Ekonomi

Ekonomi Naratif Dinilai Mampu Membentuk Realitas, Ini Pandangan Dosen FEB Unhas

NARATIF - Dr Tadjuddin Parenta MA membahas ekonomi naratif di EconoTalks Unhas. Foto: Unhas TV

MAKASSAR, UNHAS.TV - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas) Dr Tadjuddin Parenta MA menyebut bahwa narasi atau cerita yang beredar di masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap jalannya perekonomian.

Fenomena tersebut dikenal sebagai ekonomi naratif yakni cabang kajian ekonomi yang mempelajari bagaimana cerita yang menyebar secara luas mampu membentuk ekspektasi, emosi, dan keputusan para pelaku ekonomi.

Dalam wawancara di program Econotalks Unhas TV, Kamis (15/1/2026), Tadjuddin menjelaskan bahwa narasi sejatinya bukan berasal dari disiplin ilmu ekonomi, melainkan dari sastra. Namun, dalam konteks ekonomi, narasi dimaknai sebagai cerita dari mulut ke mulut yang menyebar secara massal dan memengaruhi perilaku kolektif masyarakat. 

"Ekonomi naratif mempelajari bagaimana cerita-cerita ini bisa berdampak nyata terhadap perekonomian," ujarnya.

Ia menguraikan sejumlah karakteristik utama ekonomi naratif. Pertama adalah viralitas, di mana narasi dapat menyebar dengan sangat cepat layaknya epidemi. Kedua, narasi mampu memengaruhi emosi dan tindakan pelaku ekonomi. 

Mengutip pemikiran John Maynard Keynes, Tadjuddin menyebut bahwa manusia tidak selalu rasional dalam mengambil keputusan ekonomi karena dipengaruhi oleh animal spirits atau dorongan emosional dan insting.

Karakteristik berikutnya adalah kemampuan narasi dalam membentuk persepsi dan ekspektasi, baik optimisme maupun pesimisme. Bahkan, narasi dapat menciptakan realitas melalui mekanisme self-fulfilling prophecy, yakni kondisi ketika sesuatu yang awalnya belum tentu benar justru menjadi kenyataan karena dipercaya secara luas. 

"Terakhir, ekonomi naratif bersifat dinamis, mudah berubah mengikuti konteks dan isu yang berkembang," tambahnya.

Menurutnya, ekonomi naratif bukanlah fenomena baru, melainkan pelengkap terhadap asumsi rasionalitas dalam ilmu ekonomi. Ia merujuk pada pemikiran peraih Nobel Ekonomi 2013, Robert Shiller, yang menyatakan bahwa bagi banyak orang, angka dan data sering kali kalah pengaruh dibandingkan cerita.

"Manusia lebih mudah percaya pada narasi, apalagi jika disampaikan oleh figur yang dianggap kredibel," jelasnya.

Dalam praktiknya, narasi dapat berdampak positif maupun negatif. Sebagai contoh positif, ia menyinggung narasi pembangunan kota cerdas (smart city) di Makassar yang mendorong munculnya berbagai kafe dan aktivitas ekonomi baru. Sebaliknya, narasi negatif seperti isu kebangkrutan bank dapat memicu kepanikan massal dan berujung pada bank rush, yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi.

Dosen Ekonomi itu juga menjelaskan faktor cognitive bias membuat orang cenderung mencari jalan pintas dalam mengambil keputusan, karena mengakses dan memahami data resmi membutuhkan usaha lebih. "Orang lebih mudah percaya cerita, apalagi jika datang dari tokoh yang dianggap berpengalaman," katanya.

Ia mengingatkan pentingnya sikap kritis dan skeptis terhadap informasi ekonomi yang beredar. Selain itu, pemerintah dinilai perlu berperan aktif dalam mengelola dan mengontra narasi negatif yang berpotensi melemahkan kepercayaan publik. 

"Narasi harus dikelola dengan baik, dan yang menyampaikannya harus memiliki kapabilitas serta integritas," tegasnya.

Mengacu pada pengalaman krisis ekonomi 1998 dan 2008, Tadjuddin menilai bahwa dampak krisis kerap diperparah oleh narasi negatif yang berkembang di masyarakat. Padahal, jika dibandingkan dengan negara lain, kondisi ekonomi Indonesia tidak selalu seburuk yang digambarkan. 

"Rasionalitas menuntut kita membandingkan banyak faktor, bukan hanya terpaku pada satu cerita," pungkasnya.(*)

Achmad Ghiffary M (UNHAS TV)