Catatan Eka Sastra dari Swedia*
Sore itu saya memasuki sebuah bangunan tua di Stortorget, jantung kawasan Gamla Stan, Stockholm. Di dalam bangunan itulah Nobel Prize Museum menyimpan cerita tentang sebagian manusia yang karya dan pemikirannya telah mengubah dunia.
Saya melihat kisah para ilmuwan, ekonom, sastrawan, dan pejuang perdamaian. Namun perhatian saya justru tertahan pada satu bagian bertuliskan “The Nobel Prize Museum Collection.”
Di sana tersimpan berbagai benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan para penerima Nobel. Ada manuskrip dan peralatan penelitian, tetapi juga benda-benda sederhana dari kehidupan sehari-hari.
Saya kemudian berpikir: orang-orang yang hari ini kita kenal sebagai manusia besar, pada awalnya juga menjalani kehidupan seperti manusia lainnya. Mereka membaca, bekerja, mencoba, gagal, berpikir kembali, lalu mencoba lagi.
Mungkin yang membedakan adalah mereka tidak pernah berhenti bertanya. Dan dari pertanyaan-pertanyaan itulah pengetahuan berkembang.
Sebuah Wasiat yang Hidup Lebih dari Satu Abad
Di museum itu saya kembali mengingat kisah Alfred Nobel. Ia adalah ilmuwan, penemu, sekaligus industrialis yang memperoleh kekayaan besar dari berbagai penemuan dan bisnisnya. Tetapi warisan terbesarnya ternyata bukan perusahaan ataupun dinamit yang membuat namanya terkenal.
Warisan terbesarnya adalah sebuah institusi. Melalui surat wasiatnya, Nobel meminta sebagian besar kekayaannya dikelola dan hasilnya digunakan setiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang memberikan manfaat terbesar bagi umat manusia.
Lebih dari 120 tahun kemudian, sistem itu masih bekerja.
Pada akhir 2025, modal investasi Nobel Foundation mencapai sekitar SEK 6,7 miliar—setara lebih dari Rp12 triliun. Dana tersebut dikelola dalam berbagai instrumen investasi sehingga dapat terus membiayai Nobel Prize sekaligus menjaga keberlanjutan asetnya.
Di sinilah saya melihat kejeniusan lain Alfred Nobel.

Bersama akademisi Unhas, Taslim Arifin, di Stockholm
Kekayaan diubah menjadi institusi. Institusi menjaga modal. Modal mendukung ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan menghasilkan manfaat bagi manusia.
Nobel seolah mengajarkan bahwa kekayaan terbesar bukanlah apa yang kita miliki ketika hidup, melainkan apa yang masih memberikan manfaat ketika kita sudah tidak ada.
Inovasi dan Kemakmuran
Tidak jauh dari sana saya berhenti di depan layar yang menampilkan tiga wajah: Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt, penerima Nobel Ekonomi 2025.
Mereka memperoleh penghargaan atas kontribusi dalam menjelaskan bagaimana inovasi mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Mokyr menunjukkan pentingnya useful knowledge. Kemajuan terjadi ketika manusia tidak hanya mengetahui bagaimana sesuatu dilakukan, tetapi juga memahami mengapa sesuatu bekerja.
Aghion dan Howitt menjelaskan sisi lainnya melalui konsep creative destruction: teknologi dan inovasi baru akan menggantikan teknologi, perusahaan, dan cara produksi lama. Proses ini menciptakan kemajuan, tetapi sekaligus melahirkan resistensi dari mereka yang merasa terancam oleh perubahan.
Pesannya terasa sangat relevan bagi Indonesia. Lihat bagaimana industri yang terlalu lama bergantung pada proteksi—alih-alih dipaksa beradaptasi—justru tertinggal ketika akhirnya harus bersaing secara terbuka.
Resistensi terhadap creative destruction bukan hanya soal teknologi baru versus lama; ia soal keberanian sebuah bangsa melepaskan kenyamanan yang sudah usang.
Kita berbicara tentang hilirisasi, digitalisasi, kecerdasan buatan, energi baru, dan industrialisasi. Tetapi inovasi bukan sekadar membeli teknologi baru.
Inovasi juga membutuhkan keberanian meninggalkan cara lama ketika cara yang lebih baik telah ditemukan.
