Lingkungan
Mahasiswa

Jumantik Muda Bergerak, SMAN 5 Sidrap Siaga Cegah DBD dari Sekolah Sejak Dini

SANITASI - Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas mengedukasi siswa SMAN 5 Sidrap tentang sanitasi dan PSN 3M Plus di sekolah untuk mencegah DBD, Kamis (23/7/2026). (Dok KKN PK Unhas)

SIDRAP, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan Gelombang 116 Universitas Hasanuddin Posko Desa Teppo menggelar edukasi sanitasi lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk di SMAN 5 Sidenreng Rappang, Kamis (23/7/2026).

Program bertajuk “Jumantik Muda” itu menyasar pelajar agar terlibat langsung dalam pencegahan Demam Berdarah Dengue atau DBD.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Poppy Evelyne Asik Sombo, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan Lingkungan, Universitas Hasanuddin.

Edukasi dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian siswa terhadap sanitasi lingkungan melalui penerapan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN 3M Plus.

Program ini digelar sebagai respons atas pemberantasan sarang nyamuk di Desa Teppo yang belum mencapai hasil optimal.

Mahasiswa KKN berharap pelajar dapat menjadi agen perubahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sekaligus mengajak keluarga serta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Dalam sesi pemaparan, mahasiswa menjelaskan proses penularan penyakit melalui nyamuk, karakteristik nyamuk Aedes, serta berbagai tempat penampungan air yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan jentik.

Siswa juga diperkenalkan pada langkah PSN 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta melakukan tindakan pencegahan tambahan.

Kahfi, salah seorang siswa SMAN 5 Sidrap, mengatakan kebersihan lingkungan menjadi kunci dalam mencegah penyebaran DBD. “Sanitasi lingkungan sangat penting agar penyakit DBD tidak semakin merajalela serta nyamuk Aedes tidak terus berkembang biak,” ujarnya.

Menurut dia, pengenalan terhadap tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk perlu dilakukan sejak dini. Pengetahuan itu dinilai dapat membantu siswa mengambil tindakan sederhana di rumah dan sekolah sebelum jentik berkembang menjadi nyamuk dewasa.

Edukasi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan diskusi. Para siswa didorong menjadi Juru Pemantau Jentik atau Jumantik di lingkungan masing-masing.

Mereka diminta memeriksa tempat penampungan air secara berkala dan mengajak anggota keluarga menerapkan PSN 3M Plus secara konsisten.

Pemeriksaan jentik dilakukan dengan mengamati bak mandi, ember, talang air, pot tanaman, serta barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Melalui praktik sederhana tersebut, siswa diharapkan mampu mengenali risiko di sekitarnya dan segera melakukan pembersihan.

Kebiasaan memantau jentik juga diharapkan menjadi bagian dari rutinitas kebersihan sekolah dan rumah setiap pekan secara mandiri dan konsisten.

Kepala SMAN 5 Sidenreng Rappang menyambut baik program tersebut. Ia menilai lingkungan sekolah yang rindang juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk apabila tidak dipantau.

“Memang perlu ada edukasi terkait pemberantasan sarang nyamuk. Kondisi lingkungan sekolah yang rindang ini berpotensi menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk,” katanya.

Melalui program Jumantik Muda, mahasiswa KKN Unhas berharap siswa tidak berhenti pada pemahaman materi.

Pelajar diharapkan mampu menerapkan pemeriksaan jentik secara rutin, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggerakkan keluarga serta teman sebaya.

Keterlibatan pelajar dinilai dapat memperkuat upaya pencegahan DBD secara berkelanjutan di rumah, sekolah, dan lingkungan Desa Teppo. (*)