MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Riset Kolaborasi bagi Thematic Research Group (TRG) Tahun 2026 pada Kamis (19/2/2026) di Aula LPPM Unhas, Kampus Tamalanrea.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis Unhas dalam meningkatkan produktivitas riset, kolaborasi, serta jejaring nasional dan internasional.
Pada awal tahun 2026, Unhas secara resmi menetapkan 30 kelompok riset tematik (TRG) baru melalui keputusan Rektor. Jumlah ini melengkapi sekitar 250 TRG yang telah dibentuk pada tahun sebelumnya, sebagai bagian dari kebijakan Integrated Multi Program for Academic Triumph (IMPACT) Universitas Hasanuddin.
Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang memaparkan arah kebijakan riset Unhas. Dalam sambutannya, Rektor menekankan pentingnya riset tematik yang terfokus, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan reputasi universitas.
Sesi selanjutnya diisi oleh Ketua LPPM Unhas, Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D., Sp.MK(K), yang menyampaikan panduan dan mekanisme penguatan TRG Tahun 2026, termasuk peluang riset kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam sosialisasi tersebut juga hadir perwakilan Partnership for Australia–Indonesia Research (PAIR) yang berafiliasi dengan AIC@UNHAS Lab. PAIR memaparkan peluang kerja sama riset antara peneliti Indonesia dan Australia, khususnya dalam pengembangan riset tematik yang berorientasi pada kolaborasi internasional.

Salah satu kelompok riset yang resmi ditetapkan sebagai TRG pada tahun 2026 adalah Disability Research Group (DRG). Kelompok ini ditetapkan melalui Keputusan Rektor Universitas Hasanuddin Nomor 03376/UN4.1/KEP/2026, dengan Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A. sebagai Ketua TRG.
Disability Research sebagai Bidang Ilmiah Strategis
Ketua TRG Disability Research Group, Dr. Ishak Salim, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin, menyampaikan bahwa pembentukan DRG merupakan langkah penting dalam pengakuan institusional terhadap riset disabilitas sebagai bidang kajian akademik yang serius dan strategis.
Menurutnya, Disability Research Group tidak memposisikan disabilitas sebagai persoalan medis semata, melainkan sebagai fenomena sosial, kultural, dan institusional yang perlu dipahami secara kritis melalui penelitian ilmiah.
“Disability Research Group dirancang sebagai payung riset yang melihat disabilitas dalam relasinya dengan kebijakan, lingkungan kampus, praktik kelembagaan, dan pengalaman hidup difabel,” ujarnya.
Dr. Ishak menjelaskan bahwa DRG membuka ruang bagi beragam pendekatan dalam kajian disabilitas, seperti Disability Studies, Critical Disability Studies, Deaf Studies, Neurodiversity Studies, serta kajian disabilitas psikososial. Pendekatan ini memungkinkan riset disabilitas berkembang tanpa terjebak pada klasifikasi impairment semata.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan DRG memberikan peluang besar untuk mengembangkan riset yang berdampak langsung pada penguatan sistem inklusi di lingkungan kampus.
“Melalui riset, kita bisa memahami secara lebih mendalam hambatan-hambatan yang dialami mahasiswa dan sivitas akademika difabel, sekaligus merumuskan cara-cara paling tepat dan berbasis data untuk membangun kampus yang inklusif dan berkeadilan,” jelasnya.

Namun demikian, Dr. Ishak mengingatkan bahwa pembentukan DRG bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal dari proses panjang pengembangan riset disabilitas di Universitas Hasanuddin.
“Langkah-langkah berikutnya menuntut keseriusan, komitmen jangka panjang, dan semangat berpengetahuan yang membara. Tanpa itu, riset disabilitas berisiko berhenti pada simbolisme, bukan transformasi,” tambahnya.
Ke depan, Disability Research Group juga akan memperkuat perannya melalui kolaborasi riset, pengembangan kapasitas akademik, serta rencana penerbitan Disability and Inclusive Development Journal (DIDJ) sebagai wadah publikasi ilmiah khusus di bidang riset disabilitas.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang mencerminkan tingginya antusiasme para ketua TRG dalam mengembangkan riset kolaboratif, termasuk melalui kemitraan internasional seperti yang difasilitasi oleh PAIR.


-300x192.webp)





