Sosial
Sulsel

Dua Kali Tertunda karena Kesehatan, Penyandang Tuna Daksa Asal Sinjai Akhirnya Berangkat Haji

BERANGKAT HAJI - Jamaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kasma Muskin Nusi, akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Sabtu (2/5/2026). (Unhas TV/Wandi Nojeng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Setelah dua kali gagal berangkat karena kondisi kesehatan, jamaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kasma Muskin Nusi, akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Perempuan 48 tahun itu tergabung dalam Kelompok Terbang atau Kloter 17 Embarkasi Makassar yang tiba di Asrama Haji Sudiang, Kota Makassar, Sabtu (2/5/2026).

Kasma datang bersama 392 jamaah calon haji lainnya. Dengan kursi roda, ia mengikuti seluruh tahapan penerimaan jamaah, termasuk pemeriksaan kesehatan yang menjadi salah satu syarat sebelum pemberangkatan.

Keterbatasan fisik tidak mengurangi semangatnya untuk menjalani rangkaian ibadah Rukun Islam kelima yang telah lama ia nantikan.

Perjalanan Kasma menuju Tanah Suci bukan perkara mudah. Ia mendaftar haji sejak 2011 dari hasil berjualan pakaian. Setelah menunggu lebih dari satu dekade, ia sempat mendapat panggilan berangkat pada 2023. Namun, rencana itu tertunda karena penyakit gula yang dideritanya.

Kesempatan kembali datang pada 2024. Saat itu, Kasma masuk sebagai jamaah prioritas. Namun, kondisi kesehatannya kembali memburuk.

Luka di kaki akibat diabetes semakin parah hingga membuat kaki kanannya harus diamputasi. Tak hanya itu, tangan kanannya juga sempat mengalami pelemahan sehingga ia harus menjalani pemulihan cukup panjang.

“Pendaftaran tahun 2011. Seharusnya dua tahun lalu saya sudah naik. Saya tidak naik karena penyakit gula, luka di kaki, akhirnya naik sampai di lutut, diamputasi sampai di paha,” kata Kasma saat ditemui di Asrama Haji Sudiang.

Menurut Kasma, proses pemulihan itu memakan waktu sekitar dua tahun. Setelah kondisinya membaik, ia akhirnya dinyatakan dapat berangkat tahun ini. Kasma mengaku bersyukur karena penantian panjangnya kini berbuah kesempatan untuk memenuhi panggilan ibadah haji.

“Perasaan saya dua tahun tertunda, alhamdulillah bahagia, senang, karena bisa tahun ini naik,” ujarnya.

Menjelang keberangkatan, Kasma menyiapkan diri secara mental dan spiritual. Ia mengatakan lebih banyak memperbanyak salat, berdoa, dan memusatkan pikiran untuk beribadah.

Ia juga menyiapkan kebutuhan pribadi, termasuk makanan, agar dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang selama di Tanah Suci.

Dalam perjalanan haji kali ini, Kasma didampingi anaknya. Sang anak tidak mendaftar haji bersamaan dengannya, tetapi berangkat sebagai pendamping.

Sebelumnya, Kasma mendaftar bersama suaminya, namun rencana itu berubah karena berbagai kondisi yang harus dihadapi keluarga.

“Kalau anakku ini tidak sama mendaftar, tapi dia sebagai pendamping. Awalnya saya mendaftar sama bapak,” kata Kasma.

Kisah Kasma menjadi gambaran bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk menjalankan ibadah.

Dengan pendampingan keluarga dan layanan bagi jamaah disabilitas, ia berharap dapat menjalani seluruh rangkaian haji dengan lancar. “Doa saya nanti di Tanah Suci banyak,” ujarnya.

(Wandi Nojeng / Unhas TV)