MAKASSAR, UNHAS.TV – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan turut mengganggu aktivitas mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Kondisi ini dirasakan mahasiswa saat menjalankan aktivitas perkuliahan, mengerjakan tugas, hingga menggunakan perangkat elektronik sehari-hari.
Pemadaman listrik bergilir berlangsung sejak 31 Agustus 2026 dan masih dirasakan di sejumlah wilayah Makassar pada 3 September 2026. Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus menyesuaikan aktivitas, termasuk menyiapkan perangkat elektronik sebelum listrik padam.
Bagi mahasiswa, pemadaman listrik tidak hanya berdampak pada penerangan, tetapi juga jaringan komunikasi dan aktivitas akademik.
Arief Hidayat, mahasiswa Prodi Fisioterapi angkatan 2024, mengatakan pemadaman listrik cukup merugikan karena turut memengaruhi kelancaran jaringan dan komunikasi.
“Kalau menurut saya cukup merugikan, karena kalau pemadaman listrik juga itu jaringan kurang lancar juga, nah itu yang bisa menghambat komunikasi. Terus kalau pemadaman listriknya malam, apalagi malam hari itu butuh sekali lampu, nah itu sangat merugikan,” kata Arief.
Hal serupa disampaikan Zara, mahasiswa Prodi Fisioterapi angkatan 2024. Ia menilai pemadaman listrik menghambat aktivitas mahasiswa, terutama saat membutuhkan penerangan untuk mengerjakan tugas.
“Kalau menurut saya itu cukup menghambat aktivitas, bagi seorang mahasiswa, karena kalau pemadaman listrik itu, mulai dari sinyalnya agak kurang, terus bisa juga dari segi penerangannya untuk mengerjakan tugas itu berkurang, jadi agak terhambat di bagian situ,” tutur Zara.
Sementara itu, Eirencika Anugra, mahasiswa Prodi Sosiologi angkatan 2025, mengatakan pemadaman juga mengganggu aktivitas karena mahasiswa membutuhkan listrik untuk mengisi daya perangkat elektronik.
“Menurut saya sedikit terganggu di aktivitas sehari-hari, karena bisa dibilang itu setiap harinya kita menggunakan untuk charge HP, charge laptop, jadi menurut saya terganggu,” ujarnya.
Terapkan Kebiasaan Hemat Energi
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa turut menerapkan sejumlah kebiasaan sederhana untuk menghemat penggunaan energi.
Zara mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah mematikan lampu sebelum berangkat ke kampus.
“Lebih diperhatikan lagi, seperti lampu-lampunya dimatikan ketika mau berangkat ke kampus,” tambah Zara.
Sementara Arief memilih mencabut perangkat yang tidak digunakan, termasuk charger dan kipas angin.
“Colok-colokan yang ada di rumah itu atau di kos, dicabut terlebih dahulu, seperti colokan buat cas HP dan sebagainya, seperti colokan kipas angin,” jelasnya.
Eirencika juga menerapkan kebiasaan serupa dengan mematikan lampu ketika keluar kos atau sebelum tidur, serta mengisi daya perangkat sebelum beraktivitas di kampus.
“Untuk menghemat listrik energi itu mungkin setiap keluar kos atau tidur atau malam-malam itu padamkan listrik, padamkan lampu biar hemat, sama untuk lebih hemat lagi itu bisa sebelum ke kampus atau lagi tidur itu bisa charge HP atau charge laptop dulu,” kata Eirencika.
Kebiasaan mematikan lampu dan perangkat listrik yang tidak digunakan serta mengisi daya perangkat sebelum beraktivitas menjadi langkah sederhana yang dilakukan mahasiswa untuk menghemat energi sekaligus mengantisipasi pemadaman listrik.
(Husnul Hatima / Nurathirah / Unhas TV)
PEMADAMAN - Arief Hidayat dan Zara mahasiswa Prodi Fisioterapi angkatan 2024,mengomentari kondisi pemadaman listrik bergilir oleh PLN di sejumlah wilayah di Makassar, Jumat (4/9/2026). (Unhas TV/Athirah)







-300x188.webp)
