Budaya
Pendidikan

FIB Unhas Bedah Buku Nasab Datu Halia, Jejak Bangsawan Bone-Gowa di Manipi

BEDAH BUKU - FIB Unhas menggelar peluncuran dan bedah buku Menelusuri Nasab dan Keturunan Datu Halia di Manipi di Aula Prof Mattulada FIB Unhas, Kampus Unhas Tamalanrea, Rabu (17/6/2026). (Unhas TV / Moh Resha Maharam)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) menggelar peluncuran dan bedah buku Menelusuri Nasab dan Keturunan Datu Halia di Manipi di Aula Prof Mattulada, FIB Unhas, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membaca kembali jejak sejarah, silsilah keluarga, dan identitas budaya yang bertaut dengan masyarakat Manipi, Kabupaten Sinjai.

Acara tersebut dihadiri mahasiswa, dosen, masyarakat umum, keturunan Datu Halia, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Sinjai. Buku yang dibedah ditulis oleh Andi Marjuni Kahar.

Ia menelusuri garis keturunan Datu Halia, tokoh bernama lengkap La Muhammad Cambang Muhammad Bau Karopa Sappewalie Datu Halie.

Datu Halia disebut memiliki garis bangsawan yang tersambung dengan tiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan: Bone, Gowa, dan Luwu.

Melalui buku ini, Andi Marjuni menyusun silsilah keluarga Datu Halia secara rinci. Penelusuran itu tidak hanya berhenti sebagai catatan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah lokal.

Dalam penjelasannya, Andi Marjuni mengatakan buku tersebut mencatat garis keturunan seorang tokoh penting yang memiliki hubungan dengan Raja Bone ke-16, La Patau Matanna Tikka.

Garis itu, kata dia, terhubung melalui pernikahan dengan Mariama Karaeng Pattukangang, putri dari Kerajaan Gowa.

“Garis keturunan ini menjadi simbol penyatuan genealogis antara dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yakni Bone dan Gowa,” kata Andi Marjuni dalam bedah buku tersebut.

Menurut dia, dalam konteks budaya hari ini, garis keturunan tersebut memperlihatkan perpaduan Bugis dan Makassar. Dari garis itulah lahir Datu Halia, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Manipi.

Datu Halia menikah dengan Basse Sanjata, yang juga disebut memiliki garis keturunan bangsawan dan keterhubungan dengan sejumlah tokoh penting di Nusantara.

Andi Marjuni menilai dokumentasi tertulis mengenai nasab semakin penting di tengah perubahan zaman dan generasi kekinian.

Ia mengatakan pengetahuan masyarakat tentang hubungan kekerabatan dan silsilah keluarga perlahan memudar, terutama di kalangan generasi muda. Karena itu, buku ini diharapkan menjadi awal dari pendokumentasian yang lebih luas dan berkelanjutan.



BEDAH BUKU - FIB Unhas menggelar peluncuran dan bedah buku Menelusuri Nasab dan Keturunan Datu Halia di Manipi di Aula Prof Mattulada FIB Unhas, Kampus Unhas Tamalanrea, Rabu (17/6/2026). (Unhas TV / Moh Resha Maharam)


Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof Dr Andi Muhammad Akhmar SS MHum mengatakan kegiatan ini sejalan dengan perhatian utama FIB Unhas dalam menggali, mendiskusikan, dan mendokumentasikan sejarah serta kebudayaan.

Menurut dia, bedah buku tersebut berawal dari diskusi kecil yang kemudian berkembang menjadi kegiatan akademik bersama.

“Karena salah satu perhatian Fakultas Ilmu Budaya adalah menggali dan mendiskusikan sejarah serta kebudayaan, maka kami ikut terlibat dalam bedah buku ini,” kata Andi Akhmar.

Ia berharap kegiatan serupa dapat melibatkan lebih banyak akademisi, pemerhati kebudayaan, masyarakat, dan keturunan langsung Datu Halia. FIB Unhas, kata dia, mendukung kegiatan tersebut dengan menghadirkan narasumber dari lingkungan Universitas Hasanuddin.

Perwakilan Pemerintah Kabupaten Sinjai, melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, turut mengapresiasi peluncuran dan bedah buku ini.

Pemerintah daerah menilai kegiatan semacam ini penting untuk menjaga identitas kebudayaan dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Terlebih, generasi muda kini dinilai semakin berjarak dari sejarah leluhur dan akar budayanya.

Peluncuran buku ini juga menjadi pengingat bahwa silsilah keluarga tidak semata urusan garis darah. Di dalamnya terdapat sejarah migrasi, perjumpaan budaya, relasi antarkerajaan, serta pembentukan identitas sosial masyarakat.

Dalam kasus Datu Halia, nasab menjadi pintu masuk untuk membaca hubungan historis antara Bone, Gowa, Luwu, dan Manipi.

Melalui kegiatan ini, FIB Unhas berharap kajian sejarah lokal dan genealogis terus dikembangkan. Dokumentasi seperti buku Menelusuri Nasab dan Keturunan Datu Halia di Manipi dinilai dapat menjadi pijakan bagi generasi berikutnya untuk mengenal asal-usul, menjaga identitas, dan memahami posisi mereka dalam sejarah Sulawesi Selatan.

(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas TV)