Sport

Dua Gol Barcelona Tak Cukup, Kartu Merah Mengantar Atlético Bertahan dan Lolos Semifinal



MAIN BAGUS - Striker Barcelona Lamine Yamal tampil bagus namun sayang tidak dapat membalikkan keadaan saat main di kandang Atletico Madrid. (The Sun/AP)


Pertandingan lalu berkembang menjadi duel yang keras, cepat, dan melelahkan. Barcelona tetap memegang kendali permainan, tetapi Atlético mulai lebih disiplin menjaga blok pertahanan mereka.

Di tengah intensitas laga, Fermín López sempat mengalami benturan keras dengan Musso yang membuat wajahnya berdarah.

Momen itu menambah ketegangan pada pertandingan yang sejak awal sudah panas. Di babak kedua, Barcelona sempat mengira mereka mendapat gol ketiga ketika Ferran Torres kembali menjebol gawang Atlético.

Namun sayang, VAR membatalkannya karena Ferran dinilai offside. Kesempatan itu menjadi salah satu titik yang paling disesali tim tamu.

Hansi Flick mencoba menambah tenaga serang. Barcelona terus menekan lewat penguasaan bola dan sirkulasi cepat di lini tengah, dengan Pedri, Gavi, dan Olmo menjadi penggerak utama.

Namun saat dorongan untuk mencari gol semakin besar, risiko di belakang juga membesar. Atlético membaca situasi itu.

Alexander Sørloth, yang masuk sebagai pemain pengganti, lolos dalam sebuah serangan balik dan ditahan dari belakang oleh Eric Garcia.

Wasit awalnya memberi kartu kuning, tetapi keputusan itu ditinjau lewat VAR dan berubah menjadi kartu merah. Barcelona kembali bermain dengan 10 orang, seperti pada leg pertama saat Pau Cubarsí juga diusir wasit.

Kartu merah itu praktis mengempiskan momentum comeback Barcelona. Atlético tidak menang pada malam itu, tetapi mereka menang dalam hitungan yang paling penting yakni agregat.

Simeone mendapatkan timnya kembali ke empat besar Eropa, sebuah capaian yang menegaskan identitas lama Atlético sebagai tim yang bisa hidup dari penderitaan, bertahan dalam tekanan, lalu menghukum lawan pada satu momen yang tepat.

Musso menyebut skuad Atlético sebagai kelompok yang kompak dan pantas mengejar hal besar. Sementara Flick mengakui timnya tampil dengan mentalitas dan sikap yang benar, tetapi gagal menyelesaikan pekerjaan di area-area kecil yang menentukan.

Bagi Barcelona, malam di Madrid menjadi ringkasan yang kejam tentang kampanye Eropa mereka dengan strategi menyerang dengan berani.

Hal itu sempat mengguncang lawan, tetapi kembali dihukum oleh detail kecil, garis pertahanan yang rapuh, dan satu kartu merah di saat paling genting.

Bagi Atlético, ini bukan malam yang indah. Ini malam yang lebih penting dari itu, malam ketika mereka bertahan, selamat, dan melaju ke semifinal. Griezman dkk menunggu pemenang duel Arsenal kontra Sporting Lisbon. (*)