Kesehatan
Unhas Sehat

Dokter Alfian Jadi Juri Lomba Kabupaten Katalon di Tingkat Nasional

Selasa itu, 18 Maret 2025, aula Hotel Novotel Cikini, Jakarta, dipenuhi ketegangan yang tak biasa. Para Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan dari berbagai daerah duduk berjajar, menyimak dengan saksama setiap paparan yang disampaikan. 

Semua datang dengan satu tujuan: memenangkan tiket emas untuk menjadi pilot project program SPHERES, sebuah inisiatif kolaborasi Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Indonesia dan Kementerian Kesehatan.


Dinamakan Kabupaten Katalon, seleksi ini bukan sekadar ajang kompetisi administratif. Lebih dari itu, ia adalah pintu gerbang bagi dua kabupaten terpilih untuk masuk dalam transformasi sistem kesehatan berbasis digital. 

“Ini bukan sekadar program bantuan, tapi investasi jangka panjang dalam sistem kesehatan primer yang berkelanjutan,” ujar Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.K.M, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) yang turut menjadi juri dalam ajang ini.

Sebagai akademisi yang telah lama berkecimpung di dunia kesehatan masyarakat, Alfian menilai Kabupaten Katalon sebagai momentum penting bagi pemerintah daerah untuk membuktikan kesiapannya menghadapi tantangan sistem kesehatan modern. 

“Kami melihat apakah mereka tidak hanya punya infrastruktur, tapi juga komitmen dan visi ke depan,” katanya.

Kabupaten Katalon, Apa Itu?

Kabupaten Katalon adalah ajang seleksi kompetitif yang dirancang untuk memilih dua kabupaten sebagai model implementasi program SPHERES (Scalable Public Health Empowerment, Research, and Education Sites). Program ini bertujuan memperkuat sistem kesehatan primer dengan transformasi digital yang berkelanjutan.

Kabupaten yang terpilih nantinya akan menjadi percontohan, mengintegrasikan penelitian berbasis bukti, pelatihan tenaga kesehatan, serta teknologi dalam layanan kesehatan masyarakat. 

BACA: Dokter Andi Alfian Zainuddin: Kalau Pintar Atur Waktu, Organisasi Oke, Akademik Oke

Dengan pendekatan ini, diharapkan sistem kesehatan di daerah dapat lebih efisien, mudah diakses, dan mampu menjawab tantangan kesehatan di masa depan.

Seleksi Kabupaten Katalon dilakukan dalam dua tahap. Babak awal berlangsung secara daring untuk menyaring kabupaten yang memiliki kapasitas awal yang cukup. Selanjutnya, kandidat terbaik maju ke babak akhir yang digelar secara langsung di Jakarta.

Arena Adu Gagasan

Di dalam ruangan seleksi, presentasi berlangsung ketat. Tiap daerah membawa data, strategi, dan komitmen mereka untuk meyakinkan dewan juri.

Di antara mereka, seorang Bupati terlihat sesekali mencatat, wajahnya penuh antusiasme. Di meja lain, seorang Kepala Dinas Kesehatan memaparkan bagaimana daerahnya telah menerapkan sistem rekam medis elektronik, sebuah poin plus dalam penilaian. “Kami ingin melihat bagaimana kesiapan mereka dalam mengintegrasikan teknologi dengan layanan kesehatan primer,” ujar Alfian.

Tak sekadar presentasi, para peserta juga diuji dalam sesi tanya jawab. Beberapa daerah tampak percaya diri, sementara yang lain tergagap saat ditanya soal keberlanjutan program pasca-intervensi. “Bukan hanya soal menang hari ini, tapi bagaimana mereka bisa memastikan program ini tetap berjalan dalam jangka panjang,” tambahnya.

Dengan program ini, dua kabupaten yang terpilih akan menjadi pionir dalam transformasi layanan kesehatan berbasis digital. “Mereka akan menjadi laboratorium hidup bagi kebijakan kesehatan yang inovatif,” kata Alfian. Kabupaten-kabupaten lain pun diharapkan bisa belajar dan menyesuaikan model ini dengan kebutuhan mereka.

Hingga malam menjelang, ruang seleksi masih dipenuhi diskusi hangat. Para juri mencermati setiap aspek, memastikan bahwa yang terpilih benar-benar siap. “Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal siapa yang benar-benar siap untuk membawa perubahan,” tutup Alfian.

Sekilas Profil Andi Alfian Zainuddin

Lahir dan besar di Makassar, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.K.M merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas). Ia dikenal sebagai pakar dalam bidang kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan, dengan pengalaman panjang dalam riset serta advokasi sistem kesehatan di Indonesia.

Sebagai akademisi, Alfian aktif dalam berbagai penelitian yang berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer, inovasi sistem kesehatan digital, serta strategi peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. 

Selain mengajar di Unhas, ia juga sering terlibat dalam program-program pengembangan kebijakan kesehatan di tingkat nasional dan internasional.

Keikutsertaannya sebagai juri dalam Kabupaten Katalon menjadi bukti perannya dalam mendorong transformasi sistem kesehatan di Indonesia. Ia melihat program ini sebagai langkah strategis untuk membangun layanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di daerah.

Seiring malam semakin larut, Kabupaten Katalon bukan lagi sekadar kompetisi. Ia adalah gerbang menuju transformasi kesehatan di Indonesia.