oleh: Yusran Darmawan*
Sore hari, ketika matahari mulai turun di balik perbukitan karst Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, anak-anak kerap berlarian menuju mulut Liang Metanduno. Mereka masuk sambil tertawa, menyusuri lantai batu yang dingin, lalu kembali keluar dengan kaki penuh debu kapur.
Di musim hujan, para petani dan pencari kayu juga mengenal gua ini sebagai tempat berteduh yang aman dari angin dan hujan yang datang tiba-tiba. Liang Metanduno adalah bagian dari rutinitas, bukan tujuan. Ia dikenal, tapi tidak dirayakan.
Di dinding batu kapurnya, samar-samar terlihat bayang merah, seperti sisa sentuhan yang hampir larut oleh waktu. Bagi warga, itu hanya jejak lama yang tak pernah benar-benar dipertanyakan.
Tidak ada pagar pembatas, tidak ada papan peringatan, tidak ada cerita bahwa tempat ini menyimpan sesuatu yang luar biasa. Gua itu hidup dalam kesunyian, di tengah lalu-lalang kehidupan sehari-hari.
Sampai sebuah jurnal ilmiah internasional mengubah segalanya.
Pada 21 Januari 2026, Nature, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia, memublikasikan hasil penelitian yang menempatkan Liang Metanduno dalam peta besar peradaban manusia.
Lukisan gua di tempat ini dinyatakan berumur antara 71 ribu hingga 67 ribu tahun, menjadikannya lukisan gua tertua yang pernah diketahui. Usianya melampaui lukisan-lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan adegan perburuan babi dan anoa.
Bahkan lebih tua pula dari lukisan figuratif di kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat, Kalimantan Timur, yang selama ini termasuk yang tertua di Asia Tenggara.
Dalam sekejap, gua yang dulu hanya tempat bermain dan berteduh itu berubah menjadi pusat perhatian dunia.
Kehebohan itu datang bukan dari satu, melainkan dari dua artikel ilmiah sekaligus yang diterbitkan Nature pada hari yang sama. Artikel pertama, berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi,” menjelaskan bagaimana para peneliti menggunakan teknik pertanggalan uranium-series pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen lukisan.
Metode itu memungkinkan usia lukisan ditentukan bukan berdasarkan perkiraan, melainkan melalui reaksi kimia yang terperangkap dalam kerak batu selama puluhan ribu tahun.
Artikel kedua, “Hand stencils in Indonesian cave are world’s oldest known artworks,” menyoroti cap tangan yang menempel di dinding gua. Jejak tangan, yang dibuat dengan menempelkan telapak ke batu lalu meniup pigmen di sekelilingnya, kini dianggap sebagai karya seni tertua yang diketahui dalam sejarah manusia modern.
Dua tulisan itu menyampaikan pesan yang sama, dengan gema yang luas: asal-usul seni manusia tidak lagi bisa dipusatkan di Eropa. Asia Tenggara, dan khususnya kepulauan Indonesia, kini menempati posisi sentral dalam peta awal kebudayaan global.
Sulawesi berada di wilayah Wallacea, zona peralihan yang sejak lama diyakini sebagai jalur penting migrasi manusia dari Asia menuju Australia purba, atau yang dikenal sebagai paparan Sahul.
Namun lukisan di Metanduno menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Mereka yang melintas di jalur ini bukan hanya pemburu yang mengikuti hewan buruan atau arus laut, tetapi manusia yang membawa serta simbol, imajinasi, dan kebutuhan untuk meninggalkan jejak makna.
Para peneliti meyakini bahwa manusia yang mencapai wilayah ini sekitar 68 ribu tahun lalu telah menguasai teknologi maritim dasar, cukup untuk menyeberangi selat-selat yang tidak pernah benar-benar kering bahkan pada masa es.
Migrasi itu bukan kebetulan, melainkan perjalanan yang membutuhkan perencanaan, kerja kolektif, dan pengetahuan lingkungan. Dan di sela perjalanan itu, mereka melukis. Seni, dalam konteks ini, bukan produk akhir peradaban yang stabil, melainkan bagian dari cara manusia memahami dunia ketika dunia masih asing dan penuh risiko.
Dalam ilmu arkeologi, seni gua sering dipahami sebagai tanda munculnya behavioral modernity, titik ketika manusia mulai berpikir simbolik, membangun identitas kelompok, dan menyimpan pengalaman dalam bentuk yang dapat diwariskan.
Arkeolog kognitif seperti Steven Mithen dan Ian Tattersall melihat seni sebagai bukti bahwa otak manusia telah mampu menghubungkan emosi, memori, dan abstraksi.
Cap tangan di Metanduno, dalam kerangka itu, bukan sekadar tanda fisik kehadiran, melainkan pernyataan eksistensial: bahwa seseorang, atau sekelompok orang, pernah menandai ruang ini sebagai bagian dari dunianya.
Antropolog André Leroi-Gourhan menafsirkan seni gua sebagai bagian dari sistem simbol yang terkait dengan ruang yang dimaknai secara khusus. Sementara David Lewis-Williams mengaitkannya dengan praktik ritual, pengalaman kesadaran yang berubah, dan pembentukan identitas kelompok.
Dalam kedua pendekatan itu, dinding gua bukan latar pasif, tetapi medium dialog antara manusia dan makna. Di Metanduno, dialog itu masih bisa dibaca, meski bahasanya telah berusia puluhan ribu tahun.
Makna Lukisan di Pulau Muna
Bagi masyarakat Muna hari ini, temuan ini memberi makna baru pada lanskap yang selama ini dianggap biasa. Bukit-bukit karst yang dulu hanya dilihat sebagai latar kebun dan ladang, gua yang dikenal sebagai tempat berteduh atau bermain, serta hutan yang menjadi sumber kayu dan pangan, kini terbaca sebagai bagian dari arsip panjang peradaban manusia.
Ruang hidup sehari-hari mendadak terhubung dengan sejarah yang melampaui ingatan kolektif, jauh melampaui cerita lisan yang biasa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Alam tak lagi sekadar lingkungan, tetapi saksi.
Pulau Muna, dalam narasi ini, tak lagi berada di pinggir peta sejarah, melainkan masuk ke dalam bab awal perjalanan manusia modern. Ia menjadi salah satu titik di mana manusia bukan hanya berjuang untuk bertahan hidup, tetapi mulai mengekspresikan diri, membangun relasi simbolik dengan ruang, dan menanamkan makna pada lanskap yang mereka huni.








