Makassar
Terkini

Cuaca Panas Melanda Makassar, Pemakaian AC Meningkat dan Tagihan Listrik Warga Membengkak

TAGIHAN MEMBENGKAK - Ilustrasi Warga Makassar meningkatkan penggunaan AC dan kipas angin akibat cuaca panas dalam beberapa waktu terakhir, Minggu (27/9/2026). Kondisi tersebut membuat tagihan listrik rumah tangga membengkak hingga ratusan ribu rupiah karena konsumsi energi meningkat. (Ilustrasi ChatGPT, Bahan Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Cuaca panas yang melanda Makassar dalam beberapa waktu terakhir membuat penggunaan peralatan pendingin ruangan meningkat.

Kipas angin yang sebelumnya hanya digunakan seperlunya kini lebih sering menyala, sementara pendingin udara atau air conditioner (AC) harus beroperasi lebih lama untuk menjaga suhu ruangan tetap nyaman.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kenaikan konsumsi listrik dan membengkaknya tagihan rumah tangga.

Bagi sebagian warga, panas yang terasa menyengat membuat penggunaan alat pendingin tidak lagi menjadi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan sehari-hari.

Aktivitas di dalam rumah pun ikut berubah. Warga lebih banyak mengandalkan kipas angin dan AC, terutama pada siang hingga malam hari ketika suhu ruangan sulit turun.

Thamo, salah seorang warga Makassar, mengatakan peningkatan penggunaan peralatan pendingin cukup terasa sejak cuaca mulai panas. Jika sebelumnya hanya menggunakan satu kipas angin, kini jumlah perangkat yang digunakan bertambah untuk menyesuaikan kondisi ruangan.

“Sangat-sangat meningkat. Kipas angin yang tadinya satu berjalan tiga, belum AC-nya anak-anak. Jadi cukup-cukup meningkat penggunaannya,” kata Thamo.



Warga Kota Makassar Thamo. (Dok Unhas TV/Venny Septiani)


Menurut dia, perubahan paling besar terjadi pada penggunaan AC. Sebelumnya, perangkat pendingin tersebut hanya dinyalakan pada malam hari saat waktu istirahat. Namun, kondisi ruangan yang semakin panas membuat AC harus bekerja lebih lama, bahkan hampir sepanjang hari.

“Kalau AC biasanya pada malam hari saja digunakan. Tapi saat ini hampir 24 jam itu AC tidak dimatikan dengan kondisi ruangan yang cukup panas,” ujarnya.

Peningkatan durasi pemakaian itu berimbas pada biaya listrik bulanan. Thamo mengaku tagihan listrik rumahnya mengalami kenaikan cukup signifikan.

Jika sebelumnya pembayaran berada pada kisaran Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, kini nominalnya mendekati Rp400 ribu.

“Khawatir pasti, tetapi tidak ada solusi lain sebelum itu dilaksanakan. Dan secara otomatis tagihan listrik meningkat,” katanya.

Cara Hemat Energi di Tengah Suhu Panas

Di tengah kenaikan konsumsi listrik, warga mulai mencari berbagai cara untuk mengurangi beban pengeluaran. Sebagian memilih memanfaatkan ventilasi alami dengan membuka pintu dan jendela agar sirkulasi udara lebih baik. Sebagian lainnya memilih keluar rumah untuk mencari udara yang lebih sejuk.

Thamo mengatakan upaya tersebut menjadi alternatif karena kondisi lingkungan permukiman yang minim pepohonan. Menurut dia, keberadaan ruang terbuka hijau dapat membantu masyarakat menghadapi cuaca panas tanpa terlalu bergantung pada pendingin listrik.

“Kalau menghemat itu, keluar cari udara sejuk di luar, berteduh di bawah pohon. Tapi di lingkungan perumahan itu sangat jarang pohon yang ada,” ujarnya.

Ia juga mengeluhkan keterbatasan pasokan air yang membuat warga kesulitan melakukan upaya sederhana seperti menyiram atap rumah untuk mengurangi panas. Menurut dia, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

“Kalau PAM-nya lancar atau air masih ada, sering-sering atap disiram. Tapi selama ini air juga sudah sangat berkurang,” kata Thamo.



Indrawati Mochtar, warga Makassar. (Dok Unhas TV / Venny Septiani)


Kondisi serupa dirasakan Indrawati Mochtar, warga lainnya. Ia mengaku penggunaan AC yang biasanya hanya berlangsung empat hingga lima jam sehari kini meningkat menjadi enam hingga tujuh jam.

“Ya, sering digunakan. Kalau kipas, setiap hari. Kalau AC biasanya empat atau lima jam, tapi ini lebih enam atau tujuh jam,” ujar Indrawati.

Menurut dia, peningkatan pemakaian peralatan elektronik tersebut otomatis membuat biaya listrik ikut bertambah. Tagihan yang sebelumnya berada di kisaran Rp500 ribu kini dapat meningkat menjadi sekitar Rp600 ribu. “Pasti ikut bertambah, karena penggunaannya lebih dari itu,” katanya.

Untuk menekan konsumsi listrik, Indrawati memilih mengurangi penggunaan AC ketika tidak diperlukan. Ia juga memanfaatkan sirkulasi udara alami dengan membuka pintu dan jendela rumah.

“Kalau bisa pintu dibuka saja, supaya ventilasi angin-angin masuk. Itu untuk menghemat listrik,” ujarnya.

Cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat warga berharap adanya langkah yang dapat membantu masyarakat menghadapi kondisi tersebut.

Selain persoalan energi, kebutuhan air dan pengelolaan lingkungan menjadi perhatian agar masyarakat tetap dapat menjaga kenyamanan tanpa mengalami peningkatan beban ekonomi yang terlalu besar.

Di tengah kondisi suhu yang meningkat, AC dan kipas angin masih menjadi pilihan utama warga untuk bertahan. Namun, penggunaan yang terus bertambah membuat masyarakat harus mencari keseimbangan antara kebutuhan kenyamanan dan upaya menghemat energi.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)