
Di titik inilah Fakultas Ekonomi Unhas harus kembali memosisikan dirinya. Bukan hanya sebagai tempat belajar neraca dan makroekonomi, tapi sebagai ruang pembacaan zaman.
Dinamika baru seperti crypto, kecerdasan buatan, atau pasar digital, bukan sekadar tren teknologi. Ia adalah realitas ekonomi yang membentuk cara baru orang hidup, bekerja, dan—atau—terpinggirkan.
Fakultas ini punya sejarah: pernah menyambut Hatta, pernah menjadi rumah bagi benih gagasan ekonomi kerakyatan yang kini tumbuh di panggung nasional. Maka ia juga punya tanggung jawab: memotret dan mengarahkan ulang ekonomi digital dalam kerangka keadilan sosial, sebagaimana cita-cita Hatta.
Mungkin benar, sejarah tak selalu bekerja secara linier. Tapi dalam diri JK, kita melihat sesuatu yang jarang: seorang pemimpin yang tidak melupakan siapa yang pernah mengajarinya berpikir.
Dan kita belajar bahwa kadang, warisan paling penting bukan terletak dalam patung atau nama jalan. Tapi dalam seseorang yang dulu duduk sebagai asisten—dan kemudian melanjutkan pelajaran itu, dalam tindakan.
Seperti pernah dikatakan Mohammad Hatta: "Amal usaha tanpa dasar keadilan adalah kekejaman yang berlapis."
Dan keadilan itu, hari ini, ditantang oleh wajah baru ekonomi: blockchain yang tak tersentuh negara, AI yang tak kenal nurani, dan pasar digital yang tak selalu memberi ruang bagi yang kecil.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus kuliah di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.