
Enzo Maresca, selama 14 bulan membangun Chelsea dan berujung pemecatan. (the sun)
Pilihan Chelsea terhadap Rosenior mengalahkan nama-nama besar lain yang sempat masuk bursa, seperti Cesc Fabregas, Andoni Iraola, hingga Xavi Hernandez.
Keputusan ini menegaskan bahwa reputasi besar bukan lagi jaminan utama di era baru Chelsea. Yang dicari adalah kesesuaian visi.
Dalam pernyataan perdananya, Rosenior tampil rendah hati namun penuh tekad. Ia menyebut penunjukannya sebagai kehormatan besar dan menegaskan komitmennya menjaga identitas Chelsea sebagai klub pemenang.
“Tugas saya adalah melindungi identitas itu dan membangun tim yang mencerminkan nilai-nilai tersebut di setiap pertandingan,” ujarnya.
Ia berulang kali menekankan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan kerja tim—kata-kata yang terdengar klise, tetapi relevan bagi ruang ganti Chelsea yang kerap dikritik kurang solid.
Pertanyaan berikutnya adalah soal taktik. Maresca dikenal kaku dengan sistem 4-2-3-1. Rosenior, sebaliknya, lebih fleksibel.
Di Strasbourg, ia kerap mengandalkan formasi 3-4-2-1, meski sesekali beralih ke 4-3-1-2. Dengan masalah pertahanan dan ketajaman lini depan yang menghantui Chelsea musim ini, pendekatan tiga bek bisa memberi fondasi yang lebih stabil.
Dalam skema 3-4-2-1, Chelsea berpotensi memaksimalkan Cole Palmer dan wonderkid Brasil, Estevao, di belakang penyerang utama. Duet mahal Moises Caicedo dan Enzo Fernandez di lini tengah diharapkan menemukan keseimbangan yang selama ini dicari.
Di lini belakang, peran wing-back alami seperti Malo Gusto dan Marc Cucurella bisa lebih optimal, dengan Reece James, Wesley Fofana, dan Trevoh Chalobah menjadi benteng di depan Robert Sanchez.
Jika Rosenior memilih 4-3-1-2, Palmer bisa dimainkan sebagai playmaker di belakang duet Joao Pedro dan Liam Delap.
Skema ini juga membuka ruang bagi Santos untuk mengunci posisi di lini tengah bersama Caicedo dan Fernandez. Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu nilai jual Rosenior di mata manajemen.
Di balik ambisi profesional, ada sisi personal yang tak kalah kuat. Dalam konferensi pers perpisahannya bersama Strasbourg, Rosenior mengaku kepindahan ini juga soal keluarga.
“Ini kesempatan luar biasa di klub luar biasa, juara dunia. Dan saya bisa pulang dan melihat anak-anak saya,” katanya. Sebuah pengakuan jujur tentang pengorbanan yang selama ini ia jalani.
Chelsea kini memasuki babak baru. Taruhan sudah dipasang, kontrak panjang sudah diteken. Rosenior datang dengan reputasi sebagai pembangun tim, bukan pemadam kebakaran.
Waktu akan menjawab apakah perjudian ini berbuah trofi—atau sekadar menambah panjang daftar eksperimen di era Todd Boehly. Yang pasti, Stamford Bridge kembali menjadi panggung harapan, sekaligus risiko besar.








