Karier
Mahasiswa
Pendidikan

Spil Outfit Wisudawan HI Unhas: Dari Gaya Militer Hingga Diplomasi Nyentrik di Momen Kelulusan

WISUDA - Tiga wisudawan asal program studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) angkatan 2022, yaitu Srik, Kevin, dan Evan. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Prosesi wisuda periode Juni 2026 Universitas Hasanuddin (Unhas) tidak hanya menjadi panggung perayaan akademis, melainkan juga ajang unjuk kreativitas bagi para lulusannya.

Fenomena membagikan detail busana (spil outfit) wisuda kini bertransformasi menjadi tren yang sarat akan makna personal.

Hal itu ditunjukkan oleh tiga wisudawan asal program studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) angkatan 2022, yaitu Srik, Kevin, dan Evan.

Dalam sebuah sesi wawancara santai di area kampus, ketiganya memaparkan tema busana yang mereka kenakan, yang ternyata merefleksikan prinsip hidup, impian, hingga karakter unik masing-masing selama menempuh masa studi di Unhas.

Wisudawan pertama, Srik, memilih tampil beda dengan mengusung tema busana kemiliteran. Ia memaparkan bahwa konsep militer dipilih karena identik dengan nilai kedisiplinan dan ketegasan.

Bagi Srik, momen kelulusan merupakan awal dari sebuah perjalanan baru yang membutuhkan fondasi prinsip yang kokoh.

"Kenapa saya pakai tema militer? Karena militer dikenal dengan disiplin dan tegas. Jadi setelah wisuda kan itu memulai perjalanan baru. Walaupun sudah menyelesaikan sekitar 4 tahun kuliah di Unhas, tapi pendirian dan prinsip harus tetap kokoh, disiplin, dan tegas seperti militer," jelas Srik.

Terkait anggaran, Srik memperkirakan total biaya yang dihabiskan untuk keseluruhan busananya berada di kisaran Rp300 ribuan.

Sementara itu, Kevin memilih konsep yang sangat erat dengan rumpun keilmuannya, yaitu tema diplomasi.

Busana berupa setelan jas formal yang ia kenakan bukan sekadar pakaian biasa, melainkan pakaian yang kerap ia gunakan saat mengikuti ajang Model United Nations (MUN) selama aktif berkuliah.

Representasi Cita-cita Jadi Diplomat

Bagi Kevin, busana ini adalah representasi dari cita-citanya yang ingin dicapai setelah lulus dalam waktu 3 tahun 9 bulan di Unhas.

"Ini sebenarnya tema diplomasi. Jas ini selalu saya pakai selama MUN. Itu semua kurang lebih merefleksikan apa yang sebenarnya saya inginkan atau impikan setelah belajar selama 3 tahun 9 bulan di Unhas, yaitu menjadi diplomat," ujarnya.

"Menurut saya tema ini cocok karena diplomasi saat ini sangatlah dibutuhkan, baik di kehidupan kampus maupun setelahnya," papar Kevin. Untuk setelan jas, dasi, dan kemeja tersebut, ia menghabiskan anggaran sekitar Rp200 ribuan.

Lain lagi dengan Evan. Berbeda dengan dua rekannya yang memilih warna-warna formal konvensional, Evan berani melakukan eksplorasi visual dengan memadukan warna-warna kontras seperti biru muda, kuning, dan hitam.

Ia menjelaskan bahwa dasar dari busananya tetaplah formal, namun ia menambahkan sentuhan eksperimental (twist) agar penampilannya terlihat lebih unik dan menonjol (center piece).

Evan mengungkapkan bahwa inspirasi busananya tersebut didapatkan dari film-film bertema agen rahasia (spy movies) seperti James Bond, hingga tayangan anime.

Berbeda dengan rekan-rekannya, Evan rela merogoh kocek yang cukup dalam demi penampilannya di hari bahagia ini. "Untuk suit-nya (setelan dua potong) itu sekitar Rp3 juta. Terus kalau kemeja sama sepatunya, berada di kisaran Rp800 ribu," ungkap Evan.

Di akhir perbincangan, ketiganya kompak membagikan kesan dan pesan berharga bagi mahasiswa lain yang masih berjuang di bangku perkuliahan.

Evan mengakui bahwa dunia perkuliahan penuh dengan tantangan akademis (hardship) dan potensi mengalami gegar budaya (culture shock) saat transisi dari SMA ke perguruan tinggi.

Namun, ia menekankan bahwa dengan tekad untuk terus melangkah (push), semua tantangan tersebut pasti bisa dilewati.

Melengkapi hal tersebut, Kevin menambahkan pesan penting mengenai pentingnya konsistensi dalam mengejar minat dan impian selama berkuliah.

"Usaha itu sudah pasti penting sekali. Namun, bagian paling penting dalam kehidupan kampus atau studi apa pun adalah passion yang harus kalian ikuti," ujarnya.

"Pursue your passions and interests, however difficult it is and however ridiculous it may be. Sebagaimana anehnya pun passion itu, pasti akan menjadi bahan motivasi atau bahkan batu loncatan untuk bekerja di masa depan nanti," pungkas Kevin menutup perbincangan.

(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)