MAKASSAR, UNHAS.TV - Diskusi peluncuran buku Pesiar Rasa: Ragam Pangan Lokal Karbohidrat Nonberas Sulawesi Selatan menghadirkan perspektif baru dalam memahami pangan, bukan sekadar sebagai kebutuhan konsumsi, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan, identitas, dan cara masyarakat bertahan hidup.
Kegiatan yang digelar di Studio Unhas TV, Kamis (16/4/2026), ini merupakan bagian dari rangkaian Daras Etno 2026. Diskusi menghadirkan Wilda Yanti Salam, Andi Batara Al Isra, serta Abdul Masli sebagai pencerita.
Dalam pemaparannya, Abdul Masli menjelaskan bahwa pemilihan istilah “pesiar rasa” bukan tanpa alasan. Menurutnya, metode sekaligus judul tersebut lahir dari pemahaman bahwa makanan merupakan bagian dari strategi bertahan hidup manusia, yang pada dasarnya adalah praktik kebudayaan.
“Makanan itu cara kita bertahan hidup, dan bertahan hidup adalah kebudayaan. Karena itu, pangan harus dilihat sebagai sesuatu yang hidup dan kultural, bukan sekadar komoditas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam banyak konteks sosial, makanan berfungsi sebagai siasat dalam menghadapi konflik. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, pangan kerap menjadi medium untuk meredakan ketegangan, membangun relasi, hingga memperkuat solidaritas sosial.
Sementara itu, Wilda Yanti Salam menekankan bahwa dapur dalam masyarakat Sulawesi Selatan memiliki makna yang lebih luas dari sekadar ruang domestik. Ia menyebut dapur sebagai ruang komunal yang menjadi pusat interaksi sosial.
“Dapur adalah ruang bersama. Di situlah kita melihat bagaimana makanan menjadi perekat sosial dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam budaya lokal, dapur kerap berada di ruang terbuka seperti kolong rumah, menandakan fungsi sosialnya yang inklusif. Di ruang inilah nilai-nilai komunal dibangun dan dipraktikkan.
Diskusi juga menggarisbawahi keterkaitan erat antara makanan dengan kondisi geografis dan dinamika politik. Makanan tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui proses sejarah, lingkungan, dan relasi kekuasaan yang melingkupinya.
Wilda menyebut, buku Pesiar Rasa hadir sebagai upaya untuk membaca kembali pangan dari sudut pandang yang lebih utuh, seperti menggabungkan pengalaman inderawi, memori, hingga interaksi sosial.
Pendekatan ini membuka ruang baru dalam memahami pangan sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat.
Di tengah krisis iklim dan kecenderungan homogenisasi pangan, penguatan kembali pangan lokal dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga keberagaman sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan budaya.
Melalui diskusi ini, penulis buku Kisah Kasih dari Dapur itu berharap, buku Pesiar Rasa mampu mendorong kesadaran bahwa pangan bukan sekadar apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana manusia membangun, merawat, dan mempertahankan kehidupannya melalui praktik kebudayaan.
(Achmad Ghiffary M / Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)
PESIAR RASA - Diskusi peluncuran buku Pesiar Rasa: Ragam Pangan Lokal Karbohidrat Nonberas Sulawesi Selatan di Studio Unhas TV, Kamis (16/4/2026). (Unhas TV/Achmad Ghiffary)

-300x169.webp)




-300x230.webp)

