
Ketua Umum Pengurus Pusat IKA Unhas periode 2026-2030 Dr Andi Amran Sulaiman SP MSi. (Dok Unhas TV)
Buku ini juga lahir dari ekosistem literasi Sulawesi Selatan. Penulisnya merupakan alumnus Universitas Hasanuddin, tulisan awalnya tumbuh di Kabarika.id, dan bukunya diterbitkan Unhas Press di Makassar.
Bagi Suwardi, Ketua PWI Susel, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual dari Indonesia timur tetap hidup dan memberi warna pada percakapan nasional.
Di mata Habibie Razak, pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII), kehadiran dwilogi ini melengkapi ikhtiar penulis membaca Indonesia menggunakan logika insinyur dan merasakannya dengan nurani manusia.
Rumusan itu menjadi cara ringkas untuk memahami posisi buku: bukan karya akademik yang sarat teori, bukan pula kumpulan curahan hati, melainkan catatan warga terdidik yang mencoba mempertanggungjawabkan pengetahuannya di ruang publik.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Korporat PT Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, menilai dwilogi ini hadir ketika Indonesia diuji oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian global, dan tantangan kedaulatan di berbagai sektor.
Ia menemukan gagasan mengenai pangan, energi, ketahanan ekonomi, transformasi digital, serta kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.
Menurut Alimuddin, penulis tidak larut dalam pesimisme, tetapi juga tidak menawarkan optimisme kosong. Sikap itu terasa dalam nada umum buku.
"Amril tidak menutupi ancaman yang dihadapi Indonesia. Namun ia juga tidak menempatkan bangsa ini sebagai korban tanpa daya. Harapan yang ditawarkan mensyaratkan kerja, kecakapan, disiplin, dan keberpihakan," tulisnya.
Meski demikian, keluasan tema menjadi tantangan tersendiri. Pembaca yang mencari pembahasan sangat mendalam mengenai satu sektor mungkin merasa sejumlah tulisan berhenti ketika diskusi baru mulai menarik.
Format opini mengharuskan argumen disampaikan secara padat sehingga tidak semua persoalan memperoleh ruang yang sama.
Keterbatasan itu sekaligus menjadi pintu masuk. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai pemantik untuk menelusuri persoalan lebih jauh, bukan ensiklopedia yang bermaksud menutup perdebatan. Setiap tulisan membuka jendela, sedangkan pembaca dipersilakan meneruskan perjalanan.
Sebagai dwilogi, Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa saling mengisi. Jilid pertama memetakan tekanan yang datang dari perubahan global dan struktur sosial-ekonomi.
Jilid kedua memeriksa daya tahan batin, intelektual, serta kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menghadapinya. Yang satu menunjukkan badai; yang lain mengingatkan bahwa kompas tidak boleh rusak.
Benang merah kedua buku itu adalah kemanusiaan. Suwardi menempatkan kemanusiaan sebagai jangkar yang tidak boleh dilepaskan, bahkan ketika teknologi, ekonomi, dan politik bergerak cepat.
Ia menyebut buku tersebut sebagai dokumen zaman—catatan tentang apa yang dicemaskan, diperjuangkan, dan dicintai masyarakat Indonesia hari ini.
Karena itu, dwilogi ini layak dibaca bukan hanya oleh insinyur atau alumni Universitas Hasanuddin. Buku tersebut dapat menjadi teman berpikir bagi mahasiswa, akademisi, pelaku usaha, birokrat, pekerja media, praktisi kesehatan, generasi muda, dan pengambil kebijakan.
Pesannya sederhana, tetapi mendesak: kemampuan membangun negeri tidak cukup disokong kecerdasan teknis. Ia juga membutuhkan nurani, empati, solidaritas, dan keberanian berpihak.
Pada akhirnya, Indonesia di Tengah Badai Zaman tidak meminta pembaca menyetujui seluruh pandangan penulisnya. Buku itu mengundang mereka untuk berhenti, menimbang, dan mengambil posisi.
Di tengah arus informasi yang sering mendorong reaksi lebih cepat daripada pemikiran, undangan semacam ini menjadi berharga.
Sebagaimana dinyatakan dalam pengantar buku, bangsa yang menulis adalah bangsa yang berpikir. Bangsa yang tetap berpikir tidak akan mudah tersesat ketika tiba di persimpangan zaman. (*)








