Karier
Sosial

Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman: Mengukur Negeri dengan Nalar dan Nurani



Buku Amril Taufik Gobel - Indonesia di Tengah Badai Zaman - Jilid 2 Merawat Jiwa Bangsa. (cover buku)


Jilid kedua, Merawat Jiwa Bangsa, memperluas pembahasan dari struktur negara ke kondisi manusianya. Kesehatan mental, pendidikan, demokrasi, kepemimpinan, dan tantangan dunia digital ditempatkan dalam satu rangkaian.

Gagasan dasarnya terang: pembangunan tidak cukup dinilai dari jalan, gedung, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Sebuah bangsa juga mesti memelihara kewarasan bernalar, solidaritas sosial, serta kepekaan kepada mereka yang tertinggal.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof Dr Amran Razak SE MSc, menangkap benang merah itu melalui seruan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ia menilai buku ini menyentuh unsur yang kerap luput dari arah kebijakan pembangunan, yakni kesehatan jiwa bangsa.

Dalam pembacaan Amran, bangsa yang sehat bukan hanya masyarakat yang terbebas dari penyakit. Bangsa yang sehat juga harus waras dalam bernalar, terawat nuraninya, dan kokoh solidaritas sosialnya. Karena itu, ia menyebut dwilogi tersebut sebagai vitamin bagi jiwa dan raga bangsa.

Sudut pandang serupa disampaikan Ana Mustamin, Managing Director PT Jorindo Agung dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia.

Sebagai pelaku usaha, ia melihat buku ini mengingatkan bahwa di balik angka, target, dan teknologi selalu ada manusia yang martabatnya harus dijaga.

Pandangan tersebut membuat dwilogi ini relevan bagi kalangan profesional yang sehari-hari bekerja dengan target dan indikator kinerja, tetapi berisiko melupakan dampak sosial dari sebuah keputusan.

Amril seperti hendak mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh menghapus empati, sedangkan keuntungan tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Isu pangan mendapat tempat khusus. Dalam pengantar jilid pertama, Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin, Andi Amran Sulaiman, menyebut kedaulatan pangan bukan sekadar urusan angka produksi.

"Persoalan itu menyangkut martabat bangsa, kesejahteraan petani, kemampuan berdaulat di dapur sendiri, dan kesediaan generasi muda untuk turun ke sawah," komentar Mentan dalam buku.

Pembacaan tersebut sejalan dengan penilaian Direktur Operasi Perum Bulog, Andi Afdal. Ia melihat ketahanan pangan, kemanusiaan, ekonomi, dan transformasi digital bukan isu yang berdiri sendiri. Seluruhnya merupakan fondasi bagi kedaulatan bangsa.

Karena itu, tulisan mengenai pangan dalam buku ini tidak berhenti pada jumlah produksi dan kelancaran distribusi.

Pembahasannya bergerak ke relasi yang lebih luas: posisi petani, daya tahan masyarakat, keberpihakan kebijakan negara, kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, dan ancaman ketergantungan terhadap pasokan dari luar.

Andi Amran juga menyoroti cara penulis mengajak pembaca berhenti sejenak dari kebisingan tagar serta tren sesaat. Amril mempertanyakan apakah empati masih sejati dan apakah manusia masih dipandang sebagai manusia, bukan sekadar angka statistik.

Pertanyaan itu, menurut Andi Amran, menjadikan buku tersebut sebagai ajakan merawat nurani, bukan hanya himpunan pendapat.

Kekuatan buku ini memang terletak pada upayanya menghubungkan isu yang kerap dibahas secara terpisah. Pangan berkaitan dengan lingkungan dan ekonomi.

Transformasi digital menyentuh demokrasi, pekerjaan, pendidikan, serta kesehatan mental. Kepemimpinan bukan sekadar perkara jabatan, melainkan kemampuan menjaga kesinambungan dan menyiapkan generasi berikutnya.

Hubungan-hubungan itu memberi pembaca gambaran Indonesia dari sudut yang luas. Anshar Rahman, pemimpin strategis di Kalla Group, mengibaratkan pengalaman membaca buku ini seperti melihat Indonesia dari atas helikopter.

"Tema yang beragam tetap dipertemukan oleh kegelisahan serupa: bagaimana negeri ini menghadapi badai perubahan tanpa kehilangan arah," ujarnya.

Anshar juga menilai Amril produktif menuangkan pikiran, seolah-olah “berpikir melalui jari-jarinya”, meminjam ungkapan penulis Isaac Asimov. Namun produktivitas tersebut bukan muncul secara tiba-tiba.

Sementara itu, Prof Dr drg Arsunan Arsin MKes, mantan aktivis mahasiswa Universitas Hasanuddin, mengenal Amril sejak menjadi mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 1989. Menurut dia, bakat menulis Amril telah terlihat sejak masa penerimaan mahasiswa baru.

Amril kemudian menjadi salah satu pendiri dan pemimpin redaksi pertama surat kabar mahasiswa Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas, Channel 9, pada 1991–1993. Ia juga pernah menjadi redaktur pelaksana surat kabar kampus Identitas pada 1992–1993.

Riwayat itu menjelaskan mengapa tulisan Amril memiliki kedekatan dengan kerja jurnalistik, meskipun profesi utamanya berada di dunia teknik. Ia terbiasa membaca peristiwa sebagai bahan percakapan publik.

Arsunan menyebut kegiatan tersebut dekat dengan jantung jurnalistik: merekam zaman, memverifikasi keresahan, lalu menyajikannya kepada masyarakat sebagai bahan percakapan yang sehat.

Ekosistem Literasi Sulawesi Selatan

>> Baca Selanjutnya