ujar Fabregas.
Ia tidak menampik perbedaan level pengalaman antara skuadnya dan Inter, tim yang inti pemainnya sudah bersama selama enam sampai tujuh tahun dan musim lalu mencapai final Liga Champions.
Meski kalah, Como pulang bukan tanpa martabat. Mereka tetap berada di posisi kelima Serie A dan hanya terpaut lima poin dari zona Liga Champions—sebuah penanda kemajuan yang nyata sejak Fabregas mengambil alih.
Tapi semifinal di San Siro ini menunjukkan satu hal lain, untuk mendekati Inter ternyata mungkin, untuk menyingkirkan mereka, itu jelas perkara yang berbeda.
Dan Inter, sekali lagi, memilih menunjukkan tabiat lamanya: tak selalu tenang, tak selalu indah, tapi kerap menang ketika taruhannya paling besar. (*)








