MAKASSAR, UNHAS.TV - Diskusi dan peluncuran buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga digelar di AAS Building Lantai 4, Jalan Urip Sumoharjo No. 3, Makassar, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Dewan Pembaca Sulawesi Post ini menghadirkan ruang dialog publik untuk membedah praktik politik uang di Indonesia.
Pemimpin Redaksi Sulawesi Post, Andi Asmadi, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi publik, sekaligus membuka ruang bagi para penulis untuk mempublikasikan karyanya secara lebih luas.
“Kegiatan ini adalah kerja sama antara Sulawesi Post dan Dewan Pembaca Sulawesi Post. Kami ingin memberikan ruang bagi para penulis, khususnya dari kalangan Dewan Pembaca, agar karya mereka bisa lebih dikenal dan dibaca oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang peluncuran buku, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik. Menurutnya, rendahnya minat baca masyarakat menjadi tantangan tersendiri yang perlu direspons melalui kegiatan literasi yang berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat dan menjadi wadah untuk mengamplifikasi karya-karya penulis,” tambahnya.
Dalam diskusi tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Phill Sukri SIP MSi, menekankan bahwa praktik money politics merupakan fenomena yang terus berulang dalam setiap momentum pemilu.
Menurutnya, praktik tersebut menjadi tantangan besar bagi terwujudnya demokrasi yang sehat, meskipun keberadaannya seringkali sulit dibuktikan secara hukum.
“Money politics itu kita tahu ada, tetapi sering kali sulit dibuktikan. Buku ini penting karena menunjukkan bahwa praktik tersebut memang nyata dan perlu menjadi perhatian serius,” jelasnya.
Ia juga menilai, diskusi buku tersebut membuka ruang refleksi, sekaligus pencarian solusi untuk mengurangi hingga menghilangkan praktik manipulasi dalam sistem demokrasi.
“Kalau kita sepakat demokrasi sebagai sistem, maka tidak ada jalan lain selain memastikan ia berjalan sehat, termasuk dengan menghilangkan berbagai bentuk manipulasi,” tegasnya.
Sementara itu, penulis buku itu, Mustamin Raga, mengungkapkan bahwa karyanya lahir dari kegelisahan terhadap kondisi politik elektoral yang dinilai semakin dipengaruhi oleh kekuatan modal.
Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong maraknya praktik money politics. Pertama, sistem partai politik yang dinilai cenderung menjadi “mesin produksi” kandidat berbiaya tinggi, sehingga hanya mereka yang memiliki modal besar yang dapat bersaing.
Kedua, posisi masyarakat yang kerap dipandang sebagai pelaku, padahal dalam banyak kasus justru menjadi korban karena kondisi ekonomi yang dimanfaatkan dalam praktik politik uang. Ketiga, lemahnya penegakan hukum yang dinilai cenderung menormalisasi praktik tersebut.
“Money politics bukan sekadar pelanggaran, tetapi merupakan kejahatan politik dalam proses pemilu,” tegasnya.
Mustamin juga mengungkapkan, motivasinya menulis buku itu berangkat dari pengalaman dan keprihatinannya terhadap sistem rekrutmen politik yang dinilai belum ideal. Ia berharap bukunya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mampu menggugah kesadaran publik.
“Buku ini saya harap tidak hanya dibaca, tetapi juga mampu menyentuh hati dan mendorong perubahan,” ujarnya.
Kegiatan ini turut menghadirkan pembahas lain, yakni Pemimpin Redaksi Tribun Timur Nur Thamzil Thahir, serta dimoderatori oleh Dosen Sastra Asia Barat, Supratman SS MA PhD. Diskusi berlangsung dinamis dengan dihadiri kalangan akademisi, jurnalis, konsultan politik, hingga masyarakat umum.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Diskusi dan peluncuran buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga digelar di AAS Building Lantai 4, Jalan Urip Sumoharjo No. 3, Makassar, Sabtu (1842026). (Dok Pribadi)





-300x189.webp)


