Opini

Detak Jantung Embrio Ikan Kecil, Langkah Besar untuk Lingkungan Akuatik



Ikan medaka Celebes (Oryzias celebensis) adalah spesies asli perairan Sulawesi yang mudah dibudidayakan dan memiliki siklus hidup yang cepat. Credit: Repository Universitas Hasanuddin.
Ikan Medaka Celebes (Oryzias celebensis) adalah spesies asli perairan Sulawesi yang mudah dibudidayakan dan memiliki siklus hidup yang cepat. Credit: Repository Universitas Hasanuddin.


Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya menggali potensi lokal. Ketika dunia sibuk menggunakan spesies asing seperti Danio rerio (ikan zebra), para peneliti dari Indonesia justru membuktikan bahwa kita memiliki spesies endemik yang sama andalnya, bahkan lebih cocok digunakan di lingkungan tropis kita sendiri. Ini adalah semangat dekolonisasi ilmu yang patut diapresiasi dan terus dikembangkan.

Kita perlu mulai menoleh pada pendekatan yang lebih manusiawi, berakar lokal, dan berkelanjutan dalam menjaga bumi. Dari sebutir embrio ikan kecil, kita belajar bahwa upaya penyelamatan lingkungan tak harus menunggu teknologi luar biasa atau anggaran miliaran rupiah. Kadang, jawabannya ada di laboratorium kampus, di balik mikroskop, dan di pikiran para peneliti yang mencintai perairan dan kehidupan di dalamnya.

Dengan potensi besar ini, kita berharap pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas bisa melihat nilai penting dari pendekatan biomarker dengan sentinel organism lokal seperti ini. Bukan hanya sebagai metode ilmiah, tetapi juga sebagai perwujudan konsep ekologi transenden—bahwa manusia memiliki kepekaan spiritual untuk merasakan penderitaan makhluk hidup lain. Dalam hal ini, detak jantung embrio ikan yang terganggu akibat pencemaran bukan sekadar data ilmiah, tetapi juga suara sunyi dari kehidupan akuatik yang tengah menderita. Maka, biomarker ini menjadi jembatan antara ilmu empiris dan kepekaan ekologis kita terhadap sesama makhluk hidup dan bumi yang kita huni bersama, sebagai warisan lestari bagi generasi mendatang.

Hadist Nabi saw : Barangsiapa yang tidak mencintai yang ada di bumi, maka tidak akan dicintai oleh yang ada di langit (Mizanul Hikmah).

                                                                                             Tamalanrea mas, 2 April 2025

*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin