Karir
Mahasiswa
Terkini

Dari Paduan Suara ke Panggung Wisuda, Kisah Wisudawan Unhas Imran Syarif Menjaga Irama Prestasi

PRESTASI - Muh Imran Syarief STP, Wisudawan Unhas Periode April 2026 yang mengharumkan nama Unhas dengan prestasi internasional bersama Paduan Suara Mahasiswa (PSM). (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Wisuda Universitas Hasanuddin periode April 2026 tak hanya mencatat angka kelulusan dan wisudawan terbaik dengan capaian IPK tertinggi.

Di balik toga dan prosesi seremonial di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Kamis (2/4/2026), tersimpan kisah-kisah personal lulusan dengan daya tahan, disiplin, dan cara mereka menegosiasikan mimpi.

Salah satunya datang dari Muhammad Imran Syarif Hidayatullah, wisudawan Fakultas Teknologi Pertanian, yang menuntaskan studi sambil aktif menorehkan prestasi bersama Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin (PSM Unhas).

Imran bukan tipe mahasiswa yang hanya bergerak di satu jalur. Selama empat setengah tahun kuliah, ia menjalani ritme akademik di bidang ilmu dan teknologi pangan, aktif dalam kegiatan laboratorium, berorganisasi, dan pada saat yang sama mengembangkan diri di panggung seni.

Di panggung PSM Unhas, ia tidak sekadar menjadi anggota, tetapi ikut membawa nama 'Kampus Merah' dalam berbagai ajang, termasuk kompetisi nasional dan internasional.

Bagi Imran, pengalaman bersama PSM bukan sebatasa pelengkap masa kuliah, melainkan salah satu titik balik dalam hidupnya.

Dari ruang latihan hingga panggung kompetisi, ia menemukan kepercayaan diri yang kemudian ikut membentuk perjalanan akademiknya. Pengalaman itu pula yang ia sebut sebagai salah satu momen paling membanggakan selama menjadi mahasiswa.

“Pengalaman yang paling berkesan yaitu ketika saya mengikuti lomba-lomba internasional dengan PSM Unhas karena itu merupakan salah satu titik balik, salah satu momen yang sangat membanggakan dari diri saya,” kata Imran.

Bawakan Lagu Solo untuk Hadirin

Ada simbol yang menarik dalam wisuda hari itu. Pada hari kedua prosesi wisuda April 2026, Imran tidak hanya hadir sebagai lulusan.

Ia juga tampil membawakan lagu secara solo di hadapan pimpinan universitas, sivitas akademika, wisudawan lain, dan para orang tua.

Penampilan itu seperti menandai satu lintasan utuh, dari panggung lomba bersama PSM menuju panggung kehormatan wisuda. Dari ruang ekspresi seni menuju pengakuan atas capaian akademik, yakni sarjana.

Namun capaian itu tidak dibangun dengan jalan yang ringan. Imran mengaku tantangan terbesarnya selama kuliah bukan semata soal materi perkuliahan, melainkan bagaimana menjaga pembagian waktu agar semua peran tetap berjalan.

Selain menyelesaikan skripsi, ia juga aktif berorganisasi dan menjalankan usaha pribadi. Di situlah, kata dia, kunci perjalanannya.

“Sebenarnya lebih ke manajemen waktu, jadi lebih ke manajemen waktu, membagi waktu antara pekerjaan, kan saya ada usaha juga, jadi manajemen waktu antara untuk mengerjakan skripsi dengan tentunya mengikuti juga organisasi dan segala macam,” ujar Imran.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah inti dari kisahnya. Di banyak kampus, mahasiswa kerap dipaksa memilih antara serius di akademik, aktif di organisasi, atau mengejar prestasi nonakademik.

Imran memperlihatkan kemungkinan lain, bahwa ketiganya bisa berjalan bersamaan, meski dengan harga berupa disiplin yang ketat, kurang waktu santai, dan kemampuan menjaga ritme kerja.

Ia juga menegaskan bahwa perjalanan itu tak lepas dari dorongan keluarga. Kepada kedua orang tuanya, Imran menyampaikan rasa terima kasih karena menjadi sumber dukungan yang menopang langkahnya hingga mencapai titik wisuda.

Dalam momen yang sarat seremoni itu, ungkapan terima kasih tersebut terasa lebih dari basa-basi. Ia menjadi penanda bahwa capaian mahasiswa hampir selalu berdiri di atas kerja kolektif, dukungan emosional, dan pengorbanan yang tak selalu terlihat di permukaan.

Kisah Imran menjadi salah satu wajah dari wisuda Unhas kali ini bahwa keberhasilan akademik tidak selalu berdiri terpisah dari prestasi nonakademik. Di tangannya, seni bukan gangguan bagi studi, melainkan ruang pembentukan karakter.

Organisasi bukan hambatan, tetapi latihan mengelola tanggung jawab. Bahkan usaha pribadi pun tidak membuatnya menjauh dari kampus, melainkan mengajarinya cara membagi fokus.

Ke depan, Imran berharap segera memperoleh pekerjaan dan terus mengembangkan diri. Ia juga berharap rekan-rekan sesama wisudawan dapat menemukan jalannya masing-masing dan memberi kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Dari panggung PSM ke panggung wisuda, perjalanan Imran memberi satu pesan yang cukup jelas: prestasi tidak tumbuh dari bakat semata, melainkan dari irama kerja yang dijaga terus-menerus.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)