Pendidikan

Dorong Kolaborasi Global, Kemendikti Saintek Siapkan Program Road to Nobel Prize

Menteri Dikti Saintek Prof Brian Yuliarto saat diwawancarai unhas tv dalam kegiatan Nobel Laureate Lecture yang digelar di Baruga A. P. Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (29/1/2026). (unhas tv / moh resha maharam)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kualitas riset nasional melalui peningkatan kolaborasi internasional.

Salah satu inisiatif yang tengah disusun adalah program Road to Nobel Prize, yang ditujukan untuk menumbuhkan daya saing serta mimpi besar peneliti muda Indonesia agar mampu berkiprah di tingkat global.

Program tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, (Mendikti Saintek) Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD, dalam kegiatan Nobel Laureate Lecture yang digelar di Baruga A. P. Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (29/1/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Kemendikti Saintek dengan Universitas Hasanuddin sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring riset internasional.

Kuliah umum tersebut menghadirkan peraih Hadiah Nobel Kimia 2022, Profesor Morten P. Meldal dari University of Copenhagen, Denmark.

Kehadiran ilmuwan kelas dunia ini dimanfaatkan pemerintah tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan ilmiah, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi peluang kerja sama riset lintas negara.

Brian Yuliarto menegaskan bahwa kolaborasi dengan peneliti dan institusi luar negeri kini menjadi salah satu syarat utama dalam pendanaan riset nasional.

Menurut dia, keterlibatan peneliti Indonesia dalam jejaring global akan mempercepat peningkatan kualitas penelitian serta memperluas dampak riset yang dihasilkan.

Ia menyebutkan, salah satu langkah konkret yang tengah dirancang adalah membuka kesempatan bagi mahasiswa magister dan doktoral Indonesia untuk belajar dan melakukan riset langsung di laboratorium ilmuwan terkemuka dunia.

Prof Brian menyatakan termasuk laboratorium peraih Hadiah Nobel. Skema tersebut akan didukung oleh pendanaan dan beasiswa dari pemerintah.

Menurut Brian, pengalaman berinteraksi langsung dengan ilmuwan kelas dunia memiliki nilai strategis yang tidak bisa digantikan oleh pembelajaran teoritis semata.

Melalui keterlibatan langsung di lingkungan riset unggulan, peneliti muda diharapkan dapat memahami budaya ilmiah, etos kerja, ketekunan, serta pola pikir yang melahirkan riset berkelas dunia.

Pemerintah juga berencana menjajaki kerja sama serupa dengan sejumlah peneliti terkemuka internasional lainnya.

Upaya ini dimaksudkan untuk membangun ekosistem pembinaan jangka panjang bagi peneliti muda, mulai dari tahap pendidikan hingga pengembangan riset berdampak tinggi.

Program Road to Nobel Prize diproyeksikan menjadi kerangka pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi individual, tetapi juga pada penguatan posisi perguruan tinggi nasional dalam peta riset global.

Melalui program ini, pemerintah berharap lahir lebih banyak peneliti Indonesia yang berkontribusi pada penemuan ilmiah penting dan diakui secara internasional.

Momentum Nobel Laureate Lecture di Baruga AP Pettarani Universitas Hasanuddin menjadi bagian dari strategi tersebut.

Pemerintah berharap kegiatan serupa dapat terus digelar di berbagai perguruan tinggi, guna menumbuhkan semangat kolaborasi global serta memperkuat budaya riset unggulan di lingkungan akademik Indonesia. 

(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas)