
Ia juga terlibat dalam Australia-Indonesia Centre, pernah menjadi Vice President Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, dan pada 2025 tercatat sebagai Visiting Fellow pada Indonesia Project di Crawford School of Public Policy, Australian National University.
Dunia akademiknya semakin luas, tetapi perhatian Sudirman tetap tertuju kepada orang-orang yang sering berada jauh dari pusat perhatian. Setelah narkoba dan HIV/AIDS, penelitiannya berkembang kepada kesehatan ibu dan anak, tenaga kesehatan komunitas, kemiskinan, serta sistem kesehatan.
Ia terlibat dalam REACHOUT Consortium yang mempelajari peranan tenaga kesehatan berbasis komunitas di sejumlah negara Asia dan Afrika. Dalam penelitian lain, ia bersama koleganya mencoba memahami mengapa sebagian masyarakat di Indonesia dan Ethiopia masih memilih penolong persalinan tradisional.
Dari penelitian-penelitian itu terlihat keyakinan yang konsisten: kesehatan selalu mempunyai konteks sosial. Rumah sakit dan puskesmas penting, tetapi kesehatan manusia sudah dibentuk jauh sebelum seseorang memasuki fasilitas kesehatan.
Rumah tempat tinggal, makanan yang dapat dibeli, sekolah yang dapat dijangkau, pekerjaan yang tersedia, lingkungan tempat tumbuh, dan hubungan sosial ikut menentukan kesempatan seseorang untuk menjalani kehidupan yang sehat.
Dari Lorong ke Kebun Kakao
Pada fase berikutnya, Sudirman masuk ke kebun-kebun kakao di Sulawesi Barat. Sekilas, jaraknya terasa jauh dari HIV/AIDS dan lorong Makassar. Namun jika perjalanan intelektualnya dibaca secara utuh, perpindahan itu justru memperlihatkan kesinambungan. Ia tetap sedang mempelajari hubungan antara kesehatan manusia dan dunia tempat manusia hidup.
Dalam proyek Australia-Indonesia Centre mengenai keberlanjutan pertanian kakao di Sulawesi, Sudirman bekerja bersama peneliti dari Universitas Hasanuddin, University of Sydney, dan IPB.
Kesehatan petani dilihat dalam sebuah ekosistem: kondisi tubuh memengaruhi kemampuan bekerja, kemampuan bekerja memengaruhi produktivitas, produktivitas menentukan pendapatan keluarga, sedangkan pendapatan berpengaruh terhadap makanan, pendidikan anak, dan akses pelayanan kesehatan.
Pendekatan One Health memungkinkan hubungan manusia, lingkungan, pertanian, hewan, dan ekonomi rumah tangga dibaca secara bersamaan.
Ilmu yang Melampaui Batas
Di Universitas Hasanuddin, perjalanan tersebut menempatkan Sudirman sebagai salah seorang akademisi yang mendorong penelitian lintas disiplin. Ia pernah terlibat dalam pengelolaan riset internasional di LPPM Unhas dan memimpin Center of Excellence for Interdisciplinary and Sustainability Sciences (CEISS) di Sekolah Pascasarjana Unhas.
Posisi itu terasa selaras dengan perjalanan intelektualnya. Dalam kehidupan nyata, batas antara kesehatan masyarakat, antropologi, sosiologi, pertanian, ekonomi, lingkungan, dan pembangunan tidak pernah setegas batas antardepartemen di universitas.
Kemiskinan tidak mengenal batas fakultas, sebagaimana HIV, kesehatan ibu, kehidupan petani, ketimpangan sosial, dan perubahan iklim juga tidak dapat dipahami hanya melalui satu disiplin.
Dalam fase mutakhir perjalanan akademiknya, perhatian Sudirman bergerak menuju hubungan antara krisis iklim, kesehatan, dan kerentanan sosial. Ia terlibat dalam kolaborasi Universitas Hasanuddin dan Monash University mengenai ketahanan terhadap perubahan iklim, terutama pada komunitas di Indonesia Timur.
Ia juga dikenal melalui Unhas Climate Crisis and Health Research Group yang memberi perhatian terhadap kerentanan kesehatan dan sosial akibat perubahan iklim di kawasan Wallacea.
Jika perjalanan penelitiannya diletakkan dalam satu garis panjang, ruang perhatian Sudirman terlihat terus membesar. Ia bermula dari orang dengan HIV dan pengguna narkoba, kemudian melihat lorong sebagai lingkungan sosial, masuk ke sistem kesehatan dan kehidupan petani, lalu sampai kepada hubungan manusia dengan lingkungan dan perubahan iklim.
