Ekonomi

Pendi dan Pos Polisi yang Terbakar

Pendi, pengemudi truk tangki BBM. Foto: Unhas TV

MAKASSAR, UNHAS.TV - Turun dari ruang kemudi truknya, Pendi lalu bergegas menemui petugas SPBU, berbincang sejenak, dan tak berapa lama kemudian, moncong selang di truknya sudah masuk ke reservoir bawah tanah. 

Lalu ribuan kiloliter Bahan Bakar Minyak (BBM) pun mengalir deras. Seorang rekan kerjanya dari PT Elnusa Petrofin (anak usaha Pertamina) sibuk mengamati dan memastikan semua pengisian BBM berjalan sesuai prosedur keamanan dan keselamatan.

Hari itu amat terik. Sudah dua pekan Makassar memasuki musim kemarau. Kata pakar BMKG, ini akan jadi musim kemarau paling parah. Katanya, akan ada Super El Nino tahun ini. Pendi cuma tahu istilah itu, tapi apa dampaknya, tak begitu merisaukan buatnya.

Ya, namanya Pendi. Bukan Effendy yang disingkat menjadi Pendi sebagaimana kebiasaan orang di Makassar suka menyingkat nama. Yusuf jadi Ucu. Hasan jadi Acang, atau Husain menjadi Uceng.

"Saya tidak tahu sejarahnya. Bapak saya cuma beri nama itu," kata Pendi, sambil berteduh balik kanopi gedung SPBU Jalan Urip Sumaharjo, Makassar, depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Pendi mengenalkan diri sebagai pria Jeneponto sejati: kuat, bertanggung jawab, solider dengan sesama rekan kerja, dan pekerja keras. Umurnya 36 tahun, sudah berkeluarga, punya satu istri dan dua anak. Anak pertama lima tahun, yang kedua sudah dua tahun.

Anak keduanya lahir setelah Pendi memutuskan mundur sebagai operator alat-alat berat di satu perusahaan tambang di Kalimantan. Alasan kepindahannya sangat emosional. Ia tidak ingin istrinya di Makassar menanggung beban begitu besar merawat keluarga sendirian. Selain itu, pria kekar itu tidak pandai menahan rindu dengan istrinya.

"Cuma bertemu lewat video call. Membosankan. Tapi kalau lama bekerja, kalau bulan September tiba maka genap dua tahun," katanya.

Pendi masih ingat bagaimana ia harus menjalani seleksi ketat ketika hendak bergabung sebagai pengemudi truk pengangkut tangki BBM di PT Elnusa Petrofin, anak usaha PT Elnusa Tbk (Pertamina Group). Ada sekitar 600 orang melamar dan yang berhasil diterima sebanyak 37 orang. Dia salah satunya.

Setelah diterima, ia dapat tugas memasok BBM dari satu SPBU ke SPBU lainnya mulai dari Kota Makassar hingga Kabupaten Bulukumba. Ini pekerjaan rutin setiap hari kecuali pada hari libur yang ditentukan perusahaan. 

Dari perjalanan memasok BBM itu, ia punya banyak teman. Seringkali ia menemukan banyak makna hidup dari cerita-cerita orang yang dikenalnya di setiap hari, Cerita yang mengilhami dirinya untuk lebih bersyukur dan lebih giat. Satu hal yang paling ia ingat, "Banyak orang letih bekerja, tapi lebih banyak lagi orang yang letih ingin bekerja." 

Kalimat itu yang membuatnya malu untuk mengeluh. Bahkan ketika harus membawa BBM untuk disalurkan di kabupaten yang amat jauh dari Kota Makassar. Jarak terjauh yang pernah ia tempuh yakni sampai ke wilayah Bikeru. Ini wilayah dataran tinggi yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai. 

Jaraknya sejauh 192 kilometer dan bisa ditempuh selama 4 jam 30 menit tapi Pendi dan kawan-kawannya butuh waktu yang lebih lama dari waktu normal. Ada standar kecepatan yang harus dipatuhi pekerja Elnusa demi menjamin BBM sampai dengan selamat.

Pengemudi di PT Elnusa Petrofin (anak perusahaan PT Elnusa Tbk/Pertamina Group) harus memenuhi kepatuhan operasional yang ketat, mementingkan keselamatan kerja (Health, Safety, Security, Environment atau HSE), serta mengikuti kualifikasi administratif. Perusahaan memiliki sistem seperti SIMEFIN (Sistem Manajemen Elnusa Petrofin) untuk memastikan setiap awak mematuhi regulasi.




>> Baca Selanjutnya