MAKASSAR, UNHAS.TV - Riuh wisuda Universitas Hasanuddin (Unhas) hari kedua periode April 2026, Kamis (2/4/2026), di Baruga Andi Pangerang Pettarani, menyimpan beragam makna yang lebih dari sekadar seremoni kelulusan.
Di tengah padatnya kendaraan, kerumunan keluarga, dan suasana perayaan, ada cerita yang lebih sunyi tentang perpisahan dengan masa kuliah dan langkah awal memasuki kehidupan baru.
Bagi Dewina Marchely Kasenda, lulusan Program Studi Sistem Informasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unhas, wisuda bukan hanya penanda selesainya studi.
Hari itu juga menjadi momen melepas rutinitas, kenangan, dan lingkungan yang selama beberapa tahun terakhir membentuk dirinya.
“Momen wisuda kali ini sangat hectic seperti biasanya, karena begitu banyak kendaraan, orang-orang, tapi sangat seru dan sangat fun,” kata Dewina usai prosesi wisuda.
Pernyataan itu menggambarkan suasana yang akrab bagi banyak lulusan Unhas. Wisuda selalu identik dengan keramaian.
Baruga penuh, halaman sesak, dan lalu lintas di sekitar kampus padat oleh keluarga yang datang merayakan kelulusan. Namun di balik euforia itu, ada kesadaran bahwa hari wisuda juga menutup sebuah fase hidup yang tak akan terulang.
Selama menempuh pendidikan di Unhas, Dewina mengaku memperoleh banyak pengalaman yang sulit dipisahkan dari pembentukan dirinya.
Ia tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga berhadapan dengan beragam karakter teman, dosen, dan cara belajar yang berbeda-beda. Dari situ, ia mengenal dinamika kehidupan kampus secara lebih utuh.
“Selama kuliah di Unhas saya dapat banyak teman, banyak pengalaman, bertemu dengan berbagai macam karakter teman, karakter dosen, dan berbagai tipe cara belajarnya mahasiswa,” ujarnya.
Menariknya, yang paling membekas bagi Dewina bukan semata soal tugas kuliah atau tekanan akademik, melainkan hal-hal sederhana yang justru melekat kuat dalam ingatan.
Ia menyebut jajanan di lingkungan FMIPA sebagai bagian dari kenangan yang tidak terlupakan. Salah satunya tahu bakso yang menurut dia menjadi kuliner kecil dengan nilai sentimental besar selama masa studi.
Kesan seperti itu menunjukkan bahwa pengalaman kuliah sering kali tidak dibentuk oleh peristiwa besar saja. Justru detail-detail kecil—teman, suasana fakultas, kebiasaan sehari-hari—yang nantinya tinggal paling lama dalam ingatan lulusan.
Kini, setelah resmi lulus dan menyandang gelar sarjana komputer, Dewina memilih tidak langsung melanjutkan studi. Ia mengaku ingin fokus mencari pekerjaan dan mulai memasuki dunia profesional.
Keputusan itu menandai pergeseran yang nyata, dari ruang akademik menuju realitas kerja yang lebih keras dan tidak selalu pasti.
“Kalau lanjut studi, sepertinya untuk saat ini tidak, karena rencana saya setelah ini tentu cari loker atau lowongan kerja,” katanya.
Pilihan itu juga mencerminkan situasi banyak wisudawan hari ini. Gelar sarjana bukan garis akhir, melainkan titik transisi menuju fase yang lebih menantang.
Setelah toga dilepas, yang menunggu bukan lagi jadwal kuliah, melainkan persaingan kerja, tuntutan kemandirian, dan kebutuhan untuk membuktikan diri di luar kampus.
Di tengah ketidakpastian itu, Dewina menyimpan harapan yang sederhana. Ia ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
“Harapannya semoga saya bisa bermanfaat buat orang-orang di sekitar, bisa juga menjadi berkat bagi orang lain,” ujarnya.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Dewina Marchely Kasenda, lulusan Program Studi Sistem Informasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unhas. (Unhas TV/Venny Septiani)








