MAKASSAR, UNHAS.TV - Dunia penerbangan Eropa, menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency, IEA) dalam posisi mengkhawatirkan. Ini karena sisa persediaan bahan bakar jenis Avtur hanya cukup untuk enam pekan kemudian.
Salah satu penyebab utamanya yakni pasokan dari Timur Tengah sedang bermasalah seiring penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran. Jika Iran tetap teguh mempertahankan sikapnya, maka seluruh penerbangan dari dan menuju Eropa otomatis akan berhenti.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebutkan, tanda-tanda krisis bahan bakar di Eropa mulai terlihat dari sejumlah maskapai penerbangan membatalkan penerbangan untuk rute tertentu. Salah satunya, maskapai penerbangan asal Belanda, KLM, menegaskan akan membatalkan 160 penerbangan di Eropa pada bulan depan jika krisis bahan bakar belum teratasi.
Dampak lanjutan dari krisis ini, perekonomian di Eropa akan memburuk karena sektor transportasi udara merupakan salah satu pendorong dinamika ekonomi di benua itu, utamanya pada jasa kargo lintas udara.
Hingga saat ini, harga bakan bakar penerbangan sudah naik menjadi $1.560 per ton, naik drastis dari angka $500 per ton pada November 2025. Harga ini diperkirakan akan terus meningkat karena belum ada tanda baik perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat akan berakhir.
Kenaikan harga juga otomatis meningkatkan biaya operasional maskapai penerbangan. Biaya operasional rata-rata maskapai penerbangan di Eropa meningkat drastis antara 20 hingga 40 persen. Maskapai EasyJet, misalnya, mengaku mengalami kenaikan biaya operasional menjadi 25 juta Poundsterling pada Maret ini.
Komisi Eropa sudah berupaya akan krisis ini bisa ditekan sedemikian rupa walau terasa sangat sulit. Apalagi 75 persen pasokan bahan bakar untuk Eropa berasal dari Timur Tengah. Upaya mencari sumber baru juga sudah tidak memungkinkan karena negara lain sudah lebih dulu melakukan pemesanan.(*)
-300x183.webp)





-300x169.webp)

