MAKASSAR, UNHAS.TV - Ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama oleh nelayan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kini mulai dilirik sebagai bahan baku pakan ternak.
Inovasi itu dikembangkan dosen dan mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin melalui program pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau LPPM Unhas.
Program tersebut berangkat dari persoalan yang lama dihadapi nelayan di Kelurahan Limpomajang, Kabupaten Soppeng. Ikan sapu-sapu mendominasi perairan tawar setempat.
Bagi nelayan, kehadiran ikan ini lebih sering menimbulkan kerugian ketimbang manfaat. Jumlahnya yang melimpah membuat ikan sapu-sapu kerap memenuhi jaring tangkapan dan menggantikan ikan bernilai ekonomis.
Selain itu, tekstur tubuh ikan sapu-sapu yang keras kerap merusak jaring nelayan. Karena tidak umum dikonsumsi, ikan tersebut biasanya hanya dibuang dan menjadi limbah perairan. Kondisi itu menarik perhatian tim Fakultas Peternakan Unhas untuk mencari cara pemanfaatan yang lebih produktif.
Ketua Tim Pengabdian, Dr Ir Agustina Abdullah SPt MSi IPM ASEAN Eng mengatakan gagasan pemanfaatan ikan sapu-sapu muncul setelah ia turun langsung ke lokasi. Saat itu, ia melihat hasil tangkapan nelayan dalam jumlah besar, tetapi seluruhnya berupa ikan sapu-sapu.
“Pada saat itu saya turun langsung ke lokasi di Soppeng, dan saya melihat ada hasil tangkapan nelayan sampai dua perahu yang isinya ikan sapu-sapu semua, tapi justru dibuang,” kata Agustina di Kampus Unhas Tamalanrea, Sabtu (2/5/2026).
Menurut dosen Departemen Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan Unhas itu, nelayan menganggap ikan sapu-sapu sebagai hama karena jumlahnya banyak, merusak jaring, dan tidak bisa dikonsumsi manusia.
Dari temuan lapangan tersebut, tim kemudian mengkaji kemungkinan pemanfaatannya, dari limbah yang terbuang menjadi bahan pakan ternak.
Pada saat yang sama, peternak menghadapi persoalan lain, yakni mahalnya harga pakan. Komponen pakan menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha peternakan.
Tepung ikan, yang biasa digunakan sebagai sumber protein, memiliki harga relatif tinggi dan ikut memengaruhi biaya produksi.
Agustina mengatakan biaya pakan bahkan dapat mencapai sekitar 80 persen dari total biaya usaha peternakan. Beban tersebut membuat peternak perlu mencari sumber protein alternatif yang lebih terjangkau tanpa mengabaikan kebutuhan nutrisi ternak.
Lakukan Uji Laboratorium
>> Baca Selanjutnya
Inovasi tim Pengabdian kepada masyarakat Unhas mengolah Ikan Sapu-Sapu menjadi pakan ternak sarat gizi. (Dok PKM Unhas)








