
Percakapan yang direkam oleh Nasr itu memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: kesalahan mendasar Barat dalam membaca Iran. Selama ini Iran sering dipandang sebagai negara ideologis yang keras kepala.
Padahal, kebijakan-kebijakannya justru menunjukkan adanya grand strategy yang sabar, terukur, dan berbasis kalkulasi jangka panjang.
Sejarah pun memberi pelajaran bahwa kekuatan besar tidak selalu kalah karena kekurangan daya hancur, tetapi karena kehilangan daya tahan. Vietnam, Irak, dan Afghanistan menjadi pengingat bahwa perang panjang dapat menggerus kekuatan yang tampak tak tergoyahkan.
Dalam konteks itu, pertanyaan Kissinger tentang kapan Iran akan berubah sesungguhnya adalah harapan yang disamarkan sebagai analisis. Jawaban Larijani, yang tersirat dalam pembacaan Kant, adalah bahwa Iran tidak sedang menunggu untuk berubah. Iran sedang menunggu Amerika yang berubah.
Namun sejarah tidak pernah berjalan lurus mengikuti strategi manusia. Ia menyimpan ironi yang sering kali lebih kuat daripada kalkulasi paling canggih sekalipun.
Dalam mitologi Yunani, Oedipus menetapkan aturan untuk menemukan pembunuh raja sebelumnya tanpa menyadari bahwa aturan itu pada akhirnya akan menjerat dirinya sendiri. Ia menciptakan logika yang tampak rasional, tetapi justru membawanya menuju takdir yang tidak bisa dihindari.
Begitu pula dengan Larijani. Ia membaca Kant sebagai strategi kelelahan, sebagai permainan waktu yang akan memaksa lawan menyerah lebih dulu.
Ia memahami bahwa dalam logika perpetual peace, pihak yang tidak sanggup lagi menanggung biaya konflik akan menjadi pihak yang berubah. Namun dalam permainan panjang seperti itu, kelelahan bukanlah monopoli satu pihak. Ia adalah kemungkinan yang terbuka bagi semua.
Pada malam antara 16 dan 17 Maret 2026, langit Teheran menjadi saksi dari batas antara strategi dan takdir. Sebuah rudal menghantam dan mengakhiri hidup Ali Larijani, seorang filsuf yang masuk ke dalam jantung kekuasaan, yang membaca perang sebagai permainan waktu, tetapi pada akhirnya ditangkap oleh waktu itu sendiri.
Negara menyebutnya syahid, dan di jalan-jalan Iran, ratusan ribu orang turun mengantarkan kepergiannya dengan tangisan. Ia tidak lagi sekadar tokoh politik. Ia menjadi simbol, menjadi bagian dari narasi panjang bangsa yang selama ini hidup dalam bayang konflik.
Di titik itu, filsafat berhenti menjadi teori. Ia menjadi kenyataan yang berdarah.
Larijani mungkin tidak pernah membayangkan bahwa dirinya sendiri akan menjadi bagian dari harga yang harus dibayar. Seperti Oedipus, ia berjalan dalam logika yang ia pahami, tetapi tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Strategi yang dirancang untuk melelahkan lawan, pada akhirnya menyeret dirinya ke dalam lingkaran yang sama.
Namun dalam tradisi Persia, kematian tidak selalu dipahami sebagai akhir. Rumi pernah menulis, “When you leave this world, you are not dying—you are being born into eternity.”
Dalam pandangan ini, kematian bukanlah kegagalan, melainkan transformasi. Bukan titik akhir, melainkan peralihan menuju sesuatu yang lebih luas dari kehidupan itu sendiri.
Maka mungkin, bagi Larijani, kematian itu bukan sekadar konsekuensi dari strategi. Ia adalah bagian dari logika yang lebih besar, logika sejarah, logika konflik, dan mungkin juga logika keyakinan. Ia tidak hanya memahami permainan waktu, tetapi pada akhirnya menjadi bagian darinya.
Dan di tengah tangisan yang mengiringi kepergiannya, satu pertanyaan tetap menggantung, melampaui strategi dan filsafat: dalam permainan panjang yang disebut sejarah, siapa yang sebenarnya akan lebih dulu lelah?
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.








