MAKASSAR, UNHAS.TV — Penyakit kanker pada anak tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memicu tekanan mental yang serius.
Peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi kunci penting dalam membantu proses penerimaan serta penyembuhan anak secara menyeluruh.
Diagnosis kanker pada anak kerap menjadi pukulan berat, baik bagi anak maupun keluarga. Selain harus menghadapi proses pengobatan yang panjang dan biaya yang tidak sedikit, anak juga dihadapkan pada fase emosional yang kompleks dan tidak mudah dilalui.
Mulai dari penolakan, kemarahan, hingga perasaan putus asa menjadi bagian dari proses yang sering dialami anak penderita kanker.
Bahkan, tidak sedikit anak yang menganggap penyakit tersebut sebagai bentuk hukuman, akibat minimnya pemahaman serta kurangnya dukungan psikologis yang memadai.
Dalam kondisi tersebut, kehadiran orang tua, teman, dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk memberikan pendampingan yang tepat tanpa stigma.
Dukungan ini menjadi penting agar anak mampu melalui tahap penerimaan hingga menjalani pengobatan dengan lebih optimal.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) Konsultan Anak dan Remaja FK Unhas, dr Rinvil Renaldi MKes SpKJ (K), menjelaskan bahwa penyakit fisik seperti kanker memang dapat memicu stres yang besar, terutama karena prognosis dan proses pengobatannya yang panjang.
“Seperti yang kita ketahui bahwa stress dari seorang manusia adalah penyakit fisik yang akan membuat kita menjadi bertambah stress saat tahu mengidap kanker," ujarnya.
"Kita ketahui, kanker sebuah penyakit yang cukup menakutkan karena prognosisnya yang kurang baik dan tata laksananya juga membutuhkan waktu yang lama, baik itu biaya maupun waktunya yang panjang," lanjutnya.
Akan kondisi itu, dokter Rinvil menambahkan, tidak mengherankan jika seorang anak terdiagnosa kanker akan melalui fase penerimaan yang sulit, mereka bisa menjadi marah, tidak bisa menerima dirinya, bahkan berpikir bahwa ini adalah sebuah hukuman.
Ia menjelaskan, penting bagi orang tua dan lingkungan untuk membersamai anak dalam proses tersebut agar mereka tidak merasa sendirian dan dapat mencapai penyembuhan yang optimal tanpa adanya stigma dari masyarakat.
Sementara itu, peran orang tua juga dinilai sangat krusial dalam proses pendampingan anak. Orang tua tidak hanya dituntut memahami penyakit yang dihadapi anak, tetapi juga perlu mengelola kecemasan dan kondisi emosional mereka sendiri.
Kondisi emosional orang tua yang tidak stabil dapat memengaruhi efektivitas pendampingan terhadap anak. Oleh karena itu, orang tua dianjurkan untuk mengenali kesulitan yang dialami anak serta tidak ragu untuk mencari bantuan profesional.
Saat ini, layanan kesehatan di rumah sakit telah menyediakan penanganan yang komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental secara holistik.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) Konsultan Anak dan Remaja FK Unhas, dr Rinvil Renaldi MKes SpKJ (K). (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)
 FEMG-300x169.webp)







