KOMITMEN Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) menanamkan investasi hingga Rp10 miliar di PT Hadin Metavisi Akademika menjadi kabar yang menyita perhatian.
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, keputusan alumni menginvestasikan dana sebesar itu tentu bukan perkara biasa.
Ketua IKAFE Unhas, Hendra Noor Saleh, mengatakan investasi tersebut akan direalisasikan secara bertahap. Tahap awal dimulai dengan investasi Rp2 miliar untuk pengembangan benih Jagung Hibrida Jago Unhas atau kerap disebut Jagung JJ sebelum ditingkatkan hingga Rp10 miliar apabila program berjalan sesuai target.
"Kami melihat ini bukan sekadar investasi pada sebuah komoditas. Kami melihat ada inovasi yang lahir dari kampus, telah melalui proses riset yang panjang, dan memiliki peluang besar untuk memberikan manfaat bagi petani sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Karena itu, IKAFE ingin menjadi bagian dari proses hilirisasi inovasi Universitas Hasanuddin," kata Hendra.
Namun sesungguhnya, kisah investasi ini tidak dimulai dari ruang rapat ataupun proposal bisnis.
Kisah itu bermula bertahun-tahun lalu, ketika para peneliti Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin melihat kenyataan bahwa sebagian besar benih jagung unggul yang digunakan petani Indonesia masih dikuasai perusahaan multinasional. Ketergantungan itu membuat pilihan petani menjadi terbatas, sementara varietas hasil karya peneliti dalam negeri belum banyak tersedia.
Guru Besar Pemuliaan Tanaman Unhas, Prof. (R) Muhammad Azrai, mengaku kondisi itulah yang mendorongnya memilih jagung sebagai fokus pengabdiannya.
"Saya merasa terpanggil untuk melakukan riset pemuliaan yang bisa melahirkan varietas jagung unggul buatan anak bangsa. Alhamdulillah, bersama tim di Unhas kami akhirnya berhasil menghasilkan jagung hibrida pertama yang lahir dari Universitas Hasanuddin," ujarnya.
Keputusan itu membawanya pada perjalanan ilmiah yang panjang.
Di laboratorium, rumah kaca, hingga kebun percobaan, Prof. Azrai bersama timnya melakukan persilangan demi persilangan. Mereka menyeleksi ribuan galur tanaman, mengulang percobaan setiap musim tanam, lalu mencatat setiap perubahan karakter untuk menemukan kombinasi genetik terbaik.
Pekerjaan seorang pemulia tanaman memang menuntut kesabaran. Satu varietas unggul tidak lahir dalam hitungan bulan. Sebelum bisa digunakan petani, benih harus melewati uji adaptasi di berbagai wilayah Indonesia dengan karakter lingkungan yang berbeda.
Ketahanannya terhadap penyakit, produktivitas, kualitas biji, hingga potensi produksi komersial harus dibuktikan melalui serangkaian pengujian yang panjang.
Karena itulah, Jagung Jago Unhas sesungguhnya bukan hanya sebuah produk. Ia adalah akumulasi dari ribuan jam penelitian, musim tanam yang silih berganti, dan kerja sunyi para ilmuwan yang jarang diketahui publik.
Nama Jagung Jago Unhas sendiri lahir dari percakapan sederhana. Ketika varietas itu akan diajukan untuk dilepas secara resmi, Prof. Azrai dan Dekan Fakultas Pertanian berdiskusi mengenai nama yang tepat. Pandangan Prof. Azrai kemudian tertuju pada lambang Universitas Hasanuddin: seekor ayam jantan.
Dari sanalah muncul gagasan memberi nama Jagung Jago Unhas. Bagi Prof. Azrai, ayam jantan bukan sekadar simbol universitas. Ia melambangkan keberanian, daya juang, dan semangat untuk menjadi yang terbaik. Filosofi itu pula yang ingin ditanamkan pada varietas jagung hasil karya Unhas.
"Seperti ayam jantan dari timur, varietas ini kami harapkan mampu bertarung di tingkat nasional, bahkan internasional," katanya di Studio Unhas TV.
Perjalanan Jagung Jago Unhas tidak berhenti di Makassar. Benih tersebut diuji di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, hingga Sumatera Utara. Di setiap lokasi, varietas Unhas dibandingkan dengan benih-benih yang telah lama mendominasi pasar untuk memastikan kemampuan adaptasi dan produktivitasnya.
Kerja panjang itu akhirnya mulai membuahkan hasil. Industri benih nasional melihat potensinya dan bersedia menjadi mitra dalam pengembangan. Kini, melalui investasi IKAFE, inovasi tersebut memasuki babak baru: tidak lagi berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi mulai dikembangkan menjadi usaha yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Dengan demikian, Rp10 miliar yang ditanam IKAFE sesungguhnya bukan sekadar investasi pada hamparan jagung.
Nilai itu adalah investasi pada ilmu pengetahuan. Pada keberanian seorang peneliti yang memilih melawan ketergantungan terhadap benih impor. Pada kesabaran tim peneliti yang bertahun-tahun bekerja tanpa sorotan.
Dan pada keyakinan bahwa inovasi yang lahir dari laboratorium kampus dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
undefined


-300x182.webp)


-300x169.webp)


