Ekonomi
Program
Unhas Speak Up

Dari Kampus untuk Kampus: Langkah Berani Unhas Kelola Bank Sendiri

Direktur Utama Bank Unhas, Henry Kisinger Sappetaw, saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. (Dok Unhas TV/Paramitha)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperluas perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga dalam sektor ekonomi melalui kehadiran Bank Unhas.

Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam mendorong kemandirian kampus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).

Direktur Utama Bank Unhas, Henry Kisinger Sappetaw, menjelaskan bahwa Unhas merupakan salah satu dari sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki institusi perbankan sendiri. Bahkan, Unhas tercatat sebagai kampus kedua setelah Universitas Gadjah Mada yang memiliki bank.

“Unhas merupakan perguruan tinggi berbadan hukum. Saya melihat Unhas menjadi kampus kedua di Indonesia yang memiliki bank sendiri, setelah UGM,” ujarnya.

Bank Unhas sendiri efektif beroperasi sekitar enam bulan terakhir, setelah melalui proses panjang akuisisi sebuah bank yang sebelumnya berlokasi di Kabupaten Luwu Timur, tepatnya di Malili.

Relokasi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi menghadirkan layanan keuangan yang terintegrasi di lingkungan kampus.

Henry mengungkapkan, pendirian Bank Unhas dilatarbelakangi oleh besarnya potensi perputaran ekonomi di lingkungan kampus.

Selama ini, aktivitas bisnis dan keuangan di Unhas banyak dikelola oleh pihak eksternal. Melihat peluang tersebut, pimpinan universitas berinisiatif untuk mengelola potensi tersebut secara mandiri.

“Kenapa tidak kita kelola sendiri? Perputaran uang di Unhas ini sangat besar. Selama ini justru pihak luar yang banyak menikmati peluang tersebut,” jelasnya.

Sebagai bank yang berstatus Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Bank Unhas memiliki cakupan layanan yang lebih terbatas dibandingkan bank umum. Namun demikian, keberadaannya difokuskan untuk mendukung kebutuhan internal kampus sekaligus menjangkau masyarakat luas.

Dalam enam bulan awal operasionalnya, Bank Unhas telah menjalankan sejumlah program pembiayaan, terutama pada sektor konsumtif bagi dosen dan tenaga kependidikan.

Selain itu, bank ini juga mulai menyasar sektor produktif, seperti pembiayaan usaha mikro di lingkungan kampus, termasuk kantin dan pelaku UMKM yang jumlahnya mencapai ratusan unit.

“Selama ini kami tidak hanya fokus pada pembiayaan konsumtif, tetapi juga mulai masuk ke sektor produktif, termasuk UMKM di lingkungan kampus,” ungkap Henry.

Tak hanya itu, Bank Unhas juga menghadirkan inovasi berupa kredit pendidikan, khususnya bagi calon mahasiswa jalur mandiri. Program ini dirancang untuk membantu orang tua dalam memenuhi biaya pendidikan yang relatif besar dengan skema pembayaran cicilan.

“Kami melihat ada calon mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk kuliah di Unhas, tetapi terkendala biaya. Melalui kredit pendidikan ini, kami ingin membantu agar mereka tetap bisa melanjutkan studi,” tambahnya.

Selain pembiayaan mahasiswa baru, Bank Unhas juga menyediakan fasilitas kredit untuk kebutuhan akademik lainnya, seperti pendanaan penelitian dan publikasi jurnal bagi dosen, serta pembiayaan bagi petani melalui kerja sama dengan pihak ketiga.

Dengan berbagai program tersebut, Bank Unhas diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi kampus yang terintegrasi dan berkelanjutan. Konsep yang diusung pun menegaskan semangat kemandirian, yakni dari Unhas, oleh Unhas, dan untuk Unhas.

“Pada prinsipnya, apa yang kami lakukan ini adalah bagian dari upaya bersama untuk saling mendukung. Karena pada akhirnya, manfaatnya akan kembali ke Unhas juga,” tutupnya.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)