MAKASSAR, UNHAS.TV - Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Indonesia bekerja sama dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar seminar publik di Aula LPPM Unhas, Makassar, Selasa (19/5/2026).
Seminar bertema “Menata Kebijakan Luar Negeri Indonesia dalam Menghadapi Era Rivalitas Antarkekuatan Besar” ini dihadiri ratusan mahasiswa serta akademisi dari berbagai latar belakang.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber kunci, antara lain peneliti senior Departemen HI CSIS Andrew Mantong dan Pieter Pandie, serta dosen Departemen HI FISIP Unhas Abdul Razaq Cangara, Agussalim Burhanuddin, dan Pusparida Syahdan.
Diskusi berfokus pada tantangan diplomasi Indonesia di tengah persaingan Amerika Serikat dan China serta pergeseran tatanan global yang semakin dinamis.
Andrew Mantong menyoroti tiga perubahan besar yang memengaruhi kalkulasi kebijakan luar negeri global. Pertama, multilateralism mengalami pergeseran dalam cara, pola, dan institusi sehingga memengaruhi permainan di organisasi internasional seperti PBB.
"Kedua, muncul norma ekonomi baru, di mana ketergantungan ekonomi antarnegara tidak lagi dianggap saling menguntungkan, mendorong diversifikasi perdagangan dan perlindungan rantai pasok," ujarnya.

Andrew Mantong, Peneliti Senior Departemen HI CSIS Indonesia. (Unhas TV/Rahmatia /Unhas TV)
Ketiga, revolusi teknologi militer mengubah logika strategis kekuatan militer yang sebelumnya menjadi fondasi perimbangan kekuatan global.
Andrew Mantong menekankan, Indonesia memiliki kesenjangan signifikan dalam tiga bidang tersebut yang perlu segera dikejar agar tidak tertinggal dalam perhitungan geopolitik.
Sementara itu, Pieter Pandie menekankan perlunya reformasi domestik untuk memperkuat kebijakan luar negeri Indonesia.
Menurut Pandie, penguatan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, tetapi harus melibatkan koordinasi antar kementerian, lembaga, universitas, dan think tank.
"Data dan informasi yang terintegrasi menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih efektif dan responsif terhadap dinamika global," kata Pandie.
Dosen FISIP Unhas Abdul Razaq Cangara, Agussalim Burhanuddin, dan Pusparida Syahdan memberikan perspektif akademik terkait posisi strategis Indonesia.
Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan luar negeri yang relevan, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Seminar ini diharapkan menjadi wadah diskusi konstruktif untuk menyusun strategi kebijakan luar negeri Indonesia yang responsif terhadap perubahan geopolitik dan ekonomi global.
Kolaborasi antara CSIS dan Unhas menjadi contoh sinergi akademisi dan think tank dalam mendukung penguatan kapasitas diplomasi nasional.
(Rahmatia Ardi / Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
SEMINAR PUBLIK - Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Indonesia bekerja sama dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar seminar publik di Aula LPPM Unhas, Makassar, Selasa (19/5/2026). (Unhas TV/Andrea Karina)








