Pendidikan

PAIR Summit 2026 Satukan Indonesia Australia, Dorong Solusi Nyata untuk Masyarakat Pesisir Sulawesi

PAIR SUMMIT - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah pelaksanaan PAIR Summit 2026 yang berlangsung di Ballroom Unhas Hotel and Convention, Makassar, pada 20–23 Juli 2026. PAIR Summit 2026 mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, dan mitra pembangunan dari Indonesia serta Australia untuk membahas persoalan masyarakat pesisir. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV – PAIR Summit 2026 mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, dan mitra pembangunan dari Indonesia serta Australia untuk membahas persoalan masyarakat pesisir. Forum ini berlangsung di Ballroom Unhas Hotel and Convention, Makassar, pada 20–23 Juli 2026.

PAIR Partnership for Australia-Indonesia Research adalah Kemitraan Riset Australia-Indonesia yang diinisiasi oleh AIC yang didukung oleh Pemerintah Australia dan Indonesia serta melibatkan 11 universitas dalam negeri.

Kegiatan yang berlangsung empat hari ini menjadi ruang strategis bagi peneliti, pembuat kebijakan, dan mitra pembangunan untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor. 

Program ini merupakan bagian dari kemitraan Indonesia–Australia yang didukung oleh berbagai lembaga, termasuk Australia-Indonesia Centre dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Pembukaan acara diawali oleh Master of Ceremony, dilanjutkan dengan pemutaran video sambutan dari Najwa Shihab serta video profil program PAIR. 

Mengusung tema Coastal Communities Sulawesi: Science, Policy, and Action, kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan aksi nyata dalam mendukung keberlanjutan masyarakat pesisir.

Sejumlah tokoh turut menyampaikan sambutan, di antaranya Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa, Executive Director Australia-Indonesia Centre Boyd Walan, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr. Fauzan Adziman, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Dr. Ayom Widipaminto, serta Konsul Jenderal Australia di Makassar Todd Dias.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa menegaskan bahwa PAIR merupakan program kemitraan strategis antara Indonesia dan Australia yang mendorong kolaborasi riset lintas negara.

“PAIR adalah program yang kita kembangkan bersama pemerintah Australia. Ini menjadi ruang kolaborasi para peneliti dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia untuk bertukar informasi dan menghasilkan ide-ide baru," ujarnya.

"Harapannya, kolaborasi ini mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, Australia, bahkan dunia melalui penelitian yang menjawab berbagai tantangan,” jelas Prof JJ --sapaan rektor Unhas.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto yang menyoroti pentingnya peran sains, inovasi, dan kemitraan dalam menjawab tantangan masa depan masyarakat pesisir.

Memasuki sesi inti, berbagai diskusi tematik digelar, di antaranya talkshow bertema Sustainable Seaweed Industry yang membahas strategi pengembangan industri rumput laut berkelanjutan. 

Talkshow berikutnya mengangkat tema Clean Energy Transition yang mengulas tantangan dan peluang transisi energi bersih di kawasan Indonesia Timur.

Setelah jeda makan siang, diskusi berlanjut melalui tema Climate and Health yang menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat pesisir. 

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi pleno dan parallel sessions yang mempertemukan peneliti serta mitra untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin.

Selain itu, turut digelar Research Advisory Panel Meeting yang membahas arah strategis program PAIR ke depan. 

Melalui forum ini, diharapkan lahir berbagai solusi inovatif berbasis riset yang mampu menjawab tantangan di wilayah pesisir sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)