.webp)
SOCIAL MAPPING - Tim Ekspedisi Patriot 16 Unhas menggelar social mapping di Aula Koramil Weri–Saharey, Fakfak Timur, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini memetakan persoalan ekonomi kampung melalui diskusi kolaboratif bersama masyarakat. (Dok TEP Unhas)
Kepala Kampung Weri, Marteen Fuad, kemudian mengungkap persoalan utama yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, kawasan Weri–Saharey memiliki potensi besar dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Namun, potensi tersebut belum mampu memberikan dampak ekonomi maksimal karena keterbatasan kapasitas sumber daya manusia.
“Sumber daya alam kita berlimpah, tetapi belum menghasilkan nilai tambah optimal karena keterbatasan keterampilan pengolahan, manajemen usaha, dan pemasaran. BUMKam harus menjadi jembatan penggerak ekonomi warga, bukan sekadar formalitas administratif,” kata Marteen.
Dalam sesi eksplorasi masalah, sejumlah persoalan utama muncul. Perwakilan Dewan Adat, Mince Gosgos, menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang menghambat aktivitas ekonomi warga.
Kerusakan akses transportasi menyebabkan biaya distribusi hasil bumi meningkat karena masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membawa produk ke pasar.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan kampung serta memperluas keterlibatan pemuda dalam berbagai program peningkatan kapasitas.
Persoalan lain muncul dari pengelolaan BUMKam Saharey. Sekretaris BUMKam, Abdul Samay, menjelaskan bahwa lembaga tersebut belum mampu berjalan optimal karena keterbatasan modal awal, lemahnya koordinasi pengurus, serta belum adanya mekanisme penyerapan hasil panen yang memberikan keuntungan bagi masyarakat.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani dan nelayan memilih menjual hasil produksi langsung ke kota dibandingkan melalui BUMKam.
Forum juga menemukan persoalan terkait minimnya ruang pengembangan pemuda. Tidak aktifnya organisasi kepemudaan serta keterbatasan fasilitas olahraga dan pelatihan keterampilan membuat potensi generasi muda belum berkembang secara maksimal.
Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, TEP 16 Unhas menyusun sejumlah rekomendasi strategis. Tim akan melakukan revitalisasi BUMKam melalui penguatan tata kelola, penyusunan unit usaha berbasis potensi lokal, serta pembangunan mekanisme kerja sama yang lebih transparan.
Pendampingan juga akan diarahkan pada peningkatan nilai tambah komoditas melalui pengolahan pascapanen agar masyarakat tidak terus menjual hasil produksi dalam bentuk mentah dengan harga rendah.
Tim juga merancang penguatan kelompok pemuda melalui pembentukan wadah kreativitas, pelatihan keterampilan, serta pengembangan peluang usaha berbasis ekonomi kreatif.
Sementara persoalan infrastruktur akan menjadi bagian dari agenda advokasi melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk mendorong perbaikan akses jalan kawasan transmigrasi.
Koordinator TEP Tim 16, Nur Vidiah Rachmadani, mengatakan seluruh masukan masyarakat akan menjadi dasar penyusunan dokumen kerja sebelum memasuki tahap intervensi berikutnya.
“Catatan dan peta masalah yang diperoleh dari masyarakat akan dirumuskan menjadi dokumen kerja resmi. Selanjutnya, hasil tersebut akan disinkronkan dengan program instansi teknis terkait di Kabupaten Fakfak,” ujarnya.
Melalui kegiatan *social mapping* ini, Tim Ekspedisi Patriot 16 Unhas berharap pendampingan di kawasan Weri–Saharey tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat ekonomi kampung berbasis kolaborasi masyarakat dan pemerintah. (*)


-300x169.webp)