Dari Stockholm, Saya Teringat Makassar
Di titik itulah perjalanan di Nobel Prize Museum terasa dekat dengan rumah. Saya teringat Universitas Hasanuddin.
Setiap hari ribuan mahasiswa memasuki ruang kuliah. Para peneliti bekerja di laboratorium. Dosen menulis dan melakukan penelitian. Mahasiswa menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasi.
Di antara ribuan aktivitas itu, mungkin sedang tumbuh sebuah gagasan besar. Pertanyaannya adalah: apakah kita telah membangun ekosistem yang memungkinkan gagasan tersebut tumbuh?
Universitas dapat menghasilkan banyak publikasi, membangun gedung dan laboratorium, serta meningkatkan peringkat akademiknya. Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak pengetahuan yang kita hasilkan benar-benar mengubah kehidupan masyarakat—berapa penelitian yang menjadi teknologi, dan berapa teknologi yang berkembang menjadi industri?
Karena itu, rantai pengetahuan tidak boleh berhenti pada publikasi. Research → Knowledge → Innovation → Impact.
Penelitian harus menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan harus membuka jalan bagi inovasi. Dan inovasi pada akhirnya harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Kita Tidak Perlu Mengejar Nobel
Dari museum ini mudah muncul pertanyaan: kapan Indonesia memperoleh Nobel? Tetapi menurut saya, kita tidak perlu memulai dengan mengejar Nobel.
Yang perlu kita bangun adalah ekosistem yang memungkinkan lahirnya karya besar.
Kita membutuhkan budaya akademik yang memberi ruang kepada rasa ingin tahu. Peneliti membutuhkan kesempatan untuk berpikir dan bereksperimen. Laboratorium membutuhkan pembiayaan.
Universitas membutuhkan hubungan yang kuat dengan industri dan masyarakat. Dan inovator membutuhkan ruang untuk gagal. Nobel hanyalah sebuah pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah melahirkan karya yang layak mendapatkan pengakuan.
Apa yang Akan Kita Wariskan?
Sebelum meninggalkan museum, pikiran saya kembali kepada Alfred Nobel. Ia meninggal pada 1896. Tetapi lebih dari satu abad kemudian, gagasannya masih bekerja.
Ada pelajaran penting tentang kepemimpinan di sana.
Pemimpin dapat meninggalkan program. Pemimpin dapat membangun organisasi. Tetapi pencapaian yang jauh lebih besar adalah membangun institusi yang tetap bekerja ketika pendirinya sudah tidak ada.
Pertanyaan yang sama penting untuk universitas: bukan hanya apa yang dapat kita bangun hari ini, tetapi apa yang masih akan memberikan manfaat 50 atau 100 tahun mendatang?
Dana abadi, tradisi riset, budaya akademik, laboratorium unggulan, perusahaan berbasis inovasi, jejaring internasional, dan yang terpenting, generasi manusia yang memiliki keberanian untuk terus bertanya.
Ketika keluar dari Nobel Prize Museum dan kembali berjalan di antara bangunan tua Gamla Stan, saya membawa satu keyakinan sederhana. Universitas besar tidak dibangun hanya dengan gedung besar. Universitas besar dibangun oleh gagasan besar yang diberi kesempatan untuk tumbuh.
Mungkin suatu hari sebuah penemuan penting dunia tidak lahir dari Stockholm, Boston, Oxford, Tokyo, atau Beijing. Mungkin ia lahir dari sebuah laboratorium di Tamalanrea. Mungkin dari seorang mahasiswa yang hari ini belum dikenal siapa-siapa.
Tugas universitas bukan menentukan siapa orang itu. Tugas kita adalah membangun ekosistem agar ketika orang itu datang membawa sebuah gagasan, kita tidak membiarkan gagasan tersebut mati.
Itulah pelajaran yang saya bawa dari Stockholm untuk Unhas: manusia akan pergi, jabatan akan berakhir, dan generasi akan berganti. Tetapi pengetahuan yang dijaga oleh institusi yang baik dapat hidup jauh lebih lama daripada kita semua.
*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin. Saat ini diberi amanah sebagai Komisaris Utama PT Hadin Metavisi Akademika, holding bisnis milik Universitas Hasanuddin.