Skalanya berubah, tetapi pertanyaannya tetap sama: bagaimana manusia dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bermartabat di tengah struktur sosial dan lingkungan yang tidak selalu berpihak kepadanya?
Seorang Ilmuwan yang Membaca Sastra
Di tengah perjalanan akademik itu, ada sesuatu dari Sudirman HN muda yang tampaknya tidak pernah benar-benar hilang: kecintaannya kepada buku dan kemampuannya melihat pengetahuan melampaui batas disiplin.
Ketika ditanya sebuah buku yang menurutnya perlu dibaca orang, Sudirman memilih Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Baginya, melalui novel itu orang dapat memahami kompleksitas Indonesia.
Pilihan tersebut terasa menarik karena datang dari seorang ilmuwan kesehatan. Barangkali di situlah terlihat hubungan antara Sudirman HN yang dahulu hidup dalam lingkungan sastra Tamalanrea dan Dr. Sudirman Nasir yang kemudian menjadi peneliti kesehatan masyarakat. Ia memahami bahwa angka dapat menunjukkan besarnya persoalan, tetapi cerita membantu kita memahami manusia yang berada di balik angka.
Statistik dapat menghitung jumlah orang yang hidup dengan HIV, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan bagaimana rasanya menyimpan ketakutan bahwa keluarga akan mengetahui penyakit yang diderita.
Data dapat menghitung pengguna narkoba, tetapi tidak dengan sendirinya menerangkan persahabatan, tekanan kelompok, kemiskinan, keberanian, rasa takut, dan harapan seorang anak muda di sebuah lorong Makassar. Survei dapat menunjukkan pendapatan petani, tetapi tidak selalu menangkap kecemasan sebuah keluarga ketika hasil kebun menurun sementara anak-anak harus tetap bersekolah.
Di wilayah itulah ilmu pengetahuan dan kemanusiaan bertemu, dan Sudirman memilih bekerja di pertemuan tersebut.
Kembali kepada Sudirman HN
Demi memahami Dr. Sudirman Nasir, kita mungkin harus kembali kepada Sudirman HN, anak muda yang dahulu berjalan di kampus Tamalanrea dengan ilmu kedokteran di satu sisi serta sastra dan pemikiran sosial di sisi lainnya. Ia datang ke Fakultas Kedokteran untuk mempelajari manusia, tetapi pergaulan intelektual mempertemukannya dengan kenyataan bahwa kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada diagram anatomi.
Sudirman memang tidak memilih jalan menjadi dokter klinis, tetapi ia tampaknya tidak pernah meninggalkan pertanyaan paling mendasar dalam dunia kedokteran: mengapa manusia sakit dan apa yang dapat dilakukan agar manusia dapat hidup lebih baik? Ia hanya memperluas ruang pemeriksaannya, dari tubuh manusia kepada lingkungan sosial tempat manusia menjalani kehidupan.
Lorong-lorong Makassar, komunitas orang dengan HIV, lingkungan pengguna narkoba, rumah kader kesehatan, kebun kakao, hingga kawasan yang menghadapi perubahan iklim kemudian menjadi ruang tempat Sudirman membaca manusia. Perjalanan itu membawanya jauh dari Makassar, tetapi secara intelektual ia seperti tidak pernah benar-benar meninggalkan lorong.
Lorong dalam perjalanan Sudirman Nasir akhirnya bukan sekadar gang sempit yang pernah menjadi lokasi penelitiannya. Lorong dapat dibaca sebagai metafora tentang cara melihat dunia dari tempat yang jarang menjadi pusat perhatian. Di sanalah statistik memperoleh nama dan wajah; di sanalah penyakit bertemu kemiskinan, persahabatan, stigma, keberanian, ketakutan, dan harapan.
Mungkin itulah salah satu warisan penting Sudirman Nasir sebagai seorang ilmuwan. Setelah berkeliling dunia, memasuki berbagai disiplin, dan membangun jejaring akademik yang luas, ia membawa ilmu pengetahuan kembali kepada pertanyaan yang sederhana tetapi mendasar: apakah kita sungguh-sungguh telah melihat manusia yang sedang kita bicarakan?
Dari lorong Makassar, Sudirman Nasir melihat dunia. Ia mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya harus selalu menemukan jalan pulang kepada manusia.
Selamat Jalan Kak Sudi. Semoga kami bisa mewarisi ketekunan, jejak intelektual, dan goresan syairmu yang selalu membekas di hati kami.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan knowledge strategist. Lulus di Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, dan Ohio University at Athens, Amerika Serikat. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.








