Oleh: Dr. Misbahuddin, SE., M.Si. *
PROSES seleksi Direktur Utama PT Hadin Metavisi Akademika (HADIN) Universitas Hasanuddin (Unhas) kini memasuki fase paling menentukan.
Setelah menyaring sebelas pelamar melalui serangkaian tahapan seleksi yang ketat, kini tiga kandidat terbaik berada di meja pemegang saham untuk dipilih melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dr. Misbahuddin, S.E., M.Si. (Dok Unhas TV)
Bagi sebagian orang, proses ini mungkin hanya dianggap sebagai pergantian pimpinan perusahaan. Namun jika dicermati lebih dalam, keputusan yang akan diambil dalam beberapa waktu ke depan sesungguhnya memiliki implikasi yang jauh lebih besar daripada sekadar menentukan seorang direktur utama.
Keputusan tersebut akan menentukan model bisnis, arah investasi, serta masa depan kemandirian ekonomi Universitas Hasanuddin dalam satu hingga dua dekade mendatang.
Perguruan Tinggi Sedang Memasuki Era Kompetisi Baru
Dahulu ukuran keberhasilan universitas lebih banyak ditentukan oleh jumlah mahasiswa, kualitas lulusan, dan produktivitas penelitian. Kini ukuran tersebut berkembang jauh lebih luas.
Universitas-universitas terbaik dunia tidak hanya unggul dalam pendidikan dan riset, tetapi juga mampu membangun kekuatan ekonomi melalui inovasi, investasi, pengelolaan aset, dan komersialisasi ilmu pengetahuan.
Fenomena ini melahirkan konsep Entrepreneurial University, yaitu perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi. Dalam konteks inilah keberadaan HADIN menjadi sangat strategis.
HADIN bukan sekadar perusahaan milik universitas. HADIN merupakan instrumen yang dirancang untuk menghubungkan laboratorium dengan pasar, inovasi dengan industri, serta ilmu pengetahuan dengan kesejahteraan ekonomi.
Karena itu, pemimpin HADIN harus dipandang sebagai bagian dari strategi besar transformasi Universitas Hasanuddin.
Mengapa Proses Seleksi Ini Menarik?
Ada satu hal yang membuat proses seleksi Direktur Utama HADIN berbeda dari proses-proses sebelumnya, yaitu keterlibatan tokoh-tokoh korporasi nasional seperti Arsjad Rasjid dan Tony Wenas.
Kehadiran kedua figur tersebut menunjukkan bahwa Universitas Hasanuddin ingin membawa HADIN ke level yang lebih tinggi.
Ini bukan lagi tentang mengelola unit usaha kampus secara administratif, melainkan bagaimana membangun perusahaan yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan berkelanjutan.
Masukan dari kalangan industri menjadi penting karena dunia usaha memiliki perspektif yang berbeda dengan dunia akademik. Industri berbicara mengenai efisiensi, investasi, profitabilitas, inovasi pasar, dan daya saing global.
Kombinasi perspektif akademik dan korporasi inilah yang menjadi fondasi penting dalam menentukan pemimpin HADIN ke depan.
Tantangan Besar yang Menanti
Siapa pun yang terpilih nantinya tidak akan memulai dari titik nol, tetapi juga tidak akan menghadapi pekerjaan yang ringan.
Tantangan terbesar HADIN bukan terletak pada bagaimana menghasilkan laba dalam satu tahun, melainkan bagaimana membangun model bisnis universitas yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Ada setidaknya empat agenda besar yang harus dijawab. Pertama, optimalisasi aset universitas yang selama ini belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi maksimal.
Kedua, penguatan hilirisasi riset sehingga hasil penelitian dosen dan mahasiswa tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat berkembang menjadi produk dan bisnis yang bernilai komersial.
Ketiga, pengembangan portofolio bisnis baru yang relevan dengan kebutuhan masa depan, termasuk sektor teknologi, energi hijau, kesehatan, pangan, dan ekonomi digital.
Keempat, membangun jaringan kemitraan dengan industri nasional maupun internasional agar HADIN tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan bisnisnya.
Dari Asset Management Menuju Value Creation
Selama ini banyak holding company, termasuk di lingkungan pendidikan, terjebak pada pola pikir pengelolaan aset semata. Padahal dunia bisnis modern menuntut sesuatu yang lebih besar, yaitu penciptaan nilai (value creation).
Direktur Utama HADIN yang akan datang harus mampu mengubah paradigma tersebut. Aset universitas tidak boleh hanya dipelihara. Aset harus dikembangkan.
Riset tidak boleh hanya dipublikasikan. Riset harus dikomersialisasikan. Kerja sama tidak boleh hanya menjadi nota kesepahaman. Kerja sama harus menghasilkan investasi dan dampak ekonomi nyata.
Inilah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
HADIN dan Ambisi Indonesia Timur
Posisi Universitas Hasanuddin sebagai perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur memberikan peluang yang sangat besar bagi HADIN.
Wilayah Indonesia Timur memiliki kekayaan sumber daya alam, potensi maritim, sektor pangan, energi, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kekuatan riset perguruan tinggi.
Di sinilah HADIN dapat mengambil peran strategis. HADIN berpotensi menjadi jembatan antara hasil riset kampus dengan kebutuhan pembangunan kawasan Indonesia Timur.
Jika berhasil, HADIN tidak hanya akan menjadi perusahaan universitas, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat inovasi dan investasi regional yang memberikan dampak ekonomi yang luas.
Saatnya Berpikir Lebih Besar
Menurut saya, tantangan terbesar HADIN ke depan bukan sekadar menjadi holding company yang sehat secara finansial.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjadikan HADIN sebagai instrumen transformasi universitas menuju institusi yang mandiri secara ekonomi.
Ke depan, HADIN perlu bergerak menuju model yang lebih progresif, yaitu sebagai:
Pengelola investasi strategis universitas;
Pengembang startup berbasis riset;
Venture builder kampus;
Pengelola dana abadi produktif;
Pusat kemitraan industri;
Motor pengembangan ekonomi berbasis inovasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, HADIN memerlukan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga keberanian berpikir besar dan kemampuan membangun ekosistem.
Penutup
Pemilihan Direktur Utama HADIN yang akan segera diputuskan bukan sekadar pergantian kepemimpinan perusahaan. Ini adalah momen penting yang akan menentukan bagaimana Universitas Hasanuddin memposisikan diri dalam peta ekonomi berbasis pengetahuan di masa depan.
Publik tentu berharap proses yang telah berlangsung secara profesional ini menghasilkan figur terbaik yang mampu membawa HADIN tumbuh sebagai perusahaan yang sehat, inovatif, dan berdampak.
Karena pada akhirnya, keberhasilan HADIN bukan hanya soal keuntungan bisnis, tetapi tentang bagaimana universitas mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat kemandirian institusi, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Direktur Utama HADIN yang akan dipilih bukan hanya pemimpin perusahaan, melainkan penentu arah transformasi ekonomi Universitas Hasanuddin di era kompetisi global.
* Penulis, Alumnus Unhas
Ilustrasi Pemilihan Direktur Utama PT Hadin Metavisi Akademika Periode 2026-2030. (Screenshot Dreamina)








