
Dosen Sosek Peternakan Unhas sebagai ketua tim PKM Dr Ir Agustina Abdullah SPt MSi IPM ASEAN Eng. (Unhas TV/Zahra Tsabita)
Tim pengabdian kemudian mengambil sampel ikan sapu-sapu dan melakukan uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan kandungan protein ikan tersebut cukup tinggi. Pengujian lanjutan juga dilakukan untuk memastikan aspek keamanan pemanfaatannya sebagai bahan pakan.
“Hasilnya cukup mengejutkan, karena kandungan proteinnya ternyata tinggi. Kemudian kami lanjutkan pengujian untuk memastikan keamanannya, dan hasilnya masih dalam batas aman untuk dimanfaatkan,” ujar Agustina.
Ia mengatakan kondisi perairan di Soppeng yang relatif belum tercemar menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pemanfaatan ikan sapu-sapu.
Setelah melalui pengujian, tim mulai mengembangkan proses pengolahan ikan tersebut menjadi tepung ikan sebagai bahan baku pakan ternak.
Proses pengolahan dirancang sederhana agar dapat diterapkan masyarakat. Ikan yang ditangkap dibersihkan terlebih dahulu.
Bagian isi perut dibuang, lalu ikan direbus untuk mengurangi bau dan membunuh bakteri. Setelah itu, ikan dikeringkan menggunakan alat pengering modern yang didukung program.
Pengeringan dengan alat modern membuat proses produksi tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca. Setelah kering, ikan digiling hingga menjadi tepung. Tepung ikan sapu-sapu kemudian dapat dicampur dengan bahan lain, seperti dedak, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pakan ternak.
Tim Unhas juga sempat mencoba mengembangkan produk pangan berupa abon ikan sapu-sapu. Namun, upaya tersebut belum menjadi fokus utama karena bagian daging ikan sapu-sapu relatif sedikit.
Karena itu, pemanfaatan sebagai pakan ternak dinilai lebih efisien dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Kami sebenarnya sempat mencoba membuat abon dari ikan sapu-sapu, tapi karena dagingnya sangat sedikit, akhirnya kami lebih fokus pada pemanfaatannya sebagai pakan ternak,” kata Agustina.
Program yang mulai dilaksanakan pada 2025 itu terus berlanjut hingga kini melalui skema Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus.
Selain melibatkan akademisi dan mahasiswa, program ini juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperkuat fasilitas pengolahan pakan.
Inovasi tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Nelayan yang sebelumnya membuang ikan sapu-sapu kini dapat menjual hasil tangkapannya. Di sisi lain, peternak memperoleh alternatif pakan dengan harga lebih terjangkau.
Bagi Unhas, program ini menjadi contoh pengabdian berbasis riset yang langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Persoalan limbah perairan dan mahalnya pakan ternak dipertemukan dalam satu solusi, menjadikan ikan yang dulu dianggap hama sebagai sumber manfaat ekonomi.
(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)








