Oleh: Khusnul Yaqin*
Dalam pusaran isu lingkungan yang terus berkembang, kita sering kali fokus pada hal-hal besar: pencemaran industri, deforestasi, atau perubahan iklim global. Namun, di balik kompleksitas itu, terdapat pendekatan sederhana namun revolusioner yang berasal dari dunia mikro—khususnya dari embrio ikan mungil bernama Oryzias celebensis, atau ikan medaka Celebes. Melalui detak jantung embrionya, kita kini memiliki sebuah alat biomarker yang sederhana, non-invasif, dan potensial sebagai penanda awal terhadap pencemaran lingkungan perairan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Hasanuddin, Makassar, dan diterbitkan dalam jurnal internasional Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi 2025 (https://ejabf.journals.ekb.eg/?_action=article&vol=52746&issue=54176&_is=&page=4&max_rows=25). Dalam penelitian tersebut, embrio ikan medaka Celebes diekspos dengan sinar ultraviolet C (UV-C) dengan durasi berbeda, dan detak jantung embrionya diukur untuk melihat respons fisiologisnya terhadap stres lingkungan.

Hasil penelitian dari tim peneliti Universitas Hasanuddin, Makassar diterbitkan dalam jurnal internasional Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi 2025. Credit:Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries Zoology Department, Faculty of Science, Ain Shams University, Cairo, Egypt.
Hasilnya mengejutkan: paparan UV-C selama 10 hingga 15 menit per hari selama tiga hari mengakibatkan perubahan signifikan pada detak jantung embrio. Detak jantung yang meningkat secara tidak normal (tachycardia) dan kemudian menurun drastis menunjukkan bahwa UV-C menyebabkan stres dan bahkan potensi kerusakan fisiologis pada level embrionik. Lebih menariknya, embrio yang hanya terpapar selama lima menit menunjukkan respons yang relatif normal, menunjukkan ambang batas ketahanan terhadap paparan tersebut.
Mengapa ini penting? Karena detak jantung embrio ikan bisa diamati tanpa membedah atau mengorbankan hewan tersebut. Dengan tubuh embrio yang transparan, organ dalam seperti jantung dapat diamati dengan mikroskop sederhana. Ini berarti kita bisa memantau kualitas lingkungan tanpa harus menggunakan metode uji yang mahal, kompleks, atau destruktif.
Di tengah mahalnya instrumen deteksi polutan dan keterbatasan laboratorium lingkungan di banyak daerah pesisir Indonesia, pendekatan ini sangat menjanjikan. Apalagi, ikan medaka Celebes (Oryzias celebensis) adalah spesies asli perairan Sulawesi yang mudah dibudidayakan dan memiliki siklus hidup yang cepat. Dengan metode ini, kita bisa menciptakan sistem peringatan dini yang murah dan efektif untuk mendeteksi toksisitas di perairan.
Lebih jauh lagi, metode ini membuka peluang integrasi dengan teknologi digital. Detak jantung embrio yang diukur secara optik sangat memungkinkan untuk dikembangkan dalam sistem berbasis Internet of Things (IoT). Bayangkan sensor mikro yang ditempatkan di perairan strategis, memantau telur ikan secara real-time, dan mengirimkan data ke laboratorium pusat atau bahkan ke ponsel pemangku kebijakan lokal. Teknologi canggih yang selama ini tampak jauh dari jangkauan, kini bisa dibangun dari dasar yang sangat sederhana.
Tentu, ini bukan berarti kita harus mengandalkan satu metode saja dalam menanggulangi pencemaran lingkungan. Namun, penelitian ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus mahal atau rumit. Dalam dunia ekotoksikologi, kesederhanaan justru bisa menjadi kekuatan. Penggunaan biomarker seperti detak jantung embrio Oryzias celebensis menandai era baru pengawasan lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.