Sport

Eberechi Eze Menyala, Bawa Arsenal Menjaga Peluang Raih Empat Trofi Juara

Gelandang serang Arsenal Eberechi Eze mencetak gol spektakuler ke gawang Leverkusen untuk membawa Arsenal ke perempatfinal, Rabu (18/3/2026) dini hari. (The Sun/Getty)

LONDON, UNHAS.TV - Arsenal menjaga musimnya tetap utuh. Di Emirates Stadium, Rabu (17/3/2026) dini hari, skuat asuhan Mikel Arteta menyingkirkan Bayer Leverkusen 2-0 untuk melangkah ke perempat final Liga Champions dengan agregat 3-1.

Hasil itu bukan sekadar tiket ke delapan besar, melainkan juga perpanjangan napas bagi kemungkinan yang belakangan makin sering dibisikkan di London utara dengan empat trofi dalam semusim.

Di perempat final, Arsenal akan menghadapi Sporting, yang lolos setelah membalikkan defisit dengan kemenangan 5-0 atas Bodø/Glimt.

Kemenangan itu terasa penting karena datang dengan cara yang meyakinkan. Arsenal, yang sepanjang musim ini kerap dicap terlalu efisien dan kurang memesona, justru tampil lepas.

Mereka melepaskan 21 percobaan, menekan sejak awal, dan nyaris membuat laga berakhir jauh lebih cepat seandainya kiper Leverkusen, Janis Blaswich, tidak tampil cemerlang pada setengah jam pertama.

Malam itu Arsenal tampak seperti tim yang tahu kapan harus hemat tenaga, tetapi juga paham kapan mesti menginjak pedal.

Kebuntuan pecah pada menit ke-37, dan caranya cukup untuk membuat stadion terdiam sepersekian detik sebelum meledak. Eberechi Eze menerima umpan Leandro Trossard di depan kotak penalti dengan punggung menghadap gawang.

Satu sentuhan untuk menata, satu putaran tubuh, lalu sepakan kaki kanan yang melesat deras ke sudut atas gawang.

Itulah gol pertama Eze di Liga Champions—dan barangkali yang paling tepat waktunya sejak ia datang dari Crystal Palace.

Seusai laga, ia mengaku bahkan tak yakin bisa membayangkan dirinya mencetak gol seperti itu. “Gol ini spesial,” kata Eze, “dan saya akan mengingatnya lama.”

Gol itu sekaligus memantulkan satu hal lain, Trossard memberi warna berbeda pada serangan Arsenal. Ia tak hanya menjadi penyedia assist, tetapi juga terus berpindah ruang, ikut menghubungkan serangan, dan berkali-kali memaksa Blaswich bekerja keras.

Reuters mencatat kiper Leverkusen itu dua kali menggagalkan peluang Trossard, sementara Bukayo Saka dan Gabriel juga ikut mengancam ketika Arsenal menggempur dari segala arah.

Turunkan Formasi Terkuat

Arteta, meski menatap final Piala Liga melawan Manchester City pada akhir pekan, tetap menurunkan susunan yang kuat.

Ia tampaknya tak mau menyisakan ruang bagi keraguan, terlebih setelah leg pertama di Jerman berakhir 1-1 dan sempat membuat duel ini terasa agak canggung.

Leverkusen sempat mencoba bangkit selepas jeda. Mereka menaikkan tempo, lebih berani menguasai bola, dan mulai masuk ke sepertiga akhir lapangan Arsenal. Namun tekanan itu tidak pernah benar-benar berubah menjadi ancaman serius.

Arsenal justru yang kembali memukul. Pada menit ke-63, bola sapuan buruk lini belakang Leverkusen jatuh ke jalur Declan Rice. Gelandang Inggris itu menyambarnya, membawa bola maju sejenak, lalu mengirim sepakan rendah presisi ke sudut bawah gawang.

Skor 2-0 praktis mematikan pertandingan. Satu-satunya momen yang sempat menegangkan publik tuan rumah datang menjelang akhir, saat David Raya harus meregang penuh untuk menepis peluang Christian Kofane.



Statistik Laga Arsenal vs Bayer Leverkusen. (The Sun)


Hasil ini membuat narasi besar di sekitar Arsenal sulit diabaikan. Mereka kini memimpin Liga Primer dengan selisih sembilan poin, masih bertahan di Piala FA, akan memainkan final Piala Liga melawan Manchester City pada Ahad mendatang, dan kini menapak ke delapan besar Eropa.

Pekan lalu, mereka bahkan harus menunggu penalti Kai Havertz pada menit ke-89 untuk pulang dari Jerman dengan skor 1-1.

Tapi tampil di kandang sendiri, Arsenal menunjukkan wajah yang lebih tegas yakni tak tergesa, tak panik, dan cukup matang untuk merampungkan pekerjaan ketika kesempatan datang.

Mulai Menemukan Irama

Arteta, yang selama beberapa musim membangun Arsenal dari tim yang mudah goyah menjadi tim yang terbiasa menang, tampak menikmati bagaimana anak asuhnya menutup laga.

Ia menyebut timnya membutuhkan “momen magis” dari Eze untuk membuka jalan. Dalam penjelasannya selepas pertandingan, ia juga mengatakan pemain itu kini sedang menemukan irama, bermain reguler setiap tiga hari, dan mulai membangun pemahaman yang lebih baik dengan rekan-rekannya.

Arteta tahu, pada fase seperti ini, pertandingan besar kerap diputuskan bukan oleh dominasi semata, melainkan oleh satu tindakan yang tak bisa direncanakan secara rinci. Eze memberinya itu.

Bagi Eze sendiri, momen itu terasa seperti penegasan bahwa ia mulai tiba pada saat yang tepat. Membawa perubahan bagi Arsenal.

Reuters mencatat gelandang serang Inggris berusia 27 tahun itu sempat lebih sering menjadi pemain cadangan dan baru sesekali menunjukkan potensi penuhnya sejak bergabung dari Palace dengan nilai transfer sekitar 60 juta pound sterling.

Namun musim semi tampaknya datang bersamaan dengan versi terbaiknya. Declan Rice bahkan menggambarkan kualitas tembakan Eze dengan sederhana, “menakutkan”.

Penilaian itu terdengar wajar. Tak banyak pemain yang bisa mengubah pertandingan ketat menjadi terasa ringan hanya dengan satu putaran tubuh dan satu sepakan.

Momentum itulah yang kini dibawa Arsenal menuju dua simpang besar, pertama melawan Sporting Lisbon di Liga Champions dan Manchester City di final Piala Liga.

Satu laga membuka jalan mereka ke babak empat besar Eropa. Satu laga lain bisa memberi trofi pertama sejak tahun 2020.

Pada malam ketika Manchester City tersingkir oleh Real Madrid dan Chelsea dibantai Paris Saint-Germain, kemenangan Arsenal atas Leverkusen juga membuat mereka menjadi satu-satunya wakil Inggris yang tersisa di perempat final.

Untuk klub yang bertahun-tahun hidup di antara ekspektasi dan keraguan, detail itu terasa simbolik. Arsenal kini tak lagi sekadar ikut bersaing. Mereka sedang menagih musim yang mungkin paling penting dalam era Arteta. (*)