Kesehatan
News

Dosen FKG Unhas Ingatkan Bahaya Gusi Berdarah Jika Tak Ditangani

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin drg Sitti Raoda Juanita Ramadhan Sp Perio. (unhas tv/moh resha maharam)

UNHAS.TV - Gusi berdarah, bagi sebagian orang sering dianggap sebagai masalah ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya.

Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan gigi dan mulut yang berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin (Unhas), drg Sitti Raoda Juanita Ramadhan Sp Perio, mengungkapkan bahwa gusi berdarah dan bengkak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kebersihan mulut yang buruk hingga kondisi kesehatan sistemik.

Menurut Sitti Raoda, penyebab paling umum gusi berdarah adalah penumpukan plak dan kalkulus akibat sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan baik. Plak yang dibiarkan dalam waktu lama dapat memicu peradangan pada gusi.

“Gusi berdarah dan bengkak paling sering disebabkan oleh bakteri atau plak yang terbentuk dari sisa makanan yang tidak dibersihkan, kemudian mengeras menjadi kalkulus,” ujarnya di FKG pada Senin (26/1/2026).

Selain itu, faktor lain yang turut memicu gusi berdarah adalah perubahan hormon, terutama pada ibu hamil, kebiasaan merokok, serta cara menyikat gigi yang tidak tepat.

Kesalahan teknik menyikat, pemilihan sikat gigi yang tidak sesuai, atau tekanan yang terlalu keras dapat menyebabkan trauma pada gusi.

“Cara menyikat gigi yang kurang baik, baik dari teknik, pemilihan sikat gigi, maupun tekanan yang terlalu kuat, bisa menyebabkan trauma pada gusi,” katanya.

Sitti Raoda juga menyebutkan bahwa penyakit sistemik tertentu dapat menjadi faktor risiko terjadinya gusi berdarah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa gusi berdarah bukanlah penyebab langsung penyakit sistemik seperti jantung atau diabetes, melainkan faktor risiko.

“Gusi berdarah yang tidak dirawat bisa menyebabkan peradangan berkepanjangan. Peradangan ini dapat menyebar ke jaringan pendukung gigi dan meningkatkan penumpukan bakteri,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada penderita penyakit jantung, bakteri dari area gusi yang meradang berpotensi masuk ke aliran darah dan memicu inflamasi di organ lain.

Terkait penanganan, Sitti Raoda menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan ke dokter gigi sejak dini. Perawatan yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi gusi.

“Penanganan paling dasar adalah pembersihan karang gigi. Jika belum parah, pembersihan saja sudah cukup, lalu dilanjutkan dengan kontrol sesuai kondisi pasien,” ujarnya.

Namun, jika peradangan telah menyebar ke jaringan yang lebih dalam, pasien memerlukan perawatan lanjutan. Selain tindakan medis, edukasi kepada pasien juga menjadi bagian penting dari perawatan.

“Walaupun perawatan sudah dilakukan, kalau pasien tidak mengubah kebiasaan, itu akan memengaruhi keberhasilan perawatan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut minimal setiap enam bulan sekali, mengurangi konsumsi makanan manis, menjaga kebersihan mulut setelah makan, serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.

“Penyakit gusi sering tidak menunjukkan gejala awal. Saat sudah berdarah atau bau mulut, itu menandakan sudah ada masalah. Karena itu, kontrol rutin sangat penting untuk pencegahan,” tutup Sitti Raoda.

(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)