UNHAS.TV - Wabah flu burung yang melanda peternakan di AS memaksa lebih dari 23 juta unggas disembelih pada awal tahun 2025 ini, mengurangi pasokan telur secara drastis.
Akibatnya, industri makanan yang bergantung pada telur, seperti roti dan produk olahan lainnya, ikut terdampak. Beberapa toko grosir bahkan memberlakukan pembatasan jumlah telur yang boleh dibeli oleh konsumen.
Harga telur yang mencapai hampir $5 per lusin (senilai Rp82 ribu) dan bahkan menembus $10 (senilai Rp165 ribu) di beberapa tempat.
Menurut Dr. Michael Swanson, Kepala Ekonom Pertanian dari Wells Fargo Agri-Food Institute, harga telur kemungkinan masih akan tetap tinggi hingga 2025 karena pemulihan populasi ayam petelur membutuhkan waktu.
"Pasokan yang masih terbatas, ditambah biaya pakan dan tenaga kerja yang meningkat, membuat harga telur sulit untuk turun dalam waktu dekat," ujarnya dikutip dari VOA.
Di tengah lonjakan harga telur akibat wabah flu burung, warga Amerika Serikat mulai mencari solusi alternatif dalam memenuhi kebutuhan protein mereka.
Sebagian besar kini lebih memilih membeli daging ayam yang harganya lebih stabil dibandingkan telur. Namun, bagi mereka yang tetap mengandalkan telur, beternak ayam sendiri menjadi pilihan menarik.
Banyak rumah tangga kini mulai memelihara ayam di pekarangan mereka untuk mendapatkan pasokan telur yang lebih stabil. Ini bukan hanya tentang menghemat uang, tetapi juga tentang ketahanan pangan di tengah ketidakpastian pasar.
Namun, beternak ayam sendiri juga memiliki tantangan tersendiri, seperti biaya pakan, perawatan kesehatan, dan peraturan daerah yang melarang peternakan unggas di beberapa kawasan perumahan.
Di beberapa wilayah, meningkatnya tren beternak ayam rumahan bahkan mendorong toko perlengkapan hewan dan pertanian untuk meningkatkan stok anak ayam serta pakan unggas.
Permintaan untuk kandang ayam portabel dan alat pemanas anak ayam juga meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir.
Meskipun banyak orang yang mencoba bertahan dengan solusi rumah tangga, seperti memelihara ayam sendiri, tantangan lain tetap ada.
Infeksi flu burung yang masih berulang di peternakan besar dapat memperburuk situasi kapan saja. Ini berarti bahwa harga telur dan pasokannya masih akan berfluktuasi dalam beberapa bulan mendatang.
Diversifikasi Sumber Pangan
>> Baca Selanjutnya