UNHAS.TV - Menjelang matahari tenggelam dan azan maghrib menjelang, Jalan Kanjov di Makassar berubah menjadi ruang temu yang riuh. Sepanjang sisi jalan, lapak-lapak takjil mulai ramai dikerubuti pembeli.
Aroma gula yang dipanaskan, wangi santan, dan suara spatula yang beradu dengan wajan tipis bercampur menjadi satu. Di tengah keramaian itu, sebuah kedai kecil bernama Special Crepes Ta tampak tak pernah sepi.
Sejak sore, mahasiswa hingga warga sekitar datang silih berganti. Sebagian menunggu pesanan, sebagian lagi sibuk memilih menu. Di balik meja sederhana, adonan crepes dituangkan tipis di atas wajan datar, diputar dengan cepat hingga membentuk lembaran renyah berwarna keemasan.
Crepes memang menjadi menu utama di kedai ini. Beragam rasa ditawarkan, mulai dari cokelat, tiramisu, green tea, keju, hingga oreo.
Harganya terbilang ramah bagi kantong mahasiswa, hanya Rp 8 ribu untuk satu rasa, sementara tambahan topping hanya dikenakan biaya seribu rupiah.
Namun Ramadan membawa menu baru yang justru tak kalah diburu yakni pisang ijo. Makanan khas Makassar yang biasanya hadir di rumah makan besar itu kini tampil dalam versi sederhana di lapak pinggir jalan.
Potongan pisang dibalut adonan hijau, disajikan dengan kuah manis yang menyegarkan—pilihan tepat untuk berbuka puasa di tengah udara Makassar yang masih hangat menjelang malam.
Menurut Hikmah, karyawan di kedai tersebut, usaha Special Crepes Ta sebenarnya sudah mulai dirintis sejak Juli 2024.
Namun pengelola baru benar-benar menekuni usaha ini secara serius pada Oktober 2025. “Kalau yang baru seriusnya mulai bulan Oktober 2025,” kata Hikmah.
Sejak itu, kedai ini beroperasi setiap hari dari pukul lima sore hingga sekitar sebelas malam. Jam buka yang bertepatan dengan waktu berburu takjil membuat lapak ini cepat dikenal, terutama di kalangan mahasiswa yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.
Pisang ijo sendiri hanya dijual secara langsung selama Ramadan. Di luar bulan puasa, menu ini biasanya hanya tersedia melalui sistem pemesanan terlebih dahulu atau pre order. Tak jarang, pesanan datang dalam jumlah besar.
“Kalau di luar Ramadan biasanya ada yang pesan 200 sampai 300, tapi harus pre order,” ujar Hikmah.
Meski sederhana, kedai ini berusaha menjaga kualitas makanan. Salah satu prinsip yang mereka pegang adalah memastikan setiap hidangan dibuat segar.
Crepes baru dimasak setelah ada pesanan, sementara bahan-bahan yang digunakan tidak disimpan dari hari sebelumnya.
Bagi Hikmah dan rekan-rekannya, kesegaran adalah kunci. “Crepes-nya langsung dibuat kalau ada yang pesan, jadi semuanya fresh,” katanya.
Di tengah maraknya pilihan takjil selama Ramadan, kedai kecil ini perlahan menemukan tempatnya sendiri. Perpaduan crepes hangat dengan topping manis serta pisang ijo yang menyegarkan membuat banyak pembeli kembali lagi ke lapak yang sama.
Hikmah berharap menu yang mereka jual bisa semakin dikenal masyarakat. Terutama selama Ramadan, ketika tradisi berburu takjil menjadi bagian dari rutinitas harian menjelang berbuka puasa.
Sementara itu, setiap sore di Jalan Kanjov, wajan crepes kembali dipanaskan. Adonan kembali dituangkan. Dan di antara obrolan mahasiswa yang menunggu azan magrib, aroma manis dari lapak kecil itu terus mengundang orang untuk singgah.
(Venny Septiani Semue / Unhas TV)
Hikmah, Pengelola UMKM Special Crepes Ta. (Unhas TV/Venny Septiani)






-300x200.webp)

