
Ilustrasi gadis-gadis di Pulau Muna yang berbusana adat
Seni di sini tidak lahir dari pusat kekuasaan, bukan dari kota atau istana, tetapi dari gua, dari perjalanan, dari perjumpaan langsung dengan alam yang keras sekaligus memberi kehidupan. Ia lahir dari masyarakat yang bergerak, menjelajah, dan menafsirkan dunia melalui pengalaman tubuh dan imajinasi.
Bagi generasi muda Muna, temuan ini membuka kemungkinan baru tentang cara memandang diri dan tempat tinggal mereka. Bahwa kampung, bukit, dan gua yang selama ini terasa biasa, ternyata terhubung dengan sejarah global umat manusia.
Identitas lokal yang selama ini hidup dalam cerita keseharian kini memperoleh lapisan makna baru, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai bagian dari sejarah awal kreativitas manusia.
Dalam konteks ini, kebanggaan tidak lagi bersumber semata dari masa lalu kerajaan atau kolonialisme, tetapi dari periode yang jauh lebih tua, ketika manusia pertama kali belajar mengekspresikan dirinya lewat gambar.
Bagi Indonesia, temuan ini menantang cara lama memandang sejarah kebudayaan sebagai rangkaian pengaruh yang datang dari luar, dari India, Arab, Cina, atau Eropa. Lukisan di Metanduno menunjukkan bahwa jauh sebelum arus besar peradaban itu datang, manusia di kepulauan ini telah membangun dunia simboliknya sendiri.
Mereka bukan halaman kosong yang menunggu ditulisi sejarah, melainkan subjek aktif yang ikut membentuk fondasi kebudayaan manusia sejak fase paling awalnya. Indonesia, dalam peta ini, bukan hanya pewaris peradaban, tetapi turut menjadi salah satu tempat kelahirannya.
Lebih jauh lagi, temuan ini memberi peluang untuk menata ulang cara pembangunan memandang warisan budaya. Bukan sebagai beban yang menghambat modernisasi, tetapi sebagai modal pengetahuan yang bisa menumbuhkan pendidikan, riset, dan ekonomi berbasis kebudayaan.
Dari gua yang sunyi, lahir kemungkinan baru: bahwa sejarah terdalam justru bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih berakar dan lebih bermakna.
Tantangan Masa Depan
Namun ketenaran membawa risiko. Lukisan gua adalah arsip yang sangat rapuh. Perubahan kelembapan, sentuhan manusia, hingga mikroorganisme yang dibawa pengunjung bisa merusak pigmen yang bertahan puluhan ribu tahun. Banyak situs seni gua dunia kehilangan detailnya bukan karena usia, melainkan karena interaksi modern yang tak terkendali.
Karena itu, tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan perlindungan. Dokumentasi digital, pembatasan akses, serta keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci agar Metanduno tidak hanya terkenal, tetapi juga lestari. Lebih dari sekadar objek penelitian, gua ini adalah ruang hidup sejarah yang harus dirawat bersama.
Di salah satu sudut dinding Liang Metanduno, cap tangan itu masih bertahan, merahnya telah pudar, tepinya mulai kabur. Tak ada yang tahu siapa yang menempelkannya, atau untuk siapa pesan itu ditinggalkan. Tapi jarak waktu yang demikian jauh justru membuatnya terasa semakin dekat.
Karena pada akhirnya, jejak tangan itu menyampaikan sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk diingat, untuk menandai keberadaan, untuk berkata bahwa di titik kecil di dunia ini, pernah ada kehidupan yang berpikir, merasa, dan berharap.
Penyair Chile, Pablo Neruda, pernah menulis, “Para que nada nos separe, que nada nos una, como una huella en la arena”. Agar tak ada yang memisahkan kita, agar tak ada yang benar-benar menyatukan kita, selain jejak di pasir. Jejak itu rapuh, mudah terhapus, tetapi justru karena itulah ia menjadi begitu berharga.
Seperti cap tangan di Metanduno, yang bertahan melampaui badai, zaman es, dan perubahan peradaban, lalu sampai kepada kita sebagai pesan paling sederhana tentang kemanusiaan.
Dan mungkin, setelah puluhan ribu tahun, itulah yang akhirnya ingin disampaikan oleh tangan di dinding batu itu: bahwa sebelum ada nama, sebelum ada peta, sebelum ada negara, manusia telah lebih dulu meninggalkan tanda kecil tentang dirinya. Sebuah jejak yang berkata pelan, namun tak pernah benar-benar hilang, “I’ve been there!”
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini mukim di Bogor, Jawa Barat








