Mahasiswa
Pendidikan

Cuaca Panas Ekstrem di Makassar Ganggu Aktivitas Mahasiswa, Kurangi Waktu di Luar Ruangan

Rifka Ramadhani (kiri) mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian dan Pratiwi Filadelfia, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Unhas. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Suhu udara yang meningkat di Kota Makassar mulai dirasakan sejumlah mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari luar daerah.

Perbedaan karakter cuaca dengan daerah asal membuat mahasiswa perantau harus melakukan penyesuaian dalam menjalani aktivitas harian, mulai dari mengatur waktu berkegiatan hingga mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Cuaca panas yang menyengat tidak hanya membuat aktivitas luar ruangan terasa lebih berat, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik mahasiswa.

Bagi sebagian mahasiswa perantau, suhu tinggi di Makassar menjadi tantangan baru karena belum terbiasa dengan kondisi tersebut.

Salah satu yang merasakan perubahan itu adalah Rifka Ramadhani, mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin yang berasal dari Kota Ambon. Ia mengaku merasakan perbedaan suhu yang cukup signifikan antara daerah asalnya dengan Kota Makassar.

Menurut Rifka, suhu rata-rata di Ambon berada di kisaran 27 derajat Celsius, sementara di Makassar dapat mencapai lebih dari 33 derajat Celsius. Perubahan tersebut membuatnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

“Sebagai mahasiswa perantau dari Kota Ambon, cukup terlihat sekali perbedaannya. Di Ambon suhu rata-ratanya sekitar 27 derajat, sedangkan di Makassar naik menjadi 33 derajat ke atas. Itu lumayan membuat saya kaget, apalagi akhir-akhir ini belum pernah merasakan hujan,” ujar Rifka.

Kondisi panas tersebut mulai terasa terutama ketika menjalani aktivitas perkuliahan pada siang hari. Rifka yang tinggal tidak jauh dari kampus sebenarnya dapat berjalan kaki menuju lokasi kuliah, namun cuaca panas membuat perjalanan singkat menjadi lebih melelahkan.

“Cukup terganggu, terutama kalau kuliah siang. Kos saya dekat Unhas sehingga bisa jalan kaki, tetapi panasnya cukup terasa sekali,” katanya.

Untuk mengurangi dampak cuaca panas, Rifka mulai memilah aktivitas yang harus dilakukan di luar rumah. Kegiatan yang dianggap penting tetap dijalankan, sementara aktivitas yang tidak mendesak sebisa mungkin dilakukan dari tempat tinggal.

Ia memilih menggunakan layanan transportasi daring ketika harus bepergian dalam kondisi panas ekstrem agar mengurangi paparan langsung terhadap sinar matahari.

Selain membuat tubuh lebih cepat lelah, cuaca panas juga meningkatkan kebutuhan cairan. Rifka mengaku harus lebih banyak mengonsumsi air putih agar tidak mengalami dehidrasi saat beraktivitas.

“Rasa haus jauh lebih tinggi karena cuacanya cukup ekstrem. Jadi memang membutuhkan minum air putih lebih banyak,” ujarnya.

Waspadai Dampak Panas terhadap Kondisi Tubuh

Pengalaman serupa dirasakan Pratiwi Filadelfia, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin. Ia mengatakan cuaca panas dapat memengaruhi kondisi tubuhnya, terutama ketika harus melakukan aktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.

Menurut Pratiwi, paparan suhu tinggi membuat tubuh lebih cepat mengalami kelelahan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, panas berlebih dapat memicu gangguan kesehatan yang menghambat aktivitas berikutnya.

“Kalau saya pribadi cukup terganggu karena kalau ada aktivitas di luar ruangan saya batasi. Kalau terlalu panas, tubuh saya tidak bisa menerima, biasanya langsung sakit, pusing, dan aktivitas keesokan harinya ikut terganggu,” katanya.

Pratiwi mengaku harus lebih berhati-hati dalam menentukan waktu beraktivitas. Jika kegiatan tersebut tidak bersifat mendesak, ia memilih menundanya hingga kondisi cuaca lebih memungkinkan.

“Kalau memang sangat penting tetap dilakukan, tetapi kalau tidak terlalu mendesak biasanya saya undurkan untuk mencari waktu yang tidak terlalu panas,” ujarnya.

Selain mengatur jadwal kegiatan, perlindungan dari paparan matahari menjadi langkah lain yang dilakukan. Pratiwi menyarankan mahasiswa membawa perlengkapan sederhana seperti payung atau topi ketika harus berada di luar ruangan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyediakan air minum sebelum tubuh mengalami tanda-tanda kekurangan cairan.

“Peralatan yang bisa digunakan untuk menghindari matahari seperti payung atau topi. Jangan lupa menyediakan air sebelum mengalami dehidrasi,” katanya.

Cuaca panas ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang memiliki aktivitas padat, terutama mahasiswa perantau yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Kondisi tersebut menuntut perubahan kebiasaan agar kesehatan tetap terjaga.

Mengatur waktu kegiatan, mengurangi paparan langsung terhadap matahari, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengenali batas kemampuan tubuh menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa menghadapi kondisi cuaca panas.

Bagi mahasiswa perantau, panas Makassar bukan hanya persoalan suhu udara, tetapi juga bagian dari proses adaptasi terhadap lingkungan baru.

Di tengah aktivitas akademik yang terus berjalan, menjaga kondisi tubuh menjadi kunci agar kegiatan perkuliahan dan kehidupan kampus tetap dapat dilakukan secara optimal.

(Venny Septiani Semuel/ Unhas TV)